Menelisik Konferensi AIBD di Tehran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i19312-menelisik_konferensi_aibd_di_tehran
Pertemuan Tahunan ke-42 dan Konferensi Umum Asia Pacific Institute for Broadcasting Development (AIBD) ke-15 digelar di Tehran, Iran, Kamis, 25 Agustus 2016. Konferensi dihadiri 45 tamu luar negeri dan para tokoh media Iran dan Asia. Hadir para delegasi dari Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Kamboja, Pakistan, India, Cina, Bangladesh, Vietnam, Bhutan, Sri Lanka, Singapura dan lain-lain.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 01, 2016 05:14 Asia/Jakarta

Pertemuan Tahunan ke-42 dan Konferensi Umum Asia Pacific Institute for Broadcasting Development (AIBD) ke-15 digelar di Tehran, Iran, Kamis, 25 Agustus 2016. Konferensi dihadiri 45 tamu luar negeri dan para tokoh media Iran dan Asia. Hadir para delegasi dari Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Kamboja, Pakistan, India, Cina, Bangladesh, Vietnam, Bhutan, Sri Lanka, Singapura dan lain-lain.

Pemimpin Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Menteri Komunikasi Kamboja, Presiden AIBD, Sekjen Komisi Nasional UNESCO di Iran, Ketua Konferensi Umum AIBD, dan juga para direktur dan delegasi lembaga penyiaran di Asia Pasifik, menghadiri konferensi yang berlangsung selama dua hari, 25-27 Agustus lalu di Tehran.  Pada Konferensi Umum AIBD, IRIB ditunjuk sebagai presiden baru AIBD, untuk periode 2017-2018.

 

Doktor Ali Asgari, pemimpin IRIB, pada pembukaan konferensi tahunan ke-42 AIBD mengatakan, "IRIB merupakan salah satu lembaga penyiaran terbesar di dunia. IRIB didirikan pada tahun 1950 dan sekarang memiliki 31 jaringan televisi dan televisi, di samping 66 stasiun televisi daerah dan 46 jaringan televisi dan radio internasional, yang total mencapai 145 jaringan."

 

Dijelaskannya bahwa saat ini lebih dari 70 persen program IRIB diproduksi di dalam negeri. Press TV, Alalam dan Hispan TV beraktivitas dalam tiga bahasa Inggris, Arab dan Spanyol, serta termasuk di antara jaringan internasional IRIB dengan audiens terbanyak. IRIB memproduksi 5.000 jam program televisi, ratusan film dan ribuan menit film animasi yang sebagiannya juga diekspor ke luar negeri. Di bidang teknis, IRIB telah selama beberapa tahun terakhir menyiarkan program-programnya dengan kualitas high-definition.

 

Di akhir sambutannya, Asgari menekankan bahwa konferensi ini dapat berperan efektif dalam meningkatkan semangat kerjasama, persahabatan dan solidaritas di antara insan media di seluruh wilayah Asia.

 

Asia Pacific Institute for Broadcasting Development (AIBD) dibentuk pada 1977 dan di bawah pengawasan UNESCO. Lembaga antar-pemerintah ini juga memberikan jasa kepada negara-negara anggota komisi Asia-Pasifik serta Dewan Ekonomi dan Sosial PBB. Tujuan pembentukan lembaga ini adalah perputaran ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang media antarnegara anggota, terlepas dari masalah-masalah politik. Lembaga ini memiliki esensi dan mekanisme pelatihan yang bertujuan meningkatkan sumber daya manusia profesional media.

 

Sebagai contoh jika salah satu negara anggota menyatakan memerlukan pelatihan bagi para sutradara dan produsen program anak-anak, maka AIBD akan mengambil langkah-langkah segera untuk mengundang atau mengirim para ahli di bidang ini kepada negara anggota pemohon guna membentuk lokakarya.

 

IRIB telah menjadi anggota AIBD sejak 1992, dan sejak kiprahnya selama 24 tahun terakhir, memainkan peran positif dan efektif di lembaga ini. Khususnya dalam beberapa tahun terakhir, menyusul kebijakan perluasan hubungan media dengan negara-negara Asia-Pasifik, IRIB telah menjalin kerjasama luas dengan anggota AIBD. Sebagai contoh dalam setahun terakhir, IRIB bekerjasama dengan AIBD dalam melaksanakan empat lokakarya. Salah satu di antaranya bertema televisi anak, yang digelar di Universitas IRIB pada November 2015. Dua lokakarya lainnya bertema televisi HD dan DVBT2 akan segera digelar.

 

Universitas IRIB merupakan satu-satunya universitas spesialis di bidang pendidikan media di Asia Barat. Universitas IRIB mencatat pengalaman lebih dari 40 tahun dalam melahirkan sumber daya manusia profesional di bidang media. Tiga fakultas teknis, produksi dan animasi serta komunikasi menyediakan jenjang pendidikan sarjana dan pasca sarjana di bidang teknis, produksi dan animasi, jurnalisme dan manajemen media. Universitas ini juga menyatakan kesiapannya untuk membantu aktivitas AIBD dengan dukungan tim profesional, tenaga pengajar handal dan sarana pelatihan moderen. 

 

Di lain pihak, Saadollah Nasiri Qeydari, Sekjen Komisi Nasional UNESCO, salah satu pembicara pada konferensi AIBD, menyinggung kerjasama lembaga ini dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB dan mengatakan, "Media massa memiliki peran determinan dalam menggapai pembangunan berkesinambungan khususnya  di negara-negara berkembang dan sedang berkembang. Media massa dapat meningkatkan transparansi dan dialog antarmasyarakat, serta mempermudah proses pengambilan keputusan. Juga dapat memberikan bimbingan di bidang pendidikan sosial dan masalah-masalah lingkungan hidup.

 

Ditambahkannya, UNESCO telah menetapkan tanggal 3 Mei sebagai Hari Kebebasan Media Sedunia, dan 13 Februari sebagai Hari Radio Sedunia, dalam rangka memotivasi para pengambil keputusan untuk menciptakan jaringan dan akses informasi melalui radio. Ditegaskannya pula bahwa dalam beberapa tahun terakhir, UNESCO memfokuskan perhatiannya pada kesadaran media khususnya di kalangan pemuda sehingga mereka dapat mengakses informasi dan mampu menganalisanya.

 

Presiden Konferensi Umum Asia-Pacific Institute Broadcasting Development (AIBD) Rosarita Niken Widiastuti, pada sambutannya mendesak media supaya tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat terhadap informasi semata-mata demi daya saing atau mencari keuntungan finansial. Menurutnya, saat ini adalah waktu yang tepat bagi media penyiaran untuk berpikir tentang pentingnya pendidikan publik. Para pimpinan media penyiaran juga perlu mengedepankan sisi kemanusiaan serta memainkan peran dalam memelihara harmoni antar negara, agama, dan ras di seluruh dunia.

 

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia ini juga berharap media penyiaran supaya terus memelihara idealisme serta memberikan tanggapan yang baik terhadap hak publik untuk mengetahui informasi serta hak mereka untuk menerima informasi yang benar dan menghibur. Dia lebih lanjut mengajak institusi media supaya secara bersama-sama memberikan informasi dan hiburan yang mendidik serta menginspirasi, mencerahkan, dan memberdayakan publik.

 

Konferensi Umum AIBD itu sendiri, menurut dia, diharapkan dapat berfungsi sebagai forum untuk mengimplementasikan tugas media dalam "second track diplomacy" serta membangun saling pengertian dan sikap saling menghargai dalam upaya menciptakan perdamaian dan kemakmuran.

 

Mantan Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) itu juga mengemukakan arti pentingnya forum AIBD untuk mencari cara-cara baru dalam menciptakan dan mendistribusikan konten, melibatkan audiens, dan meningkatkan pendapatan melalui model bisnis yang inovatif.

 

Selain itu AIBD harus menjadi organisasi yang terus memperluas keanggotaan sehingga suaranya banyak didengar, selain juga harus menjadi organisasi yang terbuka untuk berkolaborasi dengan banyak mitra guna menghilangkan kesenjangan pengetahuan dan sumberdaya yang ada.

 

Pada konferensi tersebut juga diberikan penghargaan untuk dua program televisi dan dua program radio pilihan di antara 30 program televisi dan 25 program radio dari 17 negara. Penghargaan untuk program televisi terbaik dari AIBD soal revivalisasi budaya yang hilang diraih oleh sebuah program dokumentasi dari Korea Selatan. Adapun penghargaan kedua program televisi terbaik dari AIBD diraih oleh sebuah program bertema perdamaian produksi Press TV, Iran. Di bidang radio, penghargaan AIBD diberikan untuk dua program produksi Cina.