Upaya Kudeta di Venezuela
https://parstoday.ir/id/news/world-i69710-upaya_kudeta_di_venezuela
Dua minggu sejak dilantiknya kembali Nicolas Maduro sebagai presiden Venezuela, upaya kubu oposisi untuk menggulingkan pemerintahan negara itu terus berlanjut. Hari Senin, 21 Januari 2019, oposisi kembali mencoba melancarkan aksi kudeta untuk menjatuhkan Maduro dan merebut kekuasaan, namun upaya ini digagalkan aparat keamanan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
May 01, 2019 15:23 Asia/Jakarta

Dua minggu sejak dilantiknya kembali Nicolas Maduro sebagai presiden Venezuela, upaya kubu oposisi untuk menggulingkan pemerintahan negara itu terus berlanjut. Hari Senin, 21 Januari 2019, oposisi kembali mencoba melancarkan aksi kudeta untuk menjatuhkan Maduro dan merebut kekuasaan, namun upaya ini digagalkan aparat keamanan.

Aksi kudeta itu dilakukan oleh sejumlah personel keamanan yang dipimpin komandan polisi Macarao, Gerson Soto Martinez. Mereka memuat video di media sosial yang memperlihatkan kerusuhan dan provokasi oknum polisi kepada masyarakat untuk menggulingkan pemerintahan Venezuela. Akan tetapi setelah menyerang dan mengancam membunuh aparat keamanan, para pengkudeta tidak berhasil meraih tujuan dan akhirnya menyerah kepada aparat keamanan.

Pemimpin Oposisi Juan Guaido dalam pesan videonya pada hari Selasa (30/4/2019) kembali meminta pendukung dan Angkatan Bersenjata Venezuela melancarkan kudeta bersenjata terhadap Nicolas Maduro. Namun seruan tersebut tidak mendapat respon dari militer Venezuela dan kudeta kecil Guaido dan pendukungnya gagal.

Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza kepada Reuters mengatakan, kudeta gagal pada hari Selasa dirancang langsung di Amerika Serikat.

Dia menambahkan, hanya sekitar 30 tentara yang terprovokasi Guaido dan terlibat dalam kudeta gagal tersebut, di mana kudeta ini merupakan fase lain dari upaya AS untuk menggulingkan Nicolas Maduro.

"Kudeta kecil ini diorganisir oleh Penasihat Keamanan Nasional AS (John Bolton)," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López mengatakan, Angkatan Bersenjata Venezuela membela tegas konstitusi dan pemerintah legal negara ini.

Selama beberapa bulan terakhir, AS dan sekutunya berusaha memaksa militer Venezuela menghentikan dukungannya kepada pemerintahan Maduro melalui peningkatan sanksi dan tekanan terhadap militer negara ini. Namun hingga saat ini seluruh rencana Washington untuk membentuk pemerintahan bonekanya di Venezuela gagal.

Guaido pada tanggal 23 Januari 2019 dengan dukungan nyata AS dan sekutunya, mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Venezuela. Langkah ini dinilai rakyat dan pemerintah Venezuela sebagai kudeta terhadap Maduro, presiden pilihan rakyat.

Ketegangan politik di Venezuela mengalami peningkatan meski mayoritas masyarakat negara itu kembali menjatuhkan pilihann mereka pada Nicolas Maduro sebagai presiden pada pemilu presiden terbaru.

AS dan sekutu-sekutunya tidak mengakui hasil pemilu, bahkan beberapa pejabat Gedung Putih dan sekutu regionalnya terang-terangan mendukung Guaido untuk menumbangkan pemerintahan Maduro.

Ketegangan internal di Venezuela jelas sesuai dengan harapan Amerika yang selama bertahun-tahun berusaha menggulingkan pemerintahan Maduro. Pada kenyataannya yang membangkitkan kemarahan Washington dan sekutunya atas pemerintahan Maduro di Venezuela adalah independensi dan sikap anti-penjajahan yang diwariskan presiden sebelumnya, Hugo Chavez yang semangatnya terus membara sampai sekarang.

Seluruh tekanan, perlawanan rakyat Venezuela dan pilihan mereka yang kembali jatuh pada Maduro di periode kedua pemerintahannya menyebabkan Amerika dan sekutunya harus memulai putaran tekanan dan upaya penggulingan pemerintah Maduro. Departemen Keuangan Amerika baru-baru ini juga menambah sanksi atas Venezuela, dan Menlu AS Mike Pompeo menuduh Maduro telah merampok kekuasaan di negaranya.

Dalam beberapa pekan terakhir ketegangan politik dan konflik yang dilancarkan kubu oposisi terhadap Maduro meningkat, namun Presiden Venezuela ini menegaskan, dengan penderitaan yang kita rasakan di dalam jiwa kita, kita terpaksa mengambil tindakan keras agar integritas teritorial dan kedaulatan negara ini bisa kita pertahankan. (RA)