Blumenthal: AS Ingin Ubah Demo Anti-Pemerintah jadi Anti-Hizbullah
-
Max Blumenthal
Salah seorang wartawan Amerika Serikat mengatakan, Washington dan sekutunya berusaha mengubah unjuk rasa rakyat di Lebanon dan Irak, menjadi demonstrasi menentang Hizbullah dan Iran, dan Gedung Putih bertekad untuk melanjutkan tekanan terhadap Hizbullah.
Sebagaimana dikutip Fars News (7/11/2019), dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Mayadeen, Max Blumenthal menuturkan, kekalahan Amerika disebabkan oleh kekuatan Hizbullah dan dukungan rakyat Lebanon terhadap kelompok perlawanan itu.
Ia menambahkan, seiring mundurnya Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, pemerintah Amerika mungkin saja akan melemahkan Hizbullah dari dalam kabinet, namun ini bukan berarti melemahkan Hizbullah sebagai ikon perlawanan.
Menurut Blumenthal, pemerintah Amerika dan menteri luar negeri negara ini ingin mengubah demonstrasi di Lebanon menjadi demonstrasi anti-Hizbullah, dan mengubah unjuk rasa di Irak, menjadi unjuk rasa anti-Iran.
"Pemerintah Amerika mendorong Partai Angkatan Lebanon pimpinan Samir Geagea untuk ikut berunjuk rasa dan memprovokasi mereka. Geagea sendiri adalah salah satu koruptor terbesar di Lebanon, keterlibatannya dalam demonstrasi anti-korupsi, adalah penghinaan dan membuktikan adanya agenda terselubung," paparnya.
Jurnalis Amerika itu menegaskan, Amerika dan sekutunya terus meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah, dan sampai sekarang Washington belum menggunakan semua senjatanya.
"Amerika berusaha memanfaatkan unjuk rasa rakyat untuk menciptakan kebencian terhadap Iran dan Hizbullah melalui sekutunya di negara-negara Teluk Persia, hal ini sungguh disesalkan, karena demonstrasi rakyat Lebanon lahir dari tuntutan sah mereka yang bersumber dari penderitaan," pungkasnya. (HS)