Menelisik MTQ Internasional Iran ke-35
Iran kembali menggelar agenda tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional ke-35 yang berlangsung dari 19 hingga 25 April 2018 di Mushala Besar Imam Khomeini Tehran. Even besar al-Quran ini diikuti 370 orang perwakilan dari 84 negara Muslim.
Tahun ini, MTQ internasional Tehran mengusung tema "Satu Kitab, Satu Umat". Pembukaan acara digelar hari Kamis (19/4/2018) bersamaan dengan masuknya awal bulan Sya'ban.
Ketika al-Quran dilantunkan, semua dengan khidmat mendengarkannya. Sesekali terdengar suara "Allah, Allah" bergema yang keluar dari mulut para hadirin yang menyimak dengan seksama keindahan al-Quran yang dilantunkan para qari.
Al-Quran di surat al-Zumar ayat 23 menjelaskan, "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk."
Ayatullah Javadi Amoli dalam acara pembukaan MTQ internasional Tehran ke-35 mengungkapkan, "Rasulullah Saw bersabda, 'Al-Islamu Ya'lu wa la Yu'la alaih", Islam agung dan tidak ada yang lebih agung darinya; ajaran wahyu Quran dan ithrah senantiasa menang dan unggul, tidak ada ajaran yang setara dengan wahyu ilahi; hal ini menunjukkan komprehensivitas dan otoritas al-Quran yang berpijak dari dua unsur penting yang ditegaskan dalam berbagai seminar dan pertemuan terkait. Pertama, Al-Quran memenuhi kebutuhan keyakinan, akhlak, hukum, fiqih dan lainnya. Kedua sebagai sumber rujukan seluruh masalah keagamaan,".
Allah swt menjadikan Al-Quran sebagai tali pengikat yang paling kuat. Al-Quran sendiri menggambarkannya dengan sebuah pohon besar yang akarnya menghunjam ke tanah dan rantingnya menjulang ke langit, sehingga tidak pernah goyah menghadapi guncangan maupun hantaman yang menghadang.
Seorang hafiz al-Quran dari Mesir, Mohammad Rashad Abdul Sami' Aziz berkata, "Quran titik balik perubahan dalam diri saya. Sumber kebahagiaan, bahkan bisa dikatakan bagian dari seluruh hidup saya. Barangkali saya bisa tahan tidak makan dan minum, tapi tidak tanpa al-Quran. Sebab al-Quran tidak lain dari udara dalam kehidupan,".
Al-Quran memainkan peran penting dalam memberikan petunjuk dan persatuan umat Islam. Kepala Badan Wakaf Iran, Alireza Abid menilai perpecahan di kalangan bangsa-bangsa Muslim membuka jalan bagi kekuatan adidaya dan zionis internasional untuk mewujudkan tujuan destruktif mereka. Musabaqah Tilawatil Quran ke-35 sebagai salah satu peluang untuk mewujudkan persatuan muslim.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para peserta Musabaqah Internasional Tilawatil Quran ke-35 di Tehran, Kamis (26/4/2018) pagi mengatakan bahwa satu-satunya kunci untuk kemajuan dan kebahagiaan umat Islam adalah mengamalkan al-Quran.
"Al-Quran menasehati kita, 'orang-orang mukmin harus bersatu dan memiliki ikatan persaudaraan serta sama sekali tidak menjalin hubungan dengan front kafir," tambahnya.
Sayangnya, hari ini kita menyaksikan beberapa negara Muslim menjalin hubungan dengan rezim Zionis dan dampak dari tidak mengamalkan perintah al-Quran ini adalah perang dan kejahatan saat ini di kawasan.
Ayatullah Khamenei lebih lanjut menuturkan, "Lihatkan kondisi rakyat Yaman yang terjebak dalam sebuah petaka dan pesta pernikahan mereka berubah menjadi upacara duka atau kondisi rakyat Afghanistan, Pakistan dan Suriah; semua masalah ini karena persaudaraan sesama Muslim telah dilupakan dan perintah al-Quran tidak diamalkan,".
Rahbar menekankan bahwa jika tilawah dan menghafal al-Quran adalah mukaddimah untuk mengamalkannya, sudah pasti masa depan dunia Islam akan lebih baik dari hari ini, dan AS tidak akan mampu lagi mengancam negara-negara lain dan kaum Muslim.
Pada acara penutupan MTQ internasional ke-35 dibacakan deklarasi bersama yang menekankan pentingnya berpegang teguh menjaga persatuan. Selain itu, disinggung kewapasdaan dunia Islam menghadapi konspirasi zionis internasional yang terus-menerus menciptakan perpecahan di tengah umat Islam. Statemen bersama MTQ internasional ini juga menegaskan urgensi berpegang teguh kepada al-Quran dan menjalankan ajarannya sebagai solusi tunggal untuk menyelamatkan umat Islam.
Acara ini ditutup hari Rabu (25/4) dengan dihadiri Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani. Dalam pidatonya, Ali Larijani mengatakan, "MTQ ini sebagai contoh dari model pengembangan budaya di dunia yang menegaskan pandangan sebagian ahli bahwa pengembangan budaya sebagai infrastruktur masyarakat. Substansi pertumbuhan dan pengembangan sebuah masyarakat adalah jalan al-Quran,".
"Jalan Al-Quran adalah mencintai al-Quran, dan ini adalah tradisi al-Quran sendiri…. sebuah kitab ilahi yang dijadikan sebagai prinsip yang meliputi rahmat dan menjauhi kelaliman. Rasulullah Saw bersabda, 'Orang yang membawa al-Quran adalah orang yang paling utama, paling khusuk' dan tingkatan tertinggi di hadapan Allah. Orang-orang yang membaca al-Quran akan mencapai tahapan itu," tegasnya.
MTQ internasional ke-35 digelar dalam lima kategori yaitu: putra, putri, tunanetra, mahasiswa dan santri (pelajar agama). MTQ putra, putri dan tunanetra diselenggarakan di Mushalla Tehran. Sementara itu, musabaqah untuk bagian mahasiswa dan santri digelar di kota Qom dan Mashhad.
Pemenang pertama untuk kategori Qiraah, Alireza Rezaie dari Afghanistan di susul Sayed Mostafa Hosseini dari Iran di urutan kedua, dan Abbas Mostafa Shiri dari Lebanon di posisi ketiga.
Juara untuk kategori hafiz al-Quran diraih oleh Mostafa Esfahanian dari Iran yang disusul Mohammad Rashad Abdul Sami' Aziz dari Mesir, dan Ihsan Ilahi Abulhasham dari Bangladesh di posisi kedua dan ketiga.
Untuk kategori putri juara pertama ditempati oleh Hakimeh Naseri dari Iran, kemudian disusul Aqilah bin Koresh dari Aljazair dan Asyura Aman Laila Naqi dari Tanzania.
Dari kalangan tunanetra, posisi pertama untuk hafiz seluruh al-Quran diraih Muhammad Anis dari India, disusul Akram Achor dari Turki, dan Muhammad al Said Abdul Ghani Al-Qamiri dari Mesir. Adapun untuk kategori qiraat diraih oleh Muhammad Qaim dari Malaysia di posisi pertama, Amir Reza Rahimi dari Iran di posisi kedua dan Hosein Mohammad Shalal dari Irak diperingkat ketiga.
Pemenang kategori santri atau pelajar agama untuk kriteria pemahaman al-Quran diraih oleh Mohamamd Zahedi dari Iran, disusul Ali Hassan Abdul A'la dari Irak dan Mohamamd reza Nuri dari Afghanistan. Sedangkan kategori hafiz diraih oleh Mahmoud Nouruzi dari Iran, Ahmad Yasiri Mohamamd dan Mohammad Tijani dari Ghana. MTQ Internasional ke-35 berakhir hari Rabu (25/4).