Sikap Rusia atas Penarikan Pasukan AS dari Suriah
-
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov
Statemen Presiden AS, Donald Trump mengumumkan penarikan pasukan AS dari Suriah pada 19 Desember lalu memicu reaksi dari berbagai kalangan internal AS dan luar negeri. Dari luar, Rusia sebagai pendukung Suriah menilai pernyataan presiden AS tersebut menimbulkan tanda tanya besar.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov meragukan komitmen AS merealisasikan janjinya untuk keluar dari Suriah. Sergei Lavrov Jumat (28/12) mengatakan, sampai saat ini belum jelas apa rencana dan program Washington pasca keputusannya menarik militernya dari Suriah. Menurut Lavrov, AS selama ini tidak serius menumpas teroris, dan kini ingin melimpahkan biaya operasional militernya di Suriah kepada sekutu regionalnya.
Keputusan AS ini sebenarnya sudah bisa ditebak. Menlu Rusia menilai AS sejak jauh hari sebelumnya sudah berniat untuk keluar dari pangkalan militer Al-Tanf dan Washington secara sepihak melakukan pembatasan keamanan di kawasan. Tapi, AS berulangkali membatalkan rencana tersebut, dan kini mewujudkannya.
Rusia memandang aksi penumpasan terorisme yang dilakukan di Suriah harus bertujuan untuk mengembalikan wilayah dan kedaulatan negara ini yang dikuasai kelompok teroris kepada Suriah. Tapi aksi koalisi internasional anti-Daesh yang dipimpin AS bertujuan sebaliknya, untuk memecah belah Suriah dan merongrong kedaulatan negara Arab itu.
Dengan cara pandang yang berseberangan tersebut, Moskow meyakini seluruh wilayah Suriah harus dikembalikan kepada pemerintah Suriah demi menjaga kedaulatan wilayahnya. Tapi AS dan sekutunya justru menyerahkan wilayah utara dan timur laut Suriah kepada kelompok lain yang didukung negara tertentu.
Pengumuman penarikan pasukan AS oleh Trump dipandang Moskow sebagai strategi baru untuk mengelola konflik dengan melimpahkan masalah kepada pihak lain.
Indikasi tersebut mulai tampak dalam statemen Donald Trump di hadapan tentara AS di pangkalan militer Ayn Al Asad, Al-Anbar baru-baru ini.
Trump Rabu (26/12) mengatakan, "Keluarnya pasukan AS dari Suriah tidak berarti Washington akan mengakhiri intervensinya di negara ini,".
Secara lebih tegas, Trump menjelaskan, "Jika ingin melancarkan operasi di Suriah, mungkin akan dilakukan melalui Irak sebagai pangkalannya,".
Tampaknya, Rusia sudah menduga apa yang sedang dirancang oleh Trump dengan keputusan barunya itu.(PH)