Aksi Pengobaran Tensi AS di Teluk Persia dan Peringatan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i74419-aksi_pengobaran_tensi_as_di_teluk_persia_dan_peringatan_rusia
Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir melancarkan kebijakan represi maksimum terhadap Iran dan berupaya menjatuhkan sanksi tersulit kepada Tehran. Tak hanya itu, dengan dalih menjaga keamanan sekutunya di kawasan, Amerika menambahkan jumlah pasukannya di Teluk Persia. Meski demikian langkah tersebut memberikan hasil terbalik dan malah meningkatkan konfrontasi serta tensi di kawasan strategis ini.
(last modified 2026-02-15T14:16:23+00:00 )
Okt 05, 2019 21:05 Asia/Jakarta
  • Menlu Rusia Sergei Lavrov
    Menlu Rusia Sergei Lavrov

Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir melancarkan kebijakan represi maksimum terhadap Iran dan berupaya menjatuhkan sanksi tersulit kepada Tehran. Tak hanya itu, dengan dalih menjaga keamanan sekutunya di kawasan, Amerika menambahkan jumlah pasukannya di Teluk Persia. Meski demikian langkah tersebut memberikan hasil terbalik dan malah meningkatkan konfrontasi serta tensi di kawasan strategis ini.

Masalah ini memicu protes petinggi Rusia sebagai salah satu kekuatan internasional yang memiliki peran efektif di Asia Barat. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara yang isinya dipublikasikan Deplu Rusia mengatakan, kondisi kawasan Teluk Persia memasuki fase paling berbahaya dan potensi konfrontasi militer meningkat drastis akibat ulah berbahaya Amerika seperti keluar dari JCPOA dan langkah provokatif terhadap Iran.

Lavrov mengingatkan, kondisi berbahaya saat ini di Teluk Persia di banyak kasus adalah hasil dari keputusan Washington keluar secara sepihak dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA)  terkait program nuklir Iran yang didukung oleh resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Menurut perspektif Lavrov, kondisi seperti ini menciptakan kekhawatiran serius. Menurutnya kawasan berada dalam posisi berbahaya, konfrontasi bersenjata dan mengarah ke kehancuran. Hal ini dapat menimbulkan dampak tragedi bukan hanya bagi negara-negara Barat, tapi juga seluruh dunia.

Ini merupakan peringatan paling keras Rusia terkait langkah sepihak dan pengobaran tensi Amerika di salah satu kawasan strategis dunia, yakni Teluk Persia. Bukan hanya Rusia, tapi mayoritas anggota Kelompok 4+1 juga meyakini bahwa salah satu alasan mendasar kondisi saat ini di Teluk Persia adalah keputusan ilegal Presiden AS Donald Trump keluar dari JCPOA pada Mei 2018 dan aksi-aksi setelahnya khususnya sanksi minyak Iran dan upaya untuk membuat ekspor minyak Iran ke titik nol.

Wajar jika kondisi ini menuai respon dari Tehran dan Washington dengan dalih mendukung sekutunya di kawasan atas apa yang diklaim sebagai ancaman Iran, menambah jumlah pasukannya di Teluk Persia dan berencana membentuk koalisi maritim guna menjamin kebebasan navigasi di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Meski demikian kehadiran militer Amerika di kawasan ini untuk menjaga sekutunya tidak berguna dan tidak pula membuahkan hasil positif sekecil apapun. Contoh dari masalah ini adalah ketidakmampuan AS melindungi instalasi perusahaan minyak Arab Saudi Aramco dari serangan drone Yaman. Di sisi lain, Washington untuk menutupi kelemahannya ini menyebut Iran sebagai pelaku dari serangan tersebut.

Meski demikian tidak ada kekuatan di dunia termasuk Rusia dan Cina yang percaya atas klaim ini. Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan, tidak ada bukti untuk menunjuk Iran bertanggung jawab atas serangan ke instalasi dan kilang minyak Aramco.

Mengingat proses saat ini perilaku AS terhadap Iran dengan keluar dari JCPOA dan memperketat sanksi serta langkah provokatif di Teluk Persia, Moskow menuntut perubahan perilaku dan pendekatan Barat khususnya Amerika terhadap Iran sehingga terbuka peluang bagi stabilitas dan ketenangan di Teluk Persia.

Meski wacana dan sikap pemerintah Trump hanya fokus untuk meningkatkan represi terhadap Iran, dan Washington tanpa mengindahkan dampak negatif dari sikap serta perilakunya tetap menekankan pendekatan represi maksimum terhadap Iran untuk mencegah dan pada akhirnya memaksa Tehran mengikuti kehendaknya.

Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo Kamis (03/10) dalam wawancaranya mengatakan, strategi Washington adalah mencegah Iran mengakses kekayaannya.

Di sisi lain, pengalaman 40 tahun lalu menunjukkan bahwa Iran tidak pernah menyerah kepada represi Amerika dan setiap hari kemampuan dan pengaruh regionalnya semakin bertambah. (MF)