Amerika Tinjauan dari Dalam, 28 September 2019
https://parstoday.ir/id/news/world-i74174-amerika_tinjauan_dari_dalam_28_september_2019
Amerika Tinjauan dari Dalam kita pekan ini akan menyoroti sejumlah transformasi di Amerika selama sepekan terakhir, di antaranya Ketika Trump Berbicara Melawan Dunia di PBB dan Upaya Pemakzulan Trump Lewat DPR AS.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 28, 2019 11:57 Asia/Jakarta
  • Donald Trump, Presiden Amerika Serikat
    Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Amerika Tinjauan dari Dalam kita pekan ini akan menyoroti sejumlah transformasi di Amerika selama sepekan terakhir, di antaranya Ketika Trump Berbicara Melawan Dunia di PBB dan Upaya Pemakzulan Trump Lewat DPR AS.

Selain itu, pekan lalu DPR AS Menentang Pengiriman Pasukan AS ke Saudi dan terakhir kenaikan angka bunuh diri tentara aktif AS.

Ketika Trump Berbicara Melawan Dunia di PBB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak berkuasa di negara ini condong terhadap pendekatan dan kebijakan unilateralisme dalam menyikapi isu-isu global. Trump dengan slogan America First menekankan pengabaian terhadap dunia.

Trump di sikap terbarunya terkait isu regional Selasa pekan lalu saat menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB kembali mengulang pendekatan nasionalisnya dan ia menekankan penentangannya terhadap globalisasi. Ia juga mengkritik dan memperingatkan sekutu dan rival Amerika. Sejatinya pidato tahunan Trump cenderung fokus pada tiga isu, Iran, Cina dan nasionalisme ketimbang isu-isu lainnya.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Trump di bagian pertama pidatonya fokus pada nasionalisme yang tercermin dalam slogan Amerika First. Dan menurut anggapannya ia membela ide ini. Trump mengatakan, "Masa depan bukan milik universalisme, tapi milik patriotis. Masa depan milik bangsa-bangsa independen dan memiliki hak kedaulatan yang membela rakyatnya, menghormati tetangganya dan bangga dengan perbedaan yang membuat setiap negara istimewa. Oleh karena itu, kami di Amerika tengah menjalankan program unik "kebangkitan nasional"."

Trump di pidatonya kembali mengingatkan isu ketidakadilan saham dan iuran di masalah pertahanan oleh mitra Amerika. Ia juga mengingatkan pentingnya mengubah proses perdagangan internasional saat ini. Trump mengatakan, "Seluruh mitra kami harus membayar saham secara adilnya terkait beban berat pertahanan. Beban yang mayoritasnya ditanggung Amerika. Di garis depan rencana kami untuk revitalisasi nasional adalah kampanye ambisius untuk mereformasi perdagangan internasional. Selama beberapa dekade sistem perdagangan internasional dengan mudah disalahgunakan oleh negara-negara yang memiliki pendekatan buruk."

Berdasarkan ide ini, Trump menempatkan konfrontasi dan perang dagang dengan seluruh ekonomi global di agenda kerjanya. Meski demikian klaim Trump terkait perdagangan internasional yang tidak adil dan merugikan Amerikab ukan saja ditolak oleh mitra dan rival dagang Washington khususnya Uni Eropa dan Cina, bahkan organisasi finansial dan perdagangan seperti IMF dan WTO berulang kali memperingatkan dampak berbahaya kebijakan dan langkah proteksionisme Trump di sektor perdagangan dan berlanjutnya pendekatan ini membuat penurunan laju ekonomi global dan meletusnya perang dagang. Masalah ini termanifestasikan di perang dagang AS dan Cina

Upaya DPR AS Memakzulkan Trump

Dewan Perwakilan Amerika Serikat akan memulai proses pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump. Rencana ini muncul setelah Trump diduga menyalahgunakan wewenang untuk menghalangi bakal calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden.  Trump disebut meminta Ukraina menyelidiki dugaan korupsi putra Joe Biden , Hunter Biden, yang diduga dibuat-buat.

Donald Trump dan Nancy Pelosi

Usul penyelidikan untuk memakzulkan Trump disetujui Dewan Perwakilan pada Selasa (24/9) kemarin setelah melalui proses pemungutan suara. Sebanyak 170 dari 235 anggota DPR AS mendukung upaya pemakzulan terhadap Trump.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi, dari Partai Demokrat, mengumumkan dimulainya penyelidikan pemakzulan pada Selasa (24/9) waktu setempat. Pelosi menegaskan 'tidak ada satupun yang di atas hukum'.

Trump Setuju Kirim Pasukan dan Senjata ke Arab Saudi

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengeluarkan pernyataan Kamis lalu dan mengumumkan bahwa Washington akan mengerahkan pasukan dan peralatan militer mencakup 200 pasukan militer, sistem pertahanan rudal Patriot dan empat sistem radar Sentinel untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi. Pentagon juga sedang mempersiapkan peralatan tambahan yang akan dikerahkan ke Arab Saudi untuk membuat mereka waspada sesegera mungkin jika terjadi krisis.

Kemenhan AS juga telah mempersiapkan dua sistem anti-rudal Patriot dan satu sistem anti-rudal THAAD untuk segera dikerahkan ke Arab Saudi jika diperlukan. Para pejabat AS juga menyatakan harapan bahwa sekutunya juga akan membantu meningkatkan kemampuan pertahanan Arab Saudi di masa depan.

Sistem anti-rudal Patriot

Juru Bicara Pentagon, Jonathan Hoffman, mengutip strategi AS dalam mendukung sekutu regional Washington sebagai pembenaran untuk mengirim pasukan dan peralatan militer ke Arab Saudi. Hoffman mengingatkan, "Tindakan ini mencerminkan komitmen kami kepada mitra regional kami dan prioritas kami untuk memastikan stabilitas dan keamanan di Asia Barat."

Sementara Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi menganggap keputusan Trump untuk mengirim pasukan tambahan ke Arab Saudi dan mempercepat pengiriman peralatan militer ke negara itu dan Uni Emirat Arab (UEA), sebagai tindakan gegabah.

"Keputusan Presiden Trump untuk mempercepat pengiriman peralatan militer ke Saudi dan UEA, serta mengerahkan pasukan tambahan ke kawasan adalah sebuah upaya terbaru pemerintah untuk melangkahi DPR dan Senat, dan merugikan kepentingan AS," kata Pelosi dalam sebuah statemen Sabtu pekan lalu.

"Musim panas ini, DPR dan Senat mengeluarkan resolusi untuk memblokir penjualan senjata ke Saudi dan UEA, dan mengutuk Saudi karena serangan rutinnya terhadap warga Yaman, tetapi pemerintah mengabaikan resolusi itu," tambahnya.

Pelosi menegaskan bahwa orang-orang Amerika sudah lelah dengan perang dan tidak tertarik untuk terlibat dalam konflik lain di Asia Barat (Timur Tengah).

Sementara itu, surat kabar Amerika Serikat memprotes keputusan Washington untuk mengirim pasukan ke Arab Saudi dan menulis, tidak ada alasan apapun untuk memperkuat perang sektarian Saudi dengan Iran, Yaman atau negara lain.

Washington Post menulis, Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman tidak pantas membahayakan nyawa tentara Amerika.

Koran Amerika itu menambahkan, sekarang dengan berbagai alasan, termasuk perilaku kurang perhitungan dan tidak rasional Presiden Amerika, apakah melindungi Saudi atau infrastruktur minyak negara itu, termasuk kepentingan vital Amerika. Apakah tentara atau pilot Amerika harus mengorbankan nyawa mereka untuk rezim Bin Salman.

Menurut Washington Post, melindungi minyak Saudi dapat menimbulkan masalah besar, dan tidak ada urgensi strategisnya bagi Amerika.

Angka Bunuh Diri Tentara Aktif AS Naik Signifikan

Tingkat bunuh diri di kalangan anggota dinas militer aktif di Amerika Serikat (AS) melonjak secara signifikan dalam lima tahun belakangan, menurut laporan Pentagon yang dirilis, Kamis.

Tentara Amerika Serikat tewas

Laporan tersebut muncul setelah tiga pelaut AS yang ditugaskan di kapal induk George H.W. Bush tewas akibat bunuh diri pekan lalu, insiden yang menurut Angkatan Laut terpisah dan tidak ada sangkut paut.

Laporan bunuh diri tahunan pertama Pentagon menyebutkan kematian akibat bunuh diri di kalangan anggota dinas aktif yakni 24,8 per 100.000 anggota dinas, naik dari hanya di bawah 20 per 100.000 anggota aktif pada 2013. Sepanjang 2018, 541 anggota dinas mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, menurut laporan, menambahkan cara yang paling banyak dilakukan dengan senjata api.

"Kita tidak bergerak ke arah yang benar," kata Elizabeth Van Winkle, pejabat yang menangani kasus tersebut di Pentagon.

Selama konferensi pers, Pentagon melakukan hal tak biasa dengan menasihati awak media tentang bagaimana meliput kasus bunuh diri, seperti tidak menyebutnya sebagai "masalah yang berkembang" atau "marak" karena tindakan itu dapat menular.

Gangguan psikologis dan bahkan masalah ekonomi semakin sering ditemukan di antara personel aktif dan para veteran Amerika dalam beberapa tahun terakhir.