Mencermati Kritik Rusia Soal Permintaan AS untuk Memperpanjang Sanksi Senjata Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i73251-mencermati_kritik_rusia_soal_permintaan_as_untuk_memperpanjang_sanksi_senjata_iran
Sesuai dengan kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), embargo senjata Iran akan berakhir pada 18 Oktober 2020. Namun, Amerika Serikat yang menarik diri dari kesepakatan nuklir ini pada Mei 2018, telah mengumumkan penentangan kerasnya terkait masalah ini. Namun sikap Washington ini justru menuai kritik dari Moskow.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Aug 27, 2019 16:06 Asia/Jakarta
  • Rudal Iran
    Rudal Iran

Sesuai dengan kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), embargo senjata Iran akan berakhir pada 18 Oktober 2020. Namun, Amerika Serikat yang menarik diri dari kesepakatan nuklir ini pada Mei 2018, telah mengumumkan penentangan kerasnya terkait masalah ini. Namun sikap Washington ini justru menuai kritik dari Moskow.

Dalam hal ini, Mikhail Ulyanov, Wakil Tetap Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengritik permintaan Amerika Serikat untuk memperpanjang embargo senjata Iran. Ulyanov tentang perpanjangan embargo senjata Iran mengatakan, "Permintaan seperti itu dari Amerika mengindikasikan bahwa Amerika Serikat sebenarnya hanya berusaha untuk melemahkan dan menghancurkan perjanjian nuklir dengan Iran (JCPOA). Dengan demikian, jangan memperhatikan permintaan seperti itu dan menganggapnya serius."

Mikhail Ulyanov, Wakil Tetap Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB

Wakil Tetap Moskow di PBB menambahkan, "Berdasarkan JCPOA dan resolusi Dewan Keamanan PBB, embargo senjata terhadap Iran akan berakhir pada bulan Oktober 2020. Karenanya, tidak ada alasan untuk meninjau kembali atas keputusan ini."

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah memperingatkan setidaknya dua kali dalam beberapa minggu terakhir. Pertama kalinya, Pompeo mempublikasikan tweetnya pada 12 Agustus yang isinya memperingatkan konsekuensi dari mengakhiri embargo lima tahun senjata Iran. Pompeo menekankan dalam tweet-nya bahwa waktu hampir habis dan tidak ada banyak waktu yang tersisa bagi Dewan Keamanan untuk mengakhiri embargo senjata di Republik Islam Iran.

Menteri luar negeri AS dalam tweet ini menunjuk pada pencabutan larangan kunjungan Qasem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran dan memperingatkan konsekuensinya. Menlu AS juga meminta masyarakat internasional untuk memperpanjang pembatasan ini pada pertemuan Dewan Keamanan PBB Rabu lalu dan mencatat bahwa batas waktu untuk mencabut sanksi senjata PBB terhadap Iran dan mencabut larangan perjalanan Qasem Soleimani pada bulan Oktober 2020.

Pompeo menekankan bahwa akhir dari sanksi senjata Iran akan memungkinkannya untuk meraih persenjataan. Pompeo Menlu AS mengklaim, "Penjualan senjata ke Iran oleh Cina dan Rusia dapat menyebabkan ketidakstabilan lebih lanjut di wilayah tersebut."

Klaim Pompeo yang luar biasa itu muncul ketika Amerika Serikat adalah pedagang senjata terbesar di kawasan Asia Barat dan telah menjual puluhan miliar dolar dalam beberapa tahun terakhir ke negara-negara di sekitar selatan Teluk Persia. Hanya dari satu perjalanan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke Arab Saudi pada bulan Mei 2017, telah ditandatangani kontrak penjualan senjata senilai 110 miliar dolar dengan rezim Saudi. Hal ini membuat Trump menyebut Arab Saudi sebagai sapi perah yang harus terus diperah sampai akhir.

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran menyinggung penjualan senjata besar-besaran Amerika Serikat ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab seraya mengatakan, "Kebijakan Amerika mengancam stabilitas dan perdamaian di kawasan. Amerika telah mengubah kawasan itu menjadi "tong mesiu".

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Sementara itu, akibat sanksi luas yang diterapkan, Republik Islam Iran selama bertahun-tahun tidak membeli senjata utama yang dilarang di bawah resolusi PBB dan hanya mengandalkan kemampuan dan potensi internal. Dengan begitu, Iran telah mengambil langkah besar dalam merancang dan membuat berbagai peralatan darat, laut dan udara, rudal dan peralatan elektronik serta sensor dan bahkan mengekspor beberapa senjata.

Setelah terjadi kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang melarang penjualan senjata ke Iran selama lima tahun. Sekalipun demikian, dengan semakin mendekati berakhirnya sanksi senjata terhadap Iran, pemerintah Trump memprovokasi negara-negara lain dengan harapan itu dapat membuka jalan bagi perpanjangan embargo senjata Iran.

Pada saat yang sama, tujuan Washington adalah untuk mencoba melemahkan dan pada akhirnya menghapuskan perjanjian nuklir JCPOA dengan Iran yang bertujuan untuk menciptakan konsensus internasional terhadap Iran. Namun, sejauh ini tidak ada anggota kelompok 4 + 1 yang memprotes pencabutan embargo senjata Iran dan justru menganggap protes itu sebagai kekhawatiran AS yang tidak dapat dibenarkan.