Washington Post: Kekang Sanksi Iran Lepas dari Tangan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i94068-washington_post_kekang_sanksi_iran_lepas_dari_tangan_as
Surat kabar Amerika Serikat, Washington Post mengatakan tanda-tanda yang jelas terkait keruntuhan sanksi mulai tampak. Menurutnya, sekarang Cina terang-terangan mempermainkan sanksi, dan Iran berani mengabaikan tuntutan Joe Biden agar menjadi pihak pertama yang kembali menjalankan komitmen nuklirnya.
(last modified 2026-03-05T04:17:08+00:00 )
Mar 30, 2021 07:27 Asia/Jakarta
  • Menlu Cina Wang Yi dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif
    Menlu Cina Wang Yi dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif

Surat kabar Amerika Serikat, Washington Post mengatakan tanda-tanda yang jelas terkait keruntuhan sanksi mulai tampak. Menurutnya, sekarang Cina terang-terangan mempermainkan sanksi, dan Iran berani mengabaikan tuntutan Joe Biden agar menjadi pihak pertama yang kembali menjalankan komitmen nuklirnya.

Dikutip Fars News (29/3/2021), surat kabar Washington Post menulis, pemerintahan Presiden Joe Biden mengaku mendukung kampanye tekanan terhadap Iran, tapi saat ini terdapat sinyal yang jelas tentang keruntuhan sanksi, pasalnya Cina akan meningkatkan impor minyak dari Iran dalam jumlah yang cukup fantastis.
 
Semenjak Biden menjabat sebagai Presiden AS, pembelian minyak Cina dari Iran meningkat tiga kali lipat, dan Beijing membuka jalan bagi Tehran untuk menyelamatkan diri, dan memberikan senjata baru kepada negara itu untuk mengatasi tekanan.
 
Hal ini dianggap semakin mempersulit upaya Biden untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir tahun 2015.
 
Peneliti senior Timur Tengah di The Heritage Foundation, Amerika Serikat, James Phillips mengatakan, "Salah besar jika kita membiarkan sanksi-sanksi ini, hingga ke tingkat tertentu, dilemahkan oleh Cina, karena mungkin saja pemerintah AS akan kehilangan senjatanya dalam perundingan dengan Iran."
 
Di sisi lain Brian Katulis, peneliti senior Center for American Progress menuturkan, "Jika Cina berusaha melakukan hal tersebut, maka ketergantungannya terhadap pasokan energi dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk Persia lainnya akan terus berkurang." (HS)