Mengapa Protes Rompi Kuning di Perancis Berlanjut ?
-
Protes rompi kuning
Aksi protes rompi kuning di Perancis terus berlanjut. Padahal Presiden Emmanuel Macron sudah berjanji akan mengambil kebijakan mendasar untuk meredakan situasi di negara ini.
Para demonstran rompi kuning hari Sabtu (5/1/2019) berhasil memasuki halaman kantor walikota Paris untuk menyuarakan tuntutannya. Mereka menyampaikan ketidakpuasannya terhadap kondisi ekonomi dan politik Perancis.
Segala bentuk upaya negosiasi dari pihak pemerintah ditolak oleh kubu rompi kuning. Gelombang protes yang meletus sejak pertengahan November 2018 lalu tersebut terus mengalir deras dan nyaris tidak bisa dibendung oleh pemerintah Perancis.
Aksi protes terhadap kebijakan ekonomi ini berubah menjadi tuntutan politik. Turunnya tingkat kesejahteraan masyarakat, meningkatnya kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang menganga, menjadi masalah paling utama diangkat para demonstran.
Sebagian dari para pengunjuk rasa menilai kebijakan Macron sebagai pemicu timbulnya berbagai masalah ekonomi dan sosial di Perancis. Oleh karena itu salah satu tuntutan utama pihak pemrotes adalah turunnya Macron.
Berlanjutnya banjir protes ini memicu kekhawatiran dari pemerintah Perancis. Bahkan Jubir pemerintah Perancis, Benjamin Griveaux menilai para demonstran berupaya untuk melakukan kudeta. Ia juga menyebut para pengunjuk rasa melakukan "kekerasan ekstrem" dan "menyerang Republik".
Para demonstran meyakini janji Macron tidak akan dijalankan. Macron dalam pidato menyambut tahun baru 2019 berjanji akan mewujudkan janjinya. tapi jajak pendapat terbaru yang dipublikasikan tanggal 2 Januari menunjukkan separuh dari rakyat Perancis tidak percaya pemerintahan Macron akan mewujudkan janji-janjinya.
Oleh karena itu, para demonstran rompi kuning menyatakan akan terus melanjutkan aksinya. Pada saat yang sama polisi semakin agresif menyerang para pengunjuk rasa dengan menggunakan cara-cara represif untuk mengendalikan situasi keamanan di negara ini.
Kini Perancis menghadapi krisis serius. Kebijakan reformasi ekonomi Macron tidak hanya menyulut kemarahan sebagian rakyat Perancis, tapi lebih dari itu menyebabkan tumbuhnya kebencian yang terus menjalar.
Sejatinya, sepanjang masalah ketidakpercayaan terhadap penguasa Perancis ini tidak bisa diselesaikan, maka gelombang protes akan terus berlanjut. Inilah pekerjaan rumah besar bagi Perancis saat ini.(PH)