AS Tinjauan dari Dalam
Amerika Tinjauan dari Dalam 25 Januari 2020
-
Pangkalan Militer AS Ain al-Assad
Dinamika Amerika Serikat pekan ini diwarnai oleh isu pengakuan Pentagon atas korban serangan rudal Republik Islam Iran ke pangkalan militer Ain al-Asad di Irak. Ancaman AS meneror pengganti Jenderal Soleimani.
Selain itu ada berita lainnya mengenai tanggapan rival Trump atas sikap presiden Amerika ini. Tanggapan tim pemakzulan Trump terhadap presiden. Pompeo ancam perusahaan dan negara yang berani bekerja sama dengan Iran. Pengakuan menlu AS atas keterlibatannya di pengambilan keputusan teror Jenderal Soleimani dan isu lainnya.
Pentagon Akui 34 Tentara AS Cedera Otak Akibat Rudal Iran
Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon kembali mengakui 34 tentara negara itu terluka akibat serangan balasan Iran ke pangkalan udara Ain Al Assad.
Kantor berita YJC Iran melaporkan, Juru bicara Dephan Amerika, Jumat (24/1/2020) mengumumkan, 34 tentara Amerika mengalami luka di bagian kepala dan otak akibat serangan balasan rudal Iran ke pangkalan Ain Al Assad di Irak.
Jonathan Hoffmann menuturkan, 8 tentara Amerika yang terluka dan sudah dilarikan ke rumah sakit militer di Jerman, sekarang dipindahkan ke Amerika.
Sebelumnya Presiden Amerika Donald Trump mengaku mendengar sejumlah tentara Amerika sakit kepala bukan cedera otak traumatik, dan tidak serius.
Senator Demokrat di Kongres Amerika, Elizabeth Warren merespon pengakuan Pentagon soal 34 tentara Amerika yang terluka akibat serangan Iran dan mengatakan, Trump menutupi cedera yang dialami pasukannya, dan ini mengerikan.
Sementara itu, sebelumnya Wakil Komandan Gugus Tugas Bersama Operasi Inherent Resolve, Pusat Komando Amerika Serikat, CENTCOM mengatakan, tentara Amerika yang mengalami Cedera Otak Traumatik, TBI, bukan sakit kepala biasa seperti dikatakan Presiden Donald Trump, jumlahnya di atas 11 orang.
Mayjen Alexus G. Grynkewich dalam wawancara dengan majalah dwi-mingguan Amerika, Foreign Policy, Rabu (22/1/2020) menuturkan, sejumlah banyak tentara Amerika lain yang mengalami cedera otak traumatik dilarikan ke Jerman untuk diobati.
Menurut Foreign Policy, berita dua minggu lalu tentang selusin tentara Amerika yang diperiksa secara medis untuk mengetahui kemungkinan mengalami cedera otak traumatik, memicu spekulasi bahwa Gedung Putih sengaja menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya.
Namun Mayjen Grynkewich membantah jika pemerintah Amerika memerintahkannya menunda pengumuman ini, ia berdalih gejala cedera otak traumatik tidak mudah dilkenali sehingga para komandan tidak langsung menyadari ada anggotanya yang terkena.
AS Ancam Bunuh Komandan Pasukan Qods yang Baru
Wakil khusus Amerika Serikat untuk Iran mengatakan, Komandan Pasukan Qods, IRGC yang baru, pengganti Jenderal Qasem Soleimani yang terbunuh dalam serangan pesawat nirawak Amerika di Irak, akan mengalami nasib serupa dengan pendahulunya.
Fars News (23/1/2020) melaporkan, Brian Hook kepada surat kabar Al Sharq Al Awsat menuturkan, Esmail Ghaani (Komandan Pasukan Qods yang baru) akan menerima nasib yang sama jika mengikuti jejak pendahulunya dalam membunuh warga Amerika.
Ia menambahkan, Presiden Amerika sejak lama sudah menegaskan setiap serangan terhadap warga atau kepentingan Amerika, akan dibalas tegas.
Di sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia, WEF di Davos, Swiss, Brian Hook menjelaskan, ini bukan ancaman baru, Presiden Amerika selalu menekankan balasan tegas atas setiap ancaman terhadap kepentingan Amerika.
Biden Sebut Tingkah Laku Trump Menjijikkan
Calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden mengkritik sikap Trump yang menyembunyikan jumlah korban serangan rudal Iran ke pangkalan Ain al-Assad di Irak.
Seperti dilansir The Washington Times, Biden dalam acara kampanye di New Hampshire, Jumat (24/1/2020) mengatakan bahwa sikap meremehkan jumlah korban yang diderita oleh pasukan AS, benar-benar menggelikan.
"Ketika sebagian dari tentara pemberani kita cidera dalam serangan rudal Iran, Trump meminta mereka untuk berdiri dan menepis adanya korban luka," kata Biden.
Dia mengejek pernyataan Trump dengan mengatakan, "Para tentara hanya sakit kepala dan cidera mereka tidak serius."
Biden menjelaskan bahwa ada sekitar 300.000 tentara Amerika yang pulang dari perang di luar negeri menderita gangguan stres pasca-trauma.
Sementara itu, senator Partai Demokrat, Chris Murphy mengatakan Trump telah membohongi publik terkait korban serangan rudal Iran.
"Dia telah menyembunyikan korban luka di pangkalan Ain al-Assad selama berminggu-minggu, tapi Pentagon setelah beberapa waktu telah mengeluarkan laporan tentang jumlah korban luka," ujarnya.
Pentagon menyatakan pada Jumat kemarin bahwa 34 tentara AS mengalami cidera otak traumatis akibat serangan 8 Januari lalu.
Sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama kampanye pemilu melecehkan rivalnya dari kubu Demokrat.
Seperti dilaporkan IRIB, Trump di akun Twitternya menulis, Bernie Sanders bodoh unggul di pemilu dini dan internal Demokrat, namun sepertinya kubu Demokrat tidak mengijinkannya untuk menang.
Lebih lanjut Trump menulis, tak jelas apakah Joe Biden yang mengantuk akan mampu melewati garis finis.
Presiden Amerika ini saat diwawancarai televisi Fox News juga mengatakan, "Nancy Pelosi, ketua DPR AS sebuah noktah hitam dan memalukan bagi negara ini."
Koordinator Tim Pemakzulan: Trump Bahayakan Keamanan AS
Koordinator tim pemakzulan Trump, Adam Schiff mengatakan tidak ada keraguan bahwa perilaku Presiden Donald Trump telah membahayakan keamanan nasional dan pemilu AS.
Dia menyampaikan hal itu pada sidang lanjutan pemakzulan Trump yang digelar hari Jumat (24/1/2020) untuk mendengarkan argumen para senator. Demikian dikutip kantor berita IRNA.
Kamis lalu, Adam Schiff telah membacakan beberapa dakwaan untuk pemakzulan Trump dalam sidang di Senat.
DPR AS telah mengirimkan berkas pemakzulan Trump ke Senat pada 15 Januari lalu. 228 anggota DPR menyetujui draft pemakzulan ini, sementara 193 lainnya menolaknya.
Ketua DPR AS, Nancy Pelosi mengatakan tujuh politisi Demokrat telah ditunjuk untuk memimpin pemakzulan Trump. Mereka akan memimpin proses pemakzulan di Kongres.
Trump dituduh menekan pemerintah Ukraina agar membuka penyelidikan terhadap Joe Biden dan putranya Hunter Biden. Mantan wapres AS ini akan menjadi rival Trump pada pilpres 2020 ini.
Kasus ini berawal dari pengaduan seorang informan (whistleblower) mengenai pembicaraan telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada 25 Juli 2019.
Dalam pembicaraan itu, Trump diduga menekan Zelenskiy untuk mencari informasi kasus korupsi yang bisa memberatkan saingan politiknya, Joe Biden dan putranya.
Pompeo Ancam Perusahaan yang Ingin Bekerja Sama dengan Iran
Sebagai kelanjutan dari kebijakan anti Iran oleh Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Amerika kembali mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara dan perusahaan internasional yang ingin bekerja sama dengan Iran.
Seperti dilaporkan FNA, Mike Pompeo Kamis (2301) di akun Twitternya kembali mengancam negara dan perusahaan dengan sanksi jika bekerja sama dengan Tehran.
Menlu AS di akun Twitternya menulis, propaganda represi maksimum terhadap Iran akan terus berlanjut selama Tehran tidak mengubah perilakunya.
Tweet Pompeo ini dirilis setelah Departemen Keuangan AS hari Kamis menjatuhkan sanksi kepada dua individu dan enam perusahaan yang terkait dengan Iran.
Amerika setelah keluar secara ilegal dari JCPOA pada 8 Mei 2018 melancarkan kampanye besar-besaran untuk menekan Republik Islam Iran.
Langkah Trump ini menuai kecaman luas di dalam negeri dan di tingkat internasional.
Pompeo Akui Terlibat dalam Teror Jenderal Soleimani
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo Kamis (23/01) malam mengakui terlibat dalam pengambilan keputusan Presiden Donald Trump untuk meneror Letjen Qasem Soleimani.
Seperti dilaporkan IRNA, Mike Pompeo dalam sebuah pidatonya di negara bagian Florida Amerika menyebut langkah pengecut negaranya meneror Jenderal Soleimani sebagai tindakan berani dan menyatakan dirinya termasuk bagian dari proses pengambilan keputusan untuk melancarkan operasi teror terhadap komandan pasukan Quds IRGC.
Sebelumnya berbagai media melaporkan, Wakil presiden AS Mike Pence dan Mike Pompeo secara berkesinambungan meminta Trump untuk merilis instruksi teror terhadap Jenderal Soleimani.
Jenderal Soleimani bersama sejumlah rekan seperjuangannya gugur syahid Jumat (03/01) dini hari dalam sebuah serangan udara militer Amerika di dekat Bandara Udara Baghdad, Irak.
Menurut pengumuman Pentagon, instruksi serangan udara ini dirilis langsung oleh Presiden Trump.
Berbagai negara, organisasi dan kelompok mengutuk aksi terorisme Amerika ini.
Jenderal Soleimani merupakan sosok utama dalam perang melawan kelompok teroris Takfiri termasuk Daesh (ISIS) di kawasan Asia Barat.