AS dan Resesi Ekonomi akibat Pandemi Corona
-
Data Statistik ekonomi AS
Ekonomi Amerika Serikat mengalami resesi paling besar akibat terdampak pandemi Corona. Riset lembaga ISM menunjukkan ekonomi Amerika selama triwulan kedua tahun 2020 mengalami resesi paling dalam sejak resesi besat tahun 2007-2009.
Ekonomi terbesar dunia antara bulan April hingga Juni mengalami penyempitan sebesar 9,5 persen. Indeks ini artinya jika kinerja ekonomi Amerika Serikat di tiga fase berikutnya berjalan seperti saat ini, maka sepertiga ekonomi negara ini akan meleleh akibat krisis Corona dan dampak pandemi ini.
Resesi ini sejak dirilis, laju ekonomi tahunan secara periodik belum pernah terjadi sejak tahun 1947.
Sebelum pandemi COVID-19, penurunan produksi bruto Amerika berkaitan dengan triwulan pertama tahun 1958.
Produk domesitk bruto (PDB) Amerika sejak saat ini turun setiap tahun sebesar 10 persen. Syok ekonomi yang muncul di triwulan kedua tahun ini empat kali lipat lebih besar dan lebih buruk dari resesi musiman selama resesi besar tahun 2007-2009.
Berdasarkan data kantor penelitian ekonomi Amerika, aktivitas ekonomi di negara ini turun sebesar lima persen di triwulan pertama tahun 2020. Penurunan laju ekonomi sama halnya dengan kebangkrutan perusahaan dan meningkatnya angka pengangguran.
Di bulan April sekitar 20 juta orang kehilangan pekerjaan akibat penutupan perusahaan dan tempat kerja.
Bernie Sanders, senator kubu Demokrat dari negara bagian Vermont di pesan Twitternya seraya menyatakanbahwa rakyat Amerika semakin miskin memperingatkan, Corona membuat separuh keluarga Amerika kehilangan pendapatan mereka.
Di cuitannya ia menulis, “Orang kaya semakin kaya, namun lebih dari separuh keluarga Amerika kehilangan pendapatan mereka akibat pandemi Corona. Sementara kekayaan 491 miliarder bertambah 743 miliar dolar. Hal ini tidak baik, Kami membutuhkan sebuah perekonomian untuk semua orang, bukan ekonomi yang hanya untuk orang yang atau kuat.”
Menurut Sanders, volume PDB negara ini selama tiga bulan lalu sedikitnya turun 23 persen.
Dampak merusak pandemi Corona telah menimbulkan kendala besar di tingkat pemimpin Amerika dalam mengelola krisis finansial dan ekonomi. Gedung Putih menuding kubu Demokrat di DPR bertanggung jawab atas kegagalan meraih kesepakatan jangka pendek terkait manfaat tambahan untuk asuransi pengangguran dan menghentikan proses pemacatan pekerja.
Tapi Partai Republik, yang telah menunda pembicaraan formal tentang paket stimulus selama beberapa minggu, sampai saat ini belum berhasil meraih kesepakatan di antara mereka. Salah satu dampak pandemi Corona dan penurunan laju ekonomi Amerika adalah ketimpangan dan kesenjangan ekonomi di negara ini. Sejatinya seperti yang dikatakan Bernie Sanders, orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.
Laman Bloomberg di laporannya menyatakan, kerawanan pangan di antara keluarga Amerika mencapai titik tertinggi dan hampir 30 persen orang selama tujuh hari sebelum 21 Juli tidak memiliki makanan yang cukup untuk dikonsumsi.
Bloomberg menambahkan, berdasarkan riset lembaga jajak pendapat keluarga di pusat statistik Amerika, hampir 23 juta orang tidak memiliki makanan yang cukup untuk satu pekan dan lebih dari lima juta orang selama pekan tersebut tidak memiliki makanan.
Ini adalah kondisi negara yang mengaku sebagai adi daya dunia. Negara yang anggaran militernya lebih dari 700 miliar dolar, namun jutaan warganya tidak memilki makan yang cukup untuk dimakan. (MF)