13 Aban, Hari Nasional Melawan Arogansi
Amerika Serikat selama lebih dari setengah abad lalu mengadopsi berbagai tindakan permusuhan terhadap Republik Islam Iran. Di mana titik awal dari permusuhan tersebut dan bagaimana hubungan permusuhan Washington dengan Tehran berubah menjadi sebuah "luka lama," dapat ditemukan dalam sejarah kontemporer Iran.
Intervensi AS di Iran dalam kudeta 28 Mordad adalah termasuk contoh nyata dari upaya-upaya di balik layar AS dan Inggris untuk memperluas pengaruh mereka di negara itu, dimana setelah bertahun-tahun berlalu, dokumen rahasia mengenai intervensi tersebut diungkap.
AS secara resmi mengakui perannya sebagai dalang kekacauan politik di Iran pada tahun 1953. Kekacauan tersebut berujung pada penggulingan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadeq yang sebelumnya terpilih secara demokratis. Pengakuan itu tertuang dalam sebuah dokumen yang dirilis oleh Badan Intelijen AS, CIA kepada Arsip Badan Keamanan Nasional AS (NSA) di Universitas George Washington di Washington, pada 19 Agustus 2013 waktu setempat, bertepatan dengan peringatan 60 tahun operasi penggulingan Mossadeq pada 19 Agustus 1953 (28 Murdad 1332 HS).
Salah satu isi penting dalam dokumen tersebut adalah informasi seputar operasi intelijen penggulingan Mossadeq. Disebutkan bahwa ''Kudeta militer dilakukan di bawah komando CIA. Operasi ini adalah bagian dari kebijakan luar negeri AS.'' Menurut dokumen tersebut, tampilnya Mossadeq sebagai pemimpin Iran merupakan kerugian besar bagi AS. Ia lalu dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang berbahaya bagi Negeri Paman Sam itu. Selanjutnya, CIA bergerak dengan memanipulasi situasi untuk mendorong terjadinya revolusi penggulingan perdana menteri yang dipilih pada tahun 1951 itu.
Peran AS dalam kudeta di Iran ini pernah diakui secara terbuka oleh Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright pada tahun 2000, dan Presiden Barack Obama dalam pidatonya di Kairo pada 2009. Albright mengakui hal itu ketika krisis diplomasi Tehran dan Washington mencapai puncaknya. Dengan pengakuan itu, Albright bermaksud meminta maaf atas tindakan AS terhadap pemerintahan Iran dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Sedangkan, Obama bermaksud menjadikan pengakuan itu sebagai pintu masuk rekonsiliasi dengan Tehran.
Obama ingin merangkul Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad untuk bersikap lebih lunak dan lebih terbuka terhadap Washington. ''Namun, kala itu agen intelijen membantah keterlibatan mereka,'' kata editor dokumen tersebut, Malcolm Byrne. Jadi, inilah kali pertama CIA mengakui peran yang dilakukannya bersama dengan lembaga intelijen Inggris, M16, dalam kudeta di Iran. Dokumen tersebut diperoleh NSA atas kebijakan kebebasan informasi.
Mossadeq terpilih sebagai perdana menteri Iran pada 1951. Setelah berkuasa, ia segera menasionalisasi produksi minyak Iran yang sebelumnya berada di bawah kendali Inggris melalui Anglo-Persia Oil Company yang kemudian menjadi British Petroleum atau BP. Hal ini menjadi sumber kekhawatiran AS dan Inggris, yang melihat minyak Iran sebagai kunci untuk pembangunan kembali ekonomi pasca perang.
Dokumen tersebut lebih lanjut menyebut nama Donald Wilber sebagai perencana operasi penggulingan Mossadeq. Dalam dokumen tulisan tangannya, Wilber mengatakan tidak ada cara yang lebih halus untuk mempermudah urusan selain pelengseran paksa. Wilber menjagokan Shah Muhammad Reza Pahlevi sebagai aktor paling depan dalam penggulingan. Pahlevi pun kembali ke Iran setelah kudeta. Di bawah perlindungan AS dan Inggris, ia sanggup bertahan sampai 1979 ketika ia digulingkan dalam revolusi Islam.
Laporan bersejarah tersebut kepada generasi selanjutnya menceritakan bagaimana para agen AS secara langsung dapat bekerjasama dengan para pejabat militer rezim Shah dan mengangkat atau mencopot perdana menteri. Intervensi-intervensi AS di Iran semakin meluas, bahkan rezim Shah telah mengesahkan sebuah undang-undang yang memberikan imunitas kepada warga Amerika di Iran yang dikenal dengan Undang-undang Kapitulasi. Langkah-langkah tersebut telah menimbulkan sentimen dan ketidakpercayaan rakyat Iran kepada AS dan memunculkan sebuah gerakan Islam untuk mengembalikan kemuliaan, martabat dan independensi Iran.
Imam Khomeini ra berulang kali mengecam intervensi AS dan menyebut negara itu sebagai "Setan Besar." Beliau dalam pernyataannya pada 4 Aban 1343 (November 1964) menyebut UU Kapitulasi sebagai "Dokumen perbudakan bangsa Iran." Meskipun Imam Khomeini kemudian di asingkan, namun gerakan anti-arogansi rakyat Iran terus belanjut, bahkan perlawanan terhadap kebijakan AS berakhir dengan kemenangan Revolusi Islam, dan dominasi politik, militer dan ekonomi Washington terhadap Iran pun lenyap.
Republik Islam yang muncul dari kebangkitan rakyat Iran dan berslogan mempersatukan dunia Islam dan menentang penindasan, telah berubah menjadi penghalang serius bagi pengaruh kekuatan-kekuatan arogansi dunia. Berakhirnya periode rezim taghut di Iran telah menjadi awal babak baru bagi permusuhan AS terhadap negara ini. Kemarahan rakyat Iran dan penguasaan terhadap sarang mata-mata Washington (Kedutaan Besar AS) di Tehran oleh para mahasiswa pendukung revolusi pada 13 Aban, menyebabkan permusuhan Gedung Putih meningkat.
Lembaran keemasan 13 Aban 1358 HS (4 November 1979) dalam sejarah Revolusi Islam adalah pengingat tiga peristiwa penting selama tiga dekade sensitif dari sejarah Revolusi Islam Iran dalam melawan arogansi dunia. Hari tersebut bertepatan dengan pengasingan Imam Khomeini ke Turki dan pembantaian massal para siswa oleh rezim taghut menjelang kemenangan Revolusi Islam (yang kemudian disebut sebagai "Hari Siswa"), serta titik balik dalam proses anti-arogansi rakyat Iran, yang berlanjut dengan pendudukan sarang mata-mata AS di Tehran oleh para mahasiswa pendukung Imam Khomeini.
Sejak pendudukan sarang mata-mata AS oleh para mahasiswa Iran, Washington melancarkan berbagai manuver luas politik, blokade ekonomi dan ancaman serta intervensi militer terhadap Tehran dengan mengirim pasukan ke Iran. Peristiwa Tabas adalah bentuk intervensi militer langsung AS terhadap Iran. Pada malam 5 Ordibehest 1359 HS (April 1980), pasukan AS dengan sejumlah helikopter dan pesawat tempur serta 90 komando khusus memasuki wilayah Iran dan mendarat di padang pasir Tabas. Misi mereka adalah menyerang dua pusat penahanan para agen AS untuk membebaskan mereka dan kemudian membombardir pusat-pusat sensitif di Iran. Rencana tersebut dilakukan dengan bantuan kelompok-kelompok anti-revolusi yang telah disiapkan sebelumnya.
Misi tersebut gagal dengan memalukan setelah sebuah angin topan di luar perkiraan, menerjang dan menghanguskan sejumlah pesawat dan helikopter serta sembilan tentara. Mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan wilayah Iran. Peristiwa tersebut menjadi noktah hitam dalam sejarah Amerika yang dipenuhi dengan berbagai bentuk kejahatan.
Sejak tahun 1987, AS telah memajukan strategi intervensif langsung untuk mencegah kekalahan Irak dalam agresinya di Iran. Bentrokan pasukan AS dengan pasukan Angkatan Laut Iran di Teluk Persia, serangan terhadap kapal Sahand dan Sabalan milik Iran, dan serangan terhadap kilang-kilang minyak negara itu termasuk dari strategi Washington untuk membantu rezim Saddam.
Selain itu, serangan kapal perang AS, Vincennes terhadap pesawat penumpang Iran yang menewaskan 290 pengumpang pada tanggal 12 Tir 1367 (Juli 1988), juga membuktikan kejahatan negara itu terhadap rakyat Iran. Namun anehnya, komandan kapal Vincennes yang memerintahkan penembakan terhadap pesawat sipil tersebut justru diberi penghargaan. Di sisi lain, pemerintah AS juga mendorong sekutu dekatnya, Arab Saudi untuk mengurangi harga minyaknya supaya Iran tidak dapat menjual minyak yang merupakan sumber penting pendapatannya untuk membiayai pertahanan dalam perang melawan Irak.
Sejak kemenangan Revolusi Islam, kemarahan dan permusuhan AS terhadap Iran memuncak. Sebab, sejak pemerintah Islam di Iran berdiri, strategi ganda AS di kawasan menemui hambatan besar. Oleh karena itu, Washington mengerahkan segenap kemampuannya untuk menggulingkan Republik Islam Iran, namun hingga sekarang Gedung Putih tidak dapat menggapai ambisinya tersebut.
Hingga saat ini perilaku AS tidak berubah dan hanya trik-triknya saja yang mungkin bisa dikatakan berbeda. AS yang mengklaim sebagai pembela kebebasan sipil dan penentang terorisme, selama betahun-tahun telah melakukan skandal besar dan pelanggaran HAM dengan aksi spionasenya terhadap negara-negara lain, bahkan negara sekutunya dengan dalih menjamin keamanan. Washington juga mendukung berbagai kelompok teroris di Suriah dan di negara-negara lainnya yang tidak sejalan dengan kebijakannya.
Ketika menyinggung pernyataan para pejabat AS untuk berunding dengan Iran, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya pada 21 Juli mengatakan, "AS tidak dapat dipercaya dan tidak logis, dan perilaku mereka tidak benar." Poin penting dari perilaku pejabat-pejabat Washington yang selalu ditegaskan oleh Rahbar adalah pertentangan antara perkataan dan perbuatan mereka.
Hingga kini AS terus melanjutkan kebijakan-kebijakan anti-Iran seperti memberlakukan berbagai sanksi sepihak dengan bekerjasama dengan sekutu Baratnya.