Bencana Baru Petualangan AS di Teluk Persia
Selama beberapa bulan terakhir Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia dengan dalih mempertahankan keamanan sekutu regionalnya demi mengejar kebijakan sanksi ketat terhadap Iran. Namun, tindakan Washington ini menyulut peningkatan konfrontasi dan ketegangan di kawasan.
Masalah Ini menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk dari Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara mengatakan, situasi di kawasan Teluk Persia telah memasuki fase berbahaya karena tindakan AS, termasuk akibat keputusannya keluar dari JCPOA padahal penjanjian ini didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB no.2231.
Lavrov memandang situasi Teluk Persia sekarang ini harus menjadi perhatian serius. Dalam pandangannya, kawasan Teluk persia saat ini berada di ambang konfrontasi bersenjata yang destruktif yang memiliki konsekuensi bencana tidak hanya bagi negara-negara Barat, tetapi juga seluruh dunia.
Statemen ini menjadi salah satu peringatan serius yang disampaikan Rusia tentang unilateralisme AS di salah satu kawasan strategis dunia, Teluk Persia. Tidak hanya Rusia, tetapi anggota kelompok 4 + 1 lainnya juga percaya bahwa salah satu alasan utama peningkatan tensi ketegangan di Teluk Persia adalah keputusan ilegal Presiden AS Donald Trump yang menarik keluar AS dari JCPOA pada Mei 2018 dan langkah-langkah selanjutnya, terutama embargo minyak Iran.
Situasi seperti itu secara natural memicu reaksi Tehran. Persoalannya, Washington justru meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia yang semakin memperkeruh keadaan.
AS mengambil langkah destruktif ini dengan alasan melindungi sekutu regionalnya dari ancaman Iran. Tapi faktanya, kehadiran militer AS di kawasan itu tidak efektif dalam melindungi sekutunya. Contohnya, ketidakmampuan AS melindungi instalasi minyak Saudi Aramco dalam serangan drone Yaman baru-baru ini.
Washington menyalahkan Iran atas serangan tersebut. Namun, tidak ada satu pun bukti kuat yang disodorkan AS. Selain itu, kekuatan dunia seperti Rusia dan Cina menentang klaim tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan tidak ada bukti untuk menyalahkan Iran atas serangan terhadap kilang dan ladang minyak Saudi.
Moskow menyerukan perubahan sikap Barat, terutama Amerika Serikat terhadap Iran demi menjaga stabilitas keamanan regional dan global, terutama di Teluk Persia. Tapi pemerintahan Trump terus-menerus melancarkan kebijakan unilateralismenya terhadap Iran demi memaksa Tehran memenuhi tuntutan AS.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam konferensi pers hari Kamis, 3 Oktober mengatakan, strategi Washington menghalangi Iran memanfaatkan kekayaannya. Namun, pengalaman 40 tahun terakhir menunjukkan bahwa Iran tidak pernah menyerah terhadap tekanan AS dan selama ini terbukti justru berhasil meningkatkan kekuatan dan pengaruh regionalnya.(PH)