13 Aban, Puncak Kedengkian AS, Simbol Persatuan Iran (2)
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i63592-13_aban_puncak_kedengkian_as_simbol_persatuan_iran_(2)
Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Amerika Serikat gencar melancarkan kejahatannya terhadap Iran, di antaranya dengan memaksakan perang dan mendukung rezim Saddam di Irak serta kelompok-kelompok teroris. Amerika berusaha memperluas Iranfobia dan sanksi dengan menjalankan konspirasi-konspirasinya terhadap Republik Islam.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 29, 2018 17:21 Asia/Jakarta
  • peringatan 13 Aban
    peringatan 13 Aban

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Amerika Serikat gencar melancarkan kejahatannya terhadap Iran, di antaranya dengan memaksakan perang dan mendukung rezim Saddam di Irak serta kelompok-kelompok teroris. Amerika berusaha memperluas Iranfobia dan sanksi dengan menjalankan konspirasi-konspirasinya terhadap Republik Islam.

Terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah Amerika di awal kemenangan Revolusi Islam Iran menjalankan rencana jahatnya untuk memecah belah Iran, sebagai salah satu metode melemahkan pemerintahan Republik Islam.

Salah satu contohnya, di awal kemenangan Revolusi Islam Iran, kedutaan besar Amerika di Tehran digunakan sebagai sarang mata-mata dan pusat koordinasi di antara anasir-anasir anti-revolusi.

Dalam salah satu dokumen yang berhasil didapatkan dari kedubes Amerika di Tehran terungkap bahwa Washington bermaksud menggunakan isu etnis untuk menggulingkan pemerintahan Islam di Iran.

Dalam dokumen rahasia yang sudah dikategorisasi itu disebutkan, jika etnis Kurdi, Azari, Arab dan yang lainnya berusaha menjalin koordinasi dan bekerjasama serta saling mendukung untuk menggulingkan pemerintahan Islam, maka kami percaya terbuka kemungkinan untuk berhasil.

Pada kenyataannya, Amerika sejak awal kemenangan Revolusi Islam di Iran telah memulai upayanya untuk meruntuhkan Revolusi Islam dan menundukkan rakyat Iran, pasalnya Gedung Putih mengetahui dengan baik bahwa kemenangan Revolusi Islam di Iran akan menjadi awal perubahan besar.

Realitasnya tuntutan kemerdekaan dan keadilan yang disuarakan rakyat Iran telah menantang dominasi kekuatan adidaya dan imperialis global terhadap bangsa-bangsa lemah dan menyebabkan tuntutan keadilan semakin kencang.

Salah seorang pengamat politik Arab terkait hal ini mengatakan, kemenangan Revolusi Islam di Iran mempengaruhi banyak negara dan bangsa, dan ini merupakan peluang baru bagi gerakan dan kelompok perlawanan untuk menuntut kebebasan dan kemerdekaan.

Akan tetapi bahkan sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, kebijakan-kebijakan anti-Iran sudah dijalankan Amerika sejak tahun-tahun awal dekade 50-an dengan mendesain kudeta 28 Mordad atau Operation Ajax.

Salah seorang pengamat politik Iran menuturkan, kudeta Iran adalah operasi rahasia pertama terhadap sebuah pemerintahan oleh agen rahasia Amerika, CIA yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir pemerintahan Presiden Harry S. Truman.

Mantan presiden Amerika, Barack Obama dalam bukunya "The Audacity of Hope" yang terbit tahun 2006 dan ditulis saat ia menjadi senator, menyinggung kudeta 28 Mordad dan hal ini merupakan indikasi seputar intervensi sewenang-wenang pemerintah Amerika atas urusan dalam negeri negara lain dan upaya untuk menghimpun negara-negara dengan mendukung sebuah politikus kuat.

Surat kabar The Washington Post pada November 2016 memuat sebuah artikel yang mengungkap keterlibatan Amerika dalam kudeta 28 Mordad (Agustus 1953) di Iran dan terkait pandangan para pejabat baru Amerika soal urgensi pergantian rezim di Iran menulis, para pejabat pemerintah Amerika menunjukkan seolah lupa sejarah dan tengah melakukan sebuah permainan berbahaya yang dapat berujung dengan kekalahan dirinya sendiri.

Kolumnis di Washington Post menulis, mungkin saja warga Amerika merasa bahwa kudeta ini sudah terlupakan, tapi sebenarnya masalah ini tetap tersimpan dalam benak banyak orang di Asia Barat.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Sejarawan Iran, Ervand Abrahamian sehubungan dengan hal ini mengatakan, mantan duta besar Amerika untuk Iran di tahun 1951-1955, Loy W. Henderson terkadang dengan wajah serius menuturkan, kebijakan asasi Amerika adalah menghindari intervensi atas urusan dalam negeri negara lain. Namun kemudian tanpa perasaan bersalah negara ini melakukan intervensi.

Permusuhan dan intervensi dalam urusan internal Iran merupakan salah satu bagian dari kebijakan pemerintah Amerika terhadap Iran yang tak pernah ada akhirnya.

Kubu imperialisme global pimpinan Amerika selama lebih dari 30 tahun sejak kemenangan Revolusi Islam Iran berulangkali melakukan kejahatan terhadap bangsa Iran.

Di antara kejahatan tersebut adalah penembakan jatuh pesawat komersial Iran dengan 290 penumpangnya oleh rudal yang ditembakkan kapal perang Amerika, USS Vincennes di Teluk Persia.

George Bush mantan wakil presiden Ronald Reagan terkait kejahatan Amerika ini mengatakan, saya tidak akan pernah meminta maaf atas nama Amerika. Saya tidak peduli apa yang sudah mereka lakukan. Saya tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi.

Langkah permusuhan Amerika terhadap Iran, seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir, memasuki arena internasional dan didesain dalam kerangka isu-isu seperti nuklir dan Iranfobia dengan maksud untuk mengucilkan Iran.

Pasalnya, Amerika tahu benar bahwa konfrontasi langsung atau konspirasi semacam kudeta dan penggulingan pemerintahan dari dalam, tidak efektif lagi bagi Iran.

Langkah permusuhan ini dipusatkan pada tiga konspirasi utama, pertama, memberikan gambaran keliru tentang Revolusi Islam dan mengenalkan Iran sebagai sebuah pemerintahan yang menganggu stabilitas regional. Konspirasi ini merupakan bagian dari kebijakan asli Amerika di kawasan Timur Tengah dan terus dijalankan hingga kini.  

Konspirasi kedua adalah blokade politik dan ekonomi Iran dalam kerangka sanksi dan upaya menghambat kemajuan Iran di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan hubungan internasional. Konspirasi inilah yang sekarang sedang dijalankan Amerika.

Konspirasi ketiga terkait strategi Amerika terhadap Iran adalah menciptakan gangguan keamanan di wilayah sekitar Iran dan membatasi kemampuan pertahanan negara ini. Konspirasi ini sekarang dipusatkan pada rudal dan kekuatan pencegahan Iran di kawasan.

Pada kenyataannya, pondasi dan substansi asli kebijakan Amerika adalah melanjutkan konspirasi-konspirasi tersebut, namun dalam bentuk dan kemasan yang baru.

Hal ini tampak jelas dalam keputusan-keputusan kontroversial yang diambil Presiden Amerika, Donald Trump. Konspirasi-konspirasi itu juga membuktikan permusuhan tegas Amerika terhadap bangsa Iran dibandingkan dengan masa lalu.

Dalam pandangan Iran, perilaku dan langkah permusuhan Amerika atas Iran adalah indikasi dari sebuah realitas yang disampaikan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar dalam setiap pidatonya yang menjelaskan tentang target dan permusuhan Amerika.

Rahbar berulangkali mengatakan, Amerika sedang mencari kesempatan untuk memaksakan kehendaknya terhadap bangsa Iran dan substansi Amerika saat ini tidak lain adalah substansi Amerika di masa pemerintahan Ronald Reagan, dan tidak ada bedanya antara Partai Demokrat atau Republik.

Peristiwa-peristiwa di atas merupakan cerminan dari substansi nyata Amerika, dan untuk kesekian kalinya menunjukkan kembali wajah asli Amerika yang menyebabkan rakyat Iran setiap tahunnya memperingati 13 Aban dengan melakukan pawai dan meneriakkan "Mampus Amerika" untuk memperlihatkan kebencian mereka atas pemerintahan Amerika. (HS)