Kudeta Militer Gagal di Venezuela
-
Pasukan Garda Nasional Venezuela
Dua minggu sejak dilantiknya kembali Nicolas Maduro sebagai presiden Venezuela, upaya kubu oposisi untuk menggulingkan pemerintahan negara itu terus berlanjut. Hari Senin (21/1/2019) oposisi kembali mencoba melancarkan aksi kudeta untuk menjatuhkan Maduro dan merebut kekuasaan, namun upaya ini digagalkan aparat keamanan.
Aksi kudeta itu dilakukan oleh sejumlah personel keamanan yang dipimpin komandan polisi Macarao, Gerson Soto Martinez. Mereka memuat video di media sosial yang memperlihatkan kerusuhan dan provokasi oknum polisi kepada masyarakat untuk menggulingkan pemerintahan Venezuela. Akan tetapi setelah menyerang dan mengancam membunuh aparat keamanan, para pengkudeta tidak berhasil meraih tujuan dan akhirnya menyerah kepada aparat keamanan.
Ketegangan politik di Venezuela dalam beberapa pekan terakhir mengalami peningkatan, meski mayoritas masyarakat negara itu kembali menjatuhkan pilihannya pada Nicolas Maduro sebagai presiden pada pemilu presiden terbaru, tapi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya tidak mengakui hasil pemilu, bahkan beberapa pejabat Gedung Putih dan sekutu regionalnya terang-terangan mendukung Ketua Parlemen Venezuela, Juan Guaido untuk menumbangkan pemeirntahan Maduro.
Juan Guaido yang baru saja terpilih sebagai ketua parlemen Venezuela termasuk bagian dari kubu oposisi pemerintah. Beberapa waktu lalu Guaido mengumumkan terpilihnya kembali Maduro sebagai presiden Venezuela tidak sah dan ia meminta angkatan bersenjata negara itu untuk membantu menegakkan demokrasi dan membentuk pemerintahan transisi.
Langkah Guaido melawan pemerintahan Maduro menyebabkan Mahkamah Agung Venezuela pada 21 Januari 2019 mengumumkan bahwa Dewan Nasional negara itu tidak konstitusional. Ketua Mahkamah Agung Venezuela, Juan Jose Mendoza mengatakan, Dewan Nasional yang menuntut pemakzulan Maduro, inskonstitusional dan keputusannya tidak sah.
Ketegangan internal di Venezuela baru-baru ini jelas sesuai dengan harapan Amerika yang selama bertahun-tahun berusaha menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro. Pada kenyataannya yang membangkitkan kemarahan Washington dan sekutunya atas pemerintahan Maduro di Venezuela adalah independensi dan sikap anti-penjajahan yang diwariskan presiden sebelumnya, Hugo Chavez yang semangatnya terus membara sampai sekarang.
Seluruh tekanan, perlawanan rakyat Venezuela dan pilihan mereka yang kembali jatuh pada Maduro di periode kedua pemeirntahannya menyebabkan Amerika dan sekutunya harus memulai putaran tekanan dan upaya penggulingan pemerintah Maduro. Departemen Keuangan Amerika baru-baru ini juga menambah sanksi atas Venezuela, dan Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo menuduh Maduro telah merampok kekuasaan di negaranya.
Dalam beberapa pekan terakhir ketegangan politik dan konflik yang dilancarkan kubu oposisi terhadap Maduro meningkat, namun Presiden Venezuela menegaskan, dengan penderitaan yang kita rasakan di dalam jiwa kita, kita terpaksa mengambil tindakan keras agar integritas teritorial dan kedaulatan negara ini bisa kita pertahankan. (HS)