AS Tinjauan dari Dalam, 18 Juli 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i83320-as_tinjauan_dari_dalam_18_juli_2020
Dinamika Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu seperti insiden kapal induk USS Bonhomme Richard dan perkembangannya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 18, 2020 10:11 Asia/Jakarta
  • USS Bonhomme Richard
    USS Bonhomme Richard

Dinamika Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu seperti insiden kapal induk USS Bonhomme Richard dan perkembangannya.

Selain itu masih ada sejumlah isu lainnya yang terjadi di AS di antaranya statemen Presiden Trump terkait keberhasilannya bujuk Inggris tolak Huawei, Trump beri wewenang lebih kepada CIA serang Iran, tudingan O’Brien kepada Iran, insiden jatuhnya pesawat di AS, Trump dinilai presiden terburuk di sejarah AS, Washington tarik pasukannya dari lima pangkalan di Afghanistan.

21 Pelaut AS Terluka dalam Insiden Kebakaran USS Bonhomme Richard

Sebanyak 21 pelaut Amerika terluka dalam insiden kebakaran kapal perang USS Bonhomme Richard yang sedang berlabuh di San Diego.

USS Bonhomme Richard

Seperti dilansir Associated Press, kapal perang jenis amfibi ini terbakar pada hari Ahad (12/7/2020) sehingga menyebabkan sedikitnya 21 pelaut Amerika terluka, dan salah satu dari korban dilaporkan kritis karena menghirup asap.

Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan mengatakan penyebab kebakaran belum bisa dipastikan dan penyelidikan masih berlanjut di tengah upaya pemadaman kobaran api.

Para komandan USS Bonhomme Richard menyebut insiden itu sebagai tragedi menyedihkan, di mana para personel lainnya belum diketahui nasibnya.

Televisi CNN dan Fox News melaporkan bahwa ledakan yang disusul dengan kebakaran terjadi pada kapal tersebut. Televisi BBC menyatakan suara ledakan dari dek kapal ini terdengar bersamaan dengan kobaran api.

Sementara itu, setelah dua hari berusaha untuk dipadamkan, api masih menjalar di kapal induk Amerika Serikat, USS Bon Homme Richard yang belum jelas apa penyebabnya. Pejabat angkatan laut Amerika mengatakan, lautan api menyala-nyala di dek bawah kapal.

Fars News (14/7/2020) melaporkan, ratusan personel angkatan laut Amerika, Senin (13/7) terus berjuang memadamkan api yang melahap hampir seluruh badan USS Bon Homme Richard yang mulai terbakar dan meledak hari Minggu (12/7) malam.

Surat kabar New York Times menulis, ini adalah salah satu kebakaran paling buruk yang pernah terjadi pada kapal perang Amerika, di luar medan tempur.

Juru bicara angkatan laut Amerika di Samudra Pasifik, Laksamana Muda Philip Sobeck menuturkan, dikarenakan berkumpulnya air yang digunakan untuk memadamkan api di salah satu bagian kapal, kapal induk ini mulai miring.

Ia menambahkan, api melahap seluruh bagian luar kapal, tapi tingkat kerusakannya masih belum bisa diprediksi.

Saat ditanya apakah kapal perang ini bisa diselamatkan, Sobeck menjelaskan, saat ini semua upaya yang mungkin sedang dilakukan, untuk sementara prioritas kami adalah memadamkan api, setelah itu kita akan memutuskan apakah kapal masih akan digunakan atau tidak.

Trump Mengaku Berhasil Bujuk Inggris untuk Larang Huawei

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut keputusan pemerintah Inggris melarang perusahaan Cina, Huawei membangun jaringan 5G di negara itu.

Donald Trump

Trump, seperti dikutip Farsnews, Rabu (15/7/2020) mengklaim bahwa keputusan itu diambil karena masukan darinya.

"Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, saya telah meyakinkan dia dan pemerintahannya agar melarang keterlibatan Huawei dalam proyek pembangunan jaringan 5G di Inggris," katanya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga menyambut keputusan anti-Cina yang diambil oleh pemerintah Inggris.

Pada Selasa lalu, Menteri Digital dan Kebudayaan Inggris Oliver Dowden dalam pertemuan di parlemen, mengatakan London melarang partisipasi perusahaan Huawei dalam pembangunan jaringan 5G di Inggris.

Keputusan itu diambil setelah Washington menekan London dan menjatuhkan sanksi terhadap Huawei.

AS menuduh Huawei, perusahaan peralatan telekomunikasi terbesar di dunia, melakukan kegiatan spionase untuk pemerintah Cina. Tuduhan ini dibantah keras oleh Beijing.

Menurut para pejabat Beijing, tuduhan itu bermaksud untuk melindungi bisnis perusahaan-perusahaan Amerika dan mencegah produk Huawei menembus pasar domestik AS.

Trump Beri Wewenang Lebih pada CIA untuk Serang Iran

Media Amerika Serikat mengabarkan, sekarang Dinas Intelijen Amerika, CIA memiliki wewenang lebih besar untuk melancarkan operasi siber rahasia terhadap Iran.

Fars News (15/7/2020) melaporkan, Yahoo News menulis, CIA setelah mendapat wewenang lebih luas untuk melancarkan serangan siber, pada tahun 2018 melakukan operasi rahasia terhadap beberapa negara dunia termasuk Iran.

Ditambahkannya, instruksi presiden yang menyingkirkan sejumlah pembatasan ini, membuka peluang kepada CIA untuk menentukan operasi siber rahasia baik dari segi bentuk maupun targetnya. Selain itu, sekarang CIA tidak perlu izin lagi dari Gedung Putih untuk melancarkan operasi siber rahasia.

Berbeda dengan instruksi Presiden Amerika sebelumnya yang memusatkan konsentrasi pada satu target tertentu di bidang kebijakan luar negeri seperti mencegah Iran berubah menjadi kekuatan nuklir, pada instruksi baru hanya disinggung satu target umum, yaitu aksi rahasia di bidang siber.

O'Brien Tuding Iran tidak Komitmen terhadap NPT

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Senin (13/7/2020) kembali mengulang klaim dan tudingan palsu terhadap Republik Islam Iran.

Robert O'Brien

"Iran tidak komitmen terhadap komitmennya di Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT)," klaim Robert O'Brien seperti dilansir Fars News.

O'Brien menuding Iran berusaha menggapai senjata nuklir dan mengklaim, prioritas pemerintah Trump adalah mencegah Iran meraih senjata pemusnah massal.

Statemen menggelikan O'Brien ini dirilis ketika IAEA sampai saat ini berulang kali membenarkan komitmen Tehran terhadap JCPOA dan status damai aktivitas nuklir Iran.

Sebelumnya, O'Brien bersama Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Iran berusaha memproduksi senjata nuklir.

Amerika setelah keluar dari JCPOA secara ilegal mengobarkan kampanye total untuk menerpakan represi terhadap Iran.

Presiden Donald Trump Selasa 8 Mei 2018 secara sepihak dan melanggar komitmen Washington di JCPOA mengumumkan negaranya keluar dari kesepakatan nuklir ini dan kembali menjatuhkan sanksi nuklir terhadap Iran.

Langkah Trump ini menuai kecaman luas di dalam negeri dan di tingkat internasional.

Republik Islam Iran sebagai salah satu anggota utama front muqawama memainkan peran utama dalam melawan konspirasi dan aksi-aksi poros AS-Zionis di kawasan.

Lagi Jet Tempur AS Jatuh

Sebuah jet tempur F-16 milik Amerika Serikat dilaporkan jatuh di negara bagian New Mexico.

Menurut laporan Fox News, Senin (13/7/2020) sore waktu setempat, sebuah jet tempur F-16 Amerika dilaporkan jatuh di negara bagian New Mexico dan pilotnya cidera.

Insiden ini terjadi di pangkalan udara Holloman dan termasuk kecelakaan jet tempur AS kelima sejak bulan Mei dan kedua selama dua pekan terakhir bagi pesawat jenis ini.

Awal Juni sebuah jet tempur F-16 lain Amerika juga dilaporkan jatuh dan pilotnya tewas. Pilot ini tewas di kecelakaan saat melakukan latihan penerbangan rutin di negara bagian Carolina selatan.

Pasukan AS Ditarik dari Lima Pangkalan di Afghanistan

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dalam sebuah pernyataan, mengkonfirmasi penarikan pasukan Amerika dari lima pangkalan di Afghanistan.

Pentagon, seperti dikutip Farsnews, Rabu (15/7/2020) mengatakan penarikan pasukan Amerika dari lima pangkalan dilakukan dalam kerangka kesepakatan yang dicapai dengan Taliban pada Februari lalu.

"Jumlah pasukan Amerika di Afghanistan akan berkurang 8.600 orang," tambahnya.

Beberapa media melaporkan bahwa lima pangkalan tersebut diserahkan kepada pemerintah Kabul.

AS dan Taliban menandatangani kesepakatan damai di Doha, Qatar pada 28 Februari 2020. Berdasarkan kesepakatan ini, pasukan AS dan asing akan meninggalkan Afghanistan secara penuh selama 14 bulan ke depan jika Taliban berkomitmen mengurangi kekerasan.

Gallup Poll: Trump, Presiden Terburuk Sepanjang Sejarah AS !

Hasil jajak pendapat terbaru di AS melaporkan Donald Trump menjadi presiden terburuk dalam sejarah negara ini.

CNN mengutip polling terbaru Gallup hari Senin (13/7/2020) menunjukkan, jika Donald Trump kalah dalam pemilu presiden November 2020, maka ia kemungkinan akan dinobatkan sebagai presiden terburuk dalam sejarah AS.

Jajak pendapat Gallup juga menunjukkan bahwa popularitas Trump turun drastis menjadi 38 persen, dan kebanyakan orang AS tidak menyukainya.

Polling juga memperlihatkan tingkat penerimaan terhadap kinerja Trump hanya 40 persen, sementara lebih dari 55 persen lainnya tidak menerima kinerjanya.

Jajak pendapat itu muncul ketika calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden popularitasnya terus melejit melampaui Trump di hampir setiap polling yang dilakukan di AS.

Penyebaran virus Corona tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan, tapi juga berpengaruh terhadap peningkatan angka pengangguran dan kesulitan ekonomi di AS.

Selain itu, Trump juga dikritik karena kebijakannya yang rasis, dan gagal menangani protes anti-rasisme di Amerika Serikat.