Rusia dan Armada Laut NATO
https://parstoday.ir/id/news/world-i8038-rusia_dan_armada_laut_nato
Juru bicara Departemen Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menilai langkah Amerika Serikat dan NATO untuk membangun infrastruktur militer di Laut Hitam dan Rumania sebagai sinyal ketertarikan untuk melakukan operasi militer dan mengancam keamanan Rusia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 03, 2016 14:39 Asia/Jakarta
  • Rusia dan Armada Laut NATO

Juru bicara Departemen Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menilai langkah Amerika Serikat dan NATO untuk membangun infrastruktur militer di Laut Hitam dan Rumania sebagai sinyal ketertarikan untuk melakukan operasi militer dan mengancam keamanan Rusia.

Ia juga percaya bahwa proyek pembangunan Armada Laut Hitam NATO secara serius merusak keamanan dan stabilitas di kawasan. Menurutnya, rencana NATO memaksa Rusia untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi menjamin keamanannya.

Zakharova lebih lanjut menegaskan bahwa proyek NATO tidak akan mempromosikan konservasi Laut Hitam sebagai daerah yang damai dan bertetangga baik.

"Penempatan sistem pertahanan rudal di Deveselu, serta komponen lain dari infrastruktur militer AS dan NATO di Rumania dan negara-negara lain, merupakan upaya untuk memperluas aktivitas militer di daerah yang dekat dengan perbatasan Rusia," tegasnya.

Reaksi keras Rusia terhadap ekspansi NATO di Laut Hitam dapat dimengerti dengan memperhatikan posisi strategis wilayah perairan itu bagi Moskow. Pada dasarnya, Laut Hitam sama seperti halaman belakang Moskow dan pangkalan bagi armada laut terkuat Rusia.

Meski demikian, NATO sekarang mulai mengambil langkah-langkah serius untuk membangun sebuah armada di Laut Hitam demi memperkuat ekspansinya di Eropa Timur. Aliansi sedang terlibat perundingan dengan pemerintah Rumania untuk membangun armada tersebut di Laut Hitam.

Rumania sebagai anggota baru NATO di Eropa Timur, mengusulkan kehadiran kapal perang dari AS, Jerman, Italia, dan Turki untuk memperkuat Armada Laut Hitam NATO. Para pejabat Rumania percaya ini akan menjadi suplemen alami untuk pasukan darat NATO di kawasan.

Selama kunjungannya ke Bucharest, Presiden Ukraina Petro Poroshenko juga menyuarakan keinginan Kiev untuk mengambil bagian dalam armada itu.

Namun, pembentukan armada NATO masih harus menunggu keputusan dari Bulgaria, Rumania, dan Turki, karena menurut Konvensi Montreux 1936, kapal perang dari negara-negara non-Laut Hitam tidak dapat tinggal lebih dari 21 hari di wilayah itu. Konvensi ini juga memberi kewenangan kepada Turki untuk mengontrol lalu lintas di Selat Bosporus selama masa damai, termasuk mengatur transit kapal perang di perairan tersebut.

Kapal-kapal perang NATO telah meningkatkan kehadirannya di Luat Hitam setelah Krimea bergabung dengan Rusia. AS sebagai kekuatan utama NATO juga sudah menyampaikan keinginannya untuk kehadiran permanen di wilayah tersebut.

Keinginan itu merupakan bentuk ajakan perang Washington dengan Moskow, karena Laut Hitam secara tradisional merupakan daerah pengaruh Rusia. Para pejabat Moskow menganggap kehadiran militer Barat di kawasan sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Rusia dan sudah sering memperingatkan NATO dan AS dalam hal ini.

Krisis Ukraina telah menyebabkan penguatan kehadiran NATO di Laut Hitam, Laut Baltik, dan juga Laut Mediterania.

Moskow sekarang menghadapi peningkatan ancaman maritim oleh blok Barat terutama di perairan sekitar Rusia. Oleh karena itu, doktrin baru Angkatan Laut Rusia menekankan penguatan kehadiran di Laut Hitam. Ini adalah sebuah sinyal yang jelas tentang peningkatan kesiapan Angkatan Laut Rusia untuk melawan ancaman NATO dan AS. (IRIB Indonesia/RM)