Kerjasama Strategis Iran, Rusia dan Azerbaijan
Tehran, Ibukota Republik Islam Iran pada Rabu (1/11/2017), menjadi tuan rumah pertemuan puncak para pemimpin Iran, Rusia, dan Republik Azerbaijan. KTT satu hari ini fokus pada berbagai isu, termasuk masalah bilateral, regional, dan internasional, dan perkembangan terbaru yang berkaitan dengan Tehran, Moskow, dan Baku, serta kerja sama kontra-terorisme.
KTT ini dianalisa oleh banyak media dan kalangan politik dari berbagai aspek sebagai pertemuan, yang mengejar tujuan-tujuan strategis. KTT Tehran adalah pertemuan tripartit kedua antara pemimpin Iran, Rusia, dan Azerbaijan, sementara pertemuan pertama telah dilaksanakan di Baku pada Agustus 2016.
Dalam rentang waktu antara dua pertemuan tersebut, berbagai transformasi penting terjadi di wilayah Asia Barat, dan perimbangan keamanan juga berubah dalam perang melawan kelompok teroris Daesh di Irak dan Suriah. Selain itu, kepemimpinan Presiden Donald Trump di AS telah menciptakan ketegangan dalam hubungan internasional, dan iklim positif yang tercipta pasca kesepakatan nuklir, mulai terancam oleh inkonsistensi Washington.
Namun, terlepas dari situasi tegang ini, peran Iran dalam membantu menciptakan stabilitas dan keamanan di kawasan tampak lebih besar dan perundingan Astana ketujuh telah digelar untuk mewujudkan perdamaian di Suriah dengan hasil yang menjanjikan. Kini, upaya bersama Iran-Rusia telah membuka jalan mereka di tengah pemberontak Suriah dan upaya ini mendapat dukungan pada tingkat regional dan internasional.
Sikap tegas Rusia dalam mendukung kesepakatan nuklir Iran dan konfirmasi kepatuhan penuh Tehran atas komitmennya, merupakan isu penting lainnya yang menyita perhatian dunia, seiring dengan berlangsungnya KTT Tehran. Dunia juga meningkatkan fokusnya pada isi pembicaraan Presiden Rusia dalam pertemuan dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.
Presiden Vladimir Putin dalam pembicaraan dengan Ayatullah Sayid Ali Khamenei di Tehran, menegaskan kembali dukungan Rusia kepada kesepakatan nuklir Iran atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). "Moskow memandang perubahan prinsip-prinsip dasar Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebagai pekerjaan yang keliru, dan menentang upaya mengaitkan program nuklir Iran dengan isu-isu lain, termasuk masalah pertahanan," tegas Putin.
Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menilai kerja sama kolektif untuk melawan sanksi Amerika terhadap Iran dan Rusia, penting dan juga menganggap statemen Putin terkait JCPOA dan perlunya menghormati perjanjian multilateral adalah baik. Rahbar mengatakan, "Sayangnya, AS terus mempertontonkan keangkuhannya dan ini harus dilawan dengan mengandalkan akal dan cara-cara yang benar."
"Perlawanan bersama Tehran-Moskow terhadap teroris Takfiri, yang didukung oleh beberapa negara asing juga membawa hasil-hasil penting. Kekalahan koalisi Amerika pendukung teroris di Suriah adalah fakta yang tak terbantahkan, tapi mereka masih sibuk menyusun konspirasi. Jadi, penyelesaian penuh masalah Suriah membutuhkan kelanjutan kerja sama yang kuat," kata Ayatullah Khamenei.
Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pertemuan dengan Putin, menganggap penting kerja sama multilateral, regional, dan internasional Iran-Rusia dalam memecahkan berbagai persoalan dan krisis. Rouhani menuturkan, "Iran memandang instabilitas di kawasan merugikan semua negara, dan mendukung pengembangan stabilitas dan keamanan di wilayah ini."
Pentingnya pertemuan tripartit Tehran dapat ditinjau dari tiga aspek berikut. Pertama, KTT Tehran memperlihatkan peran besar Republik Islam Iran dalam mengembangkan hubungan strategis dan menguntungkan dengan para tetangganya. Memperhatikan kepentingan bilateral dan multilateral dengan negara-negara tetangga di utara dan Republik Azerbaijan, kembali menunjukkan bahwa Tehran sedang mencari interaksi yang sesuai dengan realitas dan ingin memperluas bidang kerja sama regional.
Kedua, KTT Tehran merupakan pandangan realistis terhadap isu-isu dan tantangan keamanan serta bagaimana cara menghadapi ancaman-ancaman kolektif. Dalam hal ini, Tehran menjadi tuan rumah pertemuan puncak tripartit dengan tangan penuh dan rapor yang baik dalam mentransfer kemampuannya kepada negara-negara kawasan untuk menyelesaikan krisis dan mengatasi ancaman.
Dan ketiga, KTT Tehran menekankan kepentingan bersama ketiga negara peserta dalam kerangka kerja sama regional, yang fokus pada Koridor Utara-Selatan. Rute transit ini penting dari sudut pandang ketiga negara sebagai jalur penghubung antara Timur dan Barat.
Rute transit Utara-Selatan akan menghubungkan negara-negara Teluk Persia dan India melalui wilayah Iran ke Azerbaijan dan dari negara ini ke Rusia, dan Eropa Utara dan Timur. Pada dasarnya, koridor ini akan memainkan peran penting di sektor perdagangan. Koridor ini juga mengejar tujuan lain berupa proyek-proyek ekonomi seperti, Persatuan Ekonomi Eurasia, yang akan memperluas hubungan negara-negara Asia Tengah dan Kaukasus dengan Iran, dan mempromosikan perluasan dan penguatan hubungan regional.
Dari segi bilateral, KTT Tehran memberikan kesempatan untuk memperkuat hubungan Iran dengan negara-negara Kaukasus Selatan dan Rusia.
Dapat dikatakan bahwa sebagian besar fokus hubungan Tehran-Moskow dalam beberapa tahun terakhir ditujukan untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran, namun sekarang level interaksi kedua pihak telah memasuki babak baru. Babak baru ini terjalin karena ancaman kolektif yang dihadapi kedua pihak dan perkembangan regional. Beberapa pengamat percaya bahwa kerjasama ini telah menyentuh isu-isu strategis.
Seorang peneliti senior di bidang Eurasia, Doktor Mahmoud Shoori mengatakan, "Dengan infrastruktur yang telah dibangun dalam hubungan Iran-Rusia selama tiga tahun terakhir, maka hubungan yang lebih stabil dan lebih serius bisa disaksikan di masa mendatang."
Presiden Putin, menyatakan sangat puas atas kunjungannya ke Tehran dan juga pertemuannya dengan Ayatullah Khamenei. Ia menegaskan, "Iran adalah mitra strategis dan tetangga besar, dan kami akan memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan untuk memperluas dan memperkuat hubungan di semua bidang."
Putin juga menilai posisi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, sangat efektif dalam mewujudkan tujuan bersama di Suriah dan mengatakan setiap perubahan di negara manapun termasuk Suriah, harus datang dari dalam.
Hubungan bilateral antara Iran dan Republik Azerbaijan juga mencatat lompatan yang baik dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Ilham Aliyev sudah tiga kali mengunjungi Iran dalam tiga tahun terakhir, dan dalam kunjungan bulan Maret lalu, kedua negara menandatangani lebih dari 120 dokumen penting kerja sama bilateral.
Dalam pertemuan dengan Pemimpim Besar Revolusi Islam Iran, Ilham Aliyev menilai kehadirannya di Iran ibarat pulang ke rumah sendiri, dan ia juga memaparkan perkembangan kerja sama antara Tehran dan Baku. Ia mengatakan, "Republik Azerbaijan sedang memperkuat hubungan ekonomi dan budayanya dengan Iran, dan memiliki tekad serius agar hubungan ini bersifat permanen dan stabil."
Hubungan antara Iran dan Republik Azerbaijan juga diperkuat oleh aspek lain, yang selalu dianggap penting dari perspektif Tehran. Dalam hal ini, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Mayoritas penduduk Azerbaijan, seperti Iran dan Irak, adalah pengikut mazhab Ahlul Bait as. Kita harus menghargai kesempatan besar ini dan upacara-upacara duka yang digelar oleh pengikut Syiah di Azerbaijan, karena ini akan memperkuat identitas bangsa dan negara Republik Azerbaijan."
Presiden Hassan Rouhani dalam pertemuan dengan mitranya dari Azerbaijan, mengatakan bahwa pembangunan rel kereta api Rasht-Astara Azerbaijan – sebagai proyek bersama kedua negara – merupakan sebuah langkah penting dalam pengembangan hubungan transit di Koridor Utara-Selatan. "Semua harus berusaha memanfaatkan kapasitas dan kapabilitas yang ada di kedua negara demi memenuhi kebutuhan Iran dan Republik Azerbaijan," tegasnya.
Sekarang bisa kita katakan bahwa isu-isu tersebut akan menyediakan ruang yang lebih besar bagi pengembangan hubungan trilateral. Dialog antara Presiden Iran, Rusia, dan Republik Azerbaijan, serta pertemuan mereka dengan Rahbar, mencerminkan tekad ketiga negara untuk menuju perubahan besar dalam hubungan multilateral antara ketiga negara tersebut; sebuah hubungan untuk kepentingan bangsa-bangsa regional, perdamaian, dan keamanan kolektif.