Prediksi Kegagalan AS Perpanjang Embargo Senjata Iran
-
Alusista Iran
Amerika Serikat melancarkan kampanye skala besar untuk menjegal pencabutan embargo senjata Iran yang akan berakhir pada 18 Oktober 2020. Tapi berbagai negara, termasuk Rusia percaya bahwa upaya Washington akan gagal.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia hari Kamis mengatakan bahwa rancangan resolusi untuk memperpanjang embargo senjata Iran tidak memiliki peluang untuk berhasil lolos di Dewan Keamanan PBB. Menurut Nebenzia, penerapan resolusi semacam itu akan mengarah diakhirinya JCPOA, dan Iran jelas tidak akan pernah menerima resolusi ini dan memiliki hak untuk menolaknya. Diplomat senior Rusia itu menekankan, ketika Amerika Serikat mulai meluncurkan resolusi itu, Moskow sudah mengingatkan tidak ada peluang meratifikasinya.
Washington telah melancarkan perang psikologis penuh sejak pertengahan 2019 untuk mengejar tujuannya memperpanjang embargo senjata Iran, dan pejabat senior AS, terutama Menlunya, Mike Pompeo telah berulang kali mengatakan akan menjegal setiap upaya pencabutan embargo tersebut. Ia mengklaim, pencabutan embargo senjata Iran akan menciptakan perlombaan senjata di kawasan, memperkuat kekuatan regional di Iran dan sekutunya yang membahayakan keamanan rezim Zionis.
Pada langkah selanjutnya, pemerintahan Trump telah mencoba membujuk anggota Dewan Keamanan PBB supaya mengamini dikte Washington untuk memperpanjang embargo senjata Iran. Resolusi AS yang diusulkan menyerukan larangan penjualan, penyediaan atau pemindahan senjata atau barang-barang terkait Iran.
Resolusi itu juga melarang negara-negara dunia menjual, memasok, atau mentransfer senjata maupun barang-barang terkait ke Iran, kecuali jika disetujui oleh komite Dewan Keamanan PBB. Selain itu, AS juga mendesak negara-negara dunia untuk memeriksa barang dari Iran jika mereka memiliki bukti kuat bahwa kargo mereka mungkin berisi barang-barang terlarang dari negara ini. Resolusi itu juga meminta negara-negara dunia untuk memeriksa kapal di perairan terbuka dengan justifikasi serupa. Rancangan resolusi ini juga menyerukan penyitaan aset dan larangan bepergian terhadap orang-orang yang melanggar embargo senjata tersebut.
Adopsi resolusi ini membutuhkan 9 suara dari 15 suara anggota Dewan Keamanan PBB. Selain itu, anggota tetap Dewan Keamanan, terutama Rusia dan Cina tidak boleh memvetonya. Namun, sikap Rusia dan China dalam hal ini menunjukkan penentangan terhadap usulan resolusi AS ini.
Para pejabat dua kekuatan saingan internasional AS ini berulangkali menekankan oposisi mereka terhadap resolusi perpanjangan embargo senjata Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyebut perpanjangan embargo senjata Iran sebagai langkah tidak konstruktif dan mengatakan bahwa rancangan resolusi itu tidak bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan program nuklir Iran, tapi untuk mengejar kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran.
Terlepas dari prospek ini, pejabat pemerintahan Trump terus bersikeras meneruskan pendekatan gagal mereka untuk melanjutkan embargo senjata Iran. Dalam sikap terbaru Washington, Wakil AS di PBB, Kelly Craft hari Kamis mengatakan bahwa negaranya akan menggunakan segala cara untuk memperpanjang embargo senjata Iran di Dewan Keamanan. Dia mengklaim, jika sanksi itu tidak diperpanjang, maka Tehran akan mengirim lebih banyak senjata ke sekutu dan kelompok-kelompok proksi di kawasan. Menurutnya, masalah ini melampaui keamanan negara-negara Asia Barat hingga keamanan pasukan AS.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Washington terus berusaha untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran dengan menyebar agitasi Iranophobia sebagai ancaman bagi negara-negara di kawasan. Padahal sebaliknya, kebijakan dan tindakan AS di kawasan itu, terutama selama pemerintahan Trump justru terbukti menjadi penyebab utama ketidakstabilan dan ketidakamanan di Asia Barat.(PH)