Menelisik Keseriusan Eropa Menjaga JCPOA
Uni Eropa dan Troika Eropa (Jerman, Prancis dan Inggris) memainkan peran penting dalam mewujudkan kesepakatan antara kelompok 5+1 dan Iran di tahun 2015. Namun, sejak Amerika Serikat keluar perjanjian nuklir internasional ini pada Mei 2018, pihak Eropa gagal memenuhi kewajiban mereka terhadap perjanjian ini. Walaupun demikian, Eropa hingga kini masih menyuarakan urgensi JCPOA.
Dalam hal ini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa yang baru, Josep Borrell, menekankan perlunya menjaga keberlanjutan JCPOA. Borrell dalam sebuah pesan yang diposting di Twitternya menulis, "JCPOA sangat penting untuk menjaga keamanan global dan non-proliferasi senjata nuklir. Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga kesepakatan nuklir Iran ini." Ditambahkannya, "Pasca pertemuan Komisi Bersama JCPOA, saya selaku koordinator mendukung implementasi penuh perjanjian, dan berupaya memulihkan tren negatif yang terjadi baru-baru ini."
Penekanan Borrell untuk menjaga keberlanjutan JCPOA menarik untuk ditelisik dalam posisinya sebelum menjabat. Dia memiliki sikap jelas dan berulang kali mengkritik kebijakan unilateral AS, terutama langkah sepihaknya keluar dari perjanjian nuklir antara Iran dan kelompok 5+1.
Pada Oktober 2019, Borrell menekankan mengatakan, "Kita harus menjaga kesepakatan nuklir JCPOA tetap berlanjut demi melindungi kepentingan dan keamanan kita, dan mencegah kondisi semakin memanas. Sikap politik kolektif Eropa akan sangat penting untuk mempertahankan perjanjian ini,".
Mengingat sikap Borrell ini, kehadirannya sebagai ketua baru kebijakan luar negeri Uni Eropa diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan untuk memulihkan kondisi JCPOA yang kurang kondusif saat ini.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) hari Minggu (8/12) juga mengumumkan di laman resmi Twitter tentang situasi sensitif saat ini, dan sikap Direktur Jenderal IAEA yang baru mengenai kerja sama yang konstruktif dengan Republik Islam Iran.
Uni Eropa dan Troika Eropa telah berjanji untuk mempertahankan perjanjian ini setelah AS secara ilegal menyatakan menarik diri pada Mei 2018, dan memastikan bahwa kepentingan ekonomi Iran akan dipenuhi melalui langkah-langkah praktisnya, seperti pembentukan mekanisme keuangan khusus yang disebut INSTEX.

Pihak Eropa sejauh ini gagal memenuhi janji mereka untuk menjaga agar kesepakatan nuklir antara kelompok 5+1 dan Iran tetap efektif di tengah gencarnya penentangan Washington. Iran mengambil langkah pengurangan komitmennya terhadap JCPOA dalam empat langkah sesuai aturan butir 26 dan 36 perjanjian nuklir internasional ini. Kebijakan Tehran tersebut diambil setelah setahun AS keluar dari JCPOA dan memberlakukan sanksi nuklir terhadap Iran, dan solusi yang diusulkan pihak Eropa juga tidak efektif mengimbangi konsekuensi ekonomi dari langkah destruktif AS terhadap Iran.
Masalahnya, pihak Eropa alih-alih menepati janjinya terhadap Iran, justru menyampaikan statemen yang kontraproduktif dengan menuding Iran mengancam akan menjalankan mekanisme triger. Namun, setelah dilakukan berbagai pertemuan mereka mulai mengubah sikapnya pasca pertemuan terbaru komisi bersama JCPOA di Wina pada Jumat 6 Desember 2019. Pernyataan penutupan pertemuan itu menyatakan bahwa para anggota mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA selama 14 bulan setelah AS menyatakan keluar dari JCPOA dan menjatuhkan kembali sanksi nuklir yang mencegah Tehran menikmati manfaat dari perjanjian nuklir internasional ini.
Analis politik Iran, Kourosh Ahmadi mengungkapkan, hasil terpenting dari pertemuan komisi bersama JCPOA adalah kedua pihak sepakat tidak mengambil tindakan sesuai mekanisme triger, yang disinggung dalam pasal 36 dan 37 JCPOA, tapi tiga negara Eropa selama beberapa pekan terakhir secara implisit maupun eksplisit, baik langsung atau tidak langsung mengancam akan mengaktifkan mekanisme tersebut.
Pihak Eropa tentu saja tahu bahwa Tehran tidak akan pernah bisa diintimidasi oleh pendekatan berbasis ancaman terhadap masalah nuklir Iran. Ancaman Troika Eropa sebelumnya untuk menerapkan mekanisme triger juga tidak bisa mengubah sikap Iran. Jika Eropa benar-benar serius ingin mempertahankan JCPOA demi kepentingannya, maka mereka harus mengambil langkah-langkah efektif dan praktis untuk memenuhi komitmennya terhadap perjanjian nuklir internasional itu. (PH)