Covid-19 dan Masa Depan Uni Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i79929-covid_19_dan_masa_depan_uni_eropa
Penyebaran Covid-19 yang tinggi di negara-negara Eropa memicu kekhawatiran mengenai masa depan politik dan ekonomi Uni Eropa.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 30, 2020 06:12 Asia/Jakarta
  • Covid-19 dan Masa Depan Uni Eropa

Penyebaran Covid-19 yang tinggi di negara-negara Eropa memicu kekhawatiran mengenai masa depan politik dan ekonomi Uni Eropa.

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte memperingatkan, "Jika Uni Eropa membuat kesalahan dalam perang melawan virus corona, maka besar kemungkinan akan kehilangan filosofi eksistensinya,".

Statemen ini mengemuka di saat Italia menjadi negara terbesar kedua di dunia setelah AS dari jumlah kasus positif Covid-19. Berdasarkan statistik terbaru, jumlah total penderita virus corona di Italia mencapai lebih dari 97.000 orang yang melampaui Cina.

Lonjakan jumlah kasus Covid-19 di Italia dan sejumlah negara Eropa lainnya selama beberapa pekan terakhir telah menimbulkan krisis dari masalah kesehatan, ekonomi hingga politik. Bahkan persoalan tersebut telah menyebabkan negara-negara anggota Uni Eropa melanggar peraturan tertentu seperti penutupan perbatasan dan rendahnya solidaritas sesama negara anggota terhadap negara yang mengalami masalah serius dalam penanganan virus corona. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memperingatkan sesama pemimpin negara anggota Uni Eropa mengenai tidak adanya solidaritas dalam menghadapi krisis corona. Menurut Macron, proyek bersama Eropa dan "zona Schengen" di ambang keruntuhan.

Covid-19 juga memperburuk perpecahan internal di antara anggota Uni Eropa. Otoritas di beberapa negara Eropa, terutama Italia dan Spanyol yang memiliki tingkat kasus positif dan kematian yang tinggi akibat virus corona berulangkali mengkritik kebijakan negara-negara Eropa yang dinilai gagal menyediakan dukungan kebutuhan medis, kesehatan, dan keuangan yang memadai.

Pasalnya, beberapa negara besar Eropa seperti Jerman dan Prancis telah melarang ekspor peralatan medis termasuk alat pelindung diri kepada sesama negara anggota Uni Eropa, karena mereka sendiri sedang disibukkan oleh masalah serupa.

Presiden Parlemen Eropa Ursula von der Leyen menyerukan negara-negara anggota Uni Eropa untuk menunjukkan persatuan mereka. Ia mengatakan, "Kita memiliki tanggung jawab bersama dalam hal ini. Tidak seorangpun dari kita yang dapat melakukannya sendiri, dan tentu saja tidak ada negara anggota yang dapat menangani krisis ini sendirian. Kita sebagai anggota [Uni Eropa] harus saling membantu,".

Masalah ekonomi pasca-corona menjadi keprihatinan serius negara-negara Eropa. Penutupan pabrik, implementasi pembatasan dan penutupan dengan karantina telah memukul perekonomian Uni Eropa.

Sebenarnya Uni Eropa telah mengambil langkah antisipasi di tingkat makro seperti mengumumkan pembelian obligasi senilai 750 miliar euro yang bertujuan untuk memastikan pasar tenang dan melindungi ekonomi zona euro, penundaan semua pajak perusahaan dan keringanan pajak sosial dan menjanjikan bantuan keuangan pemerintah kepada para korban Covid-19. Selain itu, Kelompok 20, termasuk beberapa negara Eropa dan Uni Eropa, telah menyediakan 5.000 miliar dolar untuk membantu perekonomian global. 

Namun, jika kondisi kritis yang menimpa Eropa akibat penyebaran Covid-19 terus berlanjut, dan solidaritas antarsesama negara anggota Uni Eropa masih rendah, maka masa depan politik Uni Eropa akan terancam. Sebagaimana protes yang disampaikan PM Italia, "Untuk apa ada Uni Eropa jika sesama negara anggotanya tidak saling membantu !"(PH)