Sikap Agresif AS terhadap Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i700-sikap_agresif_as_terhadap_rusia
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI), James Clapper menyebut Rusia sebagai ancaman potensial terbesar bagi keamanan AS. Dalam statemennya pada hari Sabtu (6/2/2016), Clapper mengatakan Rusia sedang tidak merencanakan serangan ke AS, tapi negara itu merupakan ancaman terbesar bagi Washington.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 07, 2016 11:06 Asia/Jakarta
  • Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI), James Clapper
    Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI), James Clapper

Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI), James Clapper menyebut Rusia sebagai ancaman potensial terbesar bagi keamanan AS. Dalam statemennya pada hari Sabtu (6/2/2016), Clapper mengatakan Rusia sedang tidak merencanakan serangan ke AS, tapi negara itu merupakan ancaman terbesar bagi Washington.

Menurutnya, masalah itu didasari pada kemampuan nuklir Rusia. Gedung Putih mengkhawatirkan langkah-langkah Kremlin dalam memodernisasi kemampuan militer dan angkatan bersenjata negara itu.

Clapper melontarkan klaimnya ketika Susan Rice, penasehat keamanan nasional AS pada Jumat lalu, menyerukan pembicaraan baru nuklir dengan Rusia.

Komentar Clapper merupakan indikasi dari ketegangan hubungan kedua negara dan kecurigaan AS terhadap Rusia. Pertikaian Washington dan Moskow semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir, termasuk perang psikologis para pejabat AS terhadap Presiden Vladimir Putin.

Babak baru permusuhan kedua negara dimulai sejak pecahnya krisis Ukraina dan AS mengadopsi pendekatan konfrontatif terhadap Rusia, yang mencakup berbagai pembatasan dan pemberian bantuan kepada sekutu-sekutunya di Eropa untuk menekan Moskow. Pembatasan itu menyasar bidang politik, ekonomi, perdagangan, dan militer.

Demi meningkatkan tekanan terhadap Rusia, pemerintah AS – sebagai pemimpin NATO – menambah anggaran militernya untuk memperkuat kehadirannya di benua Eropa. Langkah itu mendapat respon negatif dari Rusia dan menambah kecurigaan negara itu terhadap kehadiran militer AS di Eropa.

Pasca krisis Ukraina dan menguatnya kehadiran militer NATO di Eropa Timur, AS bersama sekutunya di Eropa memilih memperkuat keterlibatan militernya di Eropa Timur dan Laut Hitam. Washington beralasan ingin melawan apa yang disebut “sikap agresif” Moskow di wilayah lain seperti Eropa Timur.

AS juga mengambil sikap bermusuhan terhadap Rusia di bidang militer dan dalam dokumen strategi militer nasional 2015, Washington dan para pejabat negara itu senantiasa menyebut Rusia sebagai ancaman serius terhadap keamanan AS dan sekutunya.

Selain itu, AS juga megadopsi langkah-langkah lain seperti program penambahan anggaran militer hingga empat kali lipat untuk kehadiran di Eropa dan melancarkan perang propaganda besar-besaran dengan tujuan merusak citra Rusia pada tingkat regional dan internasional.

Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Mark Milley bahkan menyebut Rusia menjalankan kebijakan "agresif" dan "bermusuhan” terhadap kepentingan AS. Menurutnya, Rusia adalah satu-satunya negara di dunia dengan kemampuan nuklir untuk menghancurkan AS dan membuatnya menjadi ancaman potensial.

Dalam pandangan AS, wilayah Eropa menyediakan ruang yang tepat untuk melancarkan serangan propaganda dan politik terhadap Rusia. Namun, sambutan NATO atas kebijakan konfrontatif itu berpotensi mempertajam ketegangan antara Barat dan Rusia.

James Clapper juga sedang melakukan serangan verbal terhadap Rusia dan ingin mengesankan negara itu sebagai sebuah ancaman. (IRIB Indonesia/RM)