Ketika Putin Semakin Tidak Mempercayai Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i82534-ketika_putin_semakin_tidak_mempercayai_trump
Salah satu karakteristik terpenting dari kepemimpinan kontroversial Presiden Donald Trump adalah pendekatan negatifnya terhadap berbagai perjanjian dan kesepakatan internasional. Dengan mengabaikan berbagai perjanjian ini, Trump telah menempuh kebijakan agresif terhadapnya dan semakin mengabaikan serta mengurangi standar dan komitmen internasional AS. Ini telah menimbulkan kekhawatiran di Rusia sebagai saingan utama Amerika.
(last modified 2026-02-24T09:51:58+00:00 )
Jun 22, 2020 09:40 Asia/Jakarta

Salah satu karakteristik terpenting dari kepemimpinan kontroversial Presiden Donald Trump adalah pendekatan negatifnya terhadap berbagai perjanjian dan kesepakatan internasional. Dengan mengabaikan berbagai perjanjian ini, Trump telah menempuh kebijakan agresif terhadapnya dan semakin mengabaikan serta mengurangi standar dan komitmen internasional AS. Ini telah menimbulkan kekhawatiran di Rusia sebagai saingan utama Amerika.

Dalam hal ini, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (20/06/2020) mengatakan bahwa dengan mencermati keadaan protes di Amerika Serikat, Presiden Rusia Vladimir Putin prihatin atas pelanggaran perjanjian AS dan komitmen pemerintah Trump terhadap perjanjian internasional.

"Mengingat keadaan protes di Amerika Serikat, Putin mengatakan tidak dapat mempercayai Presiden Donald Trump untuk menandatangani perjanjian baru," kata Peskov.

Dmitry Peskov dan Vladimir Putin

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Sabtu (20/06/2020) mengumumkan bahwa utusan khusus Donald Trump untuk Austria, Marshall Billingslea akan melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov pada hari Senin dan Selasa pekan ini untuk membahas "masalah yang disepakati antara kedua belah pihak terkait masa depan kontrol senjata."

Pemerintah Trump telah berperan penting dalam proses penarikan diri dari perjanjian internasional, termasuk perjanjian senjata dan keamanan. Menyusul penarikan diri Amerika Serikat dari perjanjian pembatasan senjata nuklir jarak menengah atau INF, Amerika Serikat juga telah menarik diri dari perjanjian "Open Skies". Di sisi lain, pemerintah Trump telah berulang kali mengancam untuk tidak memperbarui perjanjian antara Amerika Serikat dan Rusia tentang tindakan untuk pengurangan lebih lanjut dan pembatasan senjata ofensif strategis atau New START yang akan berakhir pada Februari 2021.

Selama masa jabatannya, Trump telah berulang kali menunjukkan bahwa dirinya tidak berkomitmen untuk setiap perjanjian atau janji apa pun berdasarkan kepentingan pribadinya, terutama keinginan kuatnya untuk kedua kalinya menjabat sebagai presiden negara ini, terlebih lagi pada saat Amerika Serikat menyaksikan protes luas dan belum pernah terjadi sebelumnya karena memrotes perilaku rasis dan kekerasan polisi yang tidak ada batasnya terhadap warga kulit hitam. Kenyataan ini membuat Trump siap untuk melakukan apa saja untuk kembali menempati Gedung Putih. Dalam akun Twitter-nya, Trump mengancam akan menembak demonstran Amerika dan menggunakan pasukan Garda Nasional untuk menekan mereka.

Faktanya, Trump tidak menganut prinsip moral atau komitmen politik apa pun, dan pada kenyataannya telah mengambil pendekatan pragmatis, yaitu, bertindak atas dasar keadaan dan oportunis. Nancy Pelosi, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS, seraya mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang ditulis John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, mengatakan bahwa pengungkapan ini menunjukkan bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki kondisi dan kesiapan untuk mencalonkan diri untuk jabatan ini.

Menurut Pelosi, "Jelas bahwa Trump secara moral tidak kompeten dan tidak siap secara intelektual untuk menjadi presiden."

Secara alami, mengingat kepribadian, sikap, dan kinerja Trump, terutama dalam menanggapi protes yang meluas di Amerika Serikat, Putin, sebagai Presiden Rusia, sekarang khawatir tentang kelanjutan pendekatan presiden yang kontroversial untuk menarik diri dari perjanjian internasional, terutama kesepakatan dan perjanjian kontrol senjata, dan tidak dapat mempercayainya. Putin tampaknya tidak lagi memiliki harapan untuk memastikan berbagai kesepakatan bilateral dan atau multilateral dengannya.

Rupanya, Putin semakin kehilangan kepercayaan pada Trump sebagai presiden yang dapat diandalkan, mengingat cara Trump menangani dan mengelola protes baru-baru ini di Amerika Serikat. Dengan demikian, dari sudut pandang Moskow, pemerintah dan presiden AS sekarang tidak dapat dipercaya, tidak pada sikap, janji dan komitmen mereka.

Donald Trump dan Vladimir Putin

Ini tentu akan memiliki dampak yang signifikan pada masa depan negosiasi bilateral mengenai perjanjian-perjanjian pengendalian senjata internasional, serta bagaimana Rusia akan berinteraksi dengan Amerika di bidang ini, serta masalah-masalah yang dipersengketakan lainnya. Rusia sekarang ragu-ragu bahwa, mengingat pendekatan Trump yang bermusuhan dan oportunistik, ada kemungkinan bahwa kesepakatan mengenai perjanjian senjata dapat dicapai dan bahwa Amerika Serikat nantinya akan memenuhi komitmennya.