Tuhan yang Mencari-cari Alasan untuk Memaafkan Hamba-Nya
-
Hujjat Al-Islam wal-Muslimin Morteza Agha Tehrani
Pars Today - Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, sebuah pesan menyentuh hati datang dari Kota Suci Qom. Seorang ulama Iran mengajak kita merenungkan hakikat kasih sayang Ilahi yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Mengenal Tuhan Lewat Sifat-sifat-Nya
Hujjat Al-Islam wal-Muslimin Morteza Agha Tehrani, pakar etika dari Hauzah Ilmiah Qom, dalam sebuah majelis sahur di Masjid Suci Jamkaran, mengungkapkan sebuah perspektif indah tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Ia menjelaskan bahwa Ahlulbait, dalam doa-doa mereka, selalu memperkenalkan Tuhan terlebih dahulu melalui sifat-sifat-Nya. "Mereka ingin kita mengenal Allah dengan benar, baru setelah itu kita bisa berharap kepada-Nya berdasarkan pengenalan itu," ujarnya.
Ketika seseorang benar-benar yakin bahwa Tuhannya Maha Pemurah dan Maha Penyayang, secara alami ia akan mengharapkan perlakuan yang penuh kelembutan dan kemuliaan. Dan jika sekali waktu ia merasa tidak mendapatkannya, ia akan heran, bukannya marah atau berprasangka buruk. Karena keyakinannya bahwa Tuhannya Maha Baik tidak akan pernah goyah oleh satu kejadian yang belum ia pahami sepenuhnya.
Menghitung Nikmat yang Tak Terlihat
Agha Tehrani mengajak kita untuk sekadar melihat ke belakang. Berapa banyak musibah yang tidak jadi menimpa? Berapa kali kita nyaris jatuh tetapi diselamatkan? Penyakit yang tak jadi datang, aib yang tertutup rapat, kesulitan yang tiba-tiba terurai, semua itu adalah bukti cinta Tuhan yang tak pernah putus. Bahkan ketika kita tergelincir dalam dosa, Ia tak membiarkan kita terpuruk sendirian.
Ia mengutip sebuah penggalan indah dari Doa Iftitah: "'Atsartu qad aqaltaha", "Aku tergelincir, dan Engkau memaafkanku." Kalimat ini, katanya, menunjukkan betapa banyak kesalahan dan kekeliruan yang telah Tuhan hapuskan tanpa kita sadari. "Seandainya Dia memperlakukan kita dengan keadilan mutlak, tanpa sedikit pun rahmat, tak seorang pun di antara kita yang sanggup menanggung konsekuensi perbuatannya," tegasnya.
Bukan Sekadar Memaafkan, Tetapi Juga Menutupi Aib
Lebih dari itu, Agha Tehrani menyoroti satu keistimewaan lain dari kasih sayang Ilahi: Ia tidak hanya mengampuni, tetapi juga menjaga nama baik hamba-Nya di mata manusia. Sering kali, orang-orang di sekitar kita memandang kita lebih baik daripada yang sebenarnya layak kita terima. Itu bukan karena kepura-puraan sosial, tetapi karena tabir rahmat yang ditebarkan Tuhan di sekeliling kita.
Ini adalah pelajaran besar tentang bagaimana Tuhan memperlakukan kita. Ia seperti kekasih yang terus mencari-cari alasan untuk membenarkan orang yang dicintainya. Setiap kali kita datang dengan kesalahan, Ia menyambut dengan pintu maaf yang lebih lebar. Setiap kali kita tergelincir, Ia ulurkan tangan yang tak pernah lelah menolong.
Mengubah Cara Pandang
Pesan yang disampaikan Agha Tehrani ini mengandung terapi spiritual yang dahsyat. Di tengah tekanan hidup yang sering membuat kita merasa tertimpa murka, di saat kegagalan membuat kita merasa ditinggalkan, kita diajak untuk mengubah cara pandang. Bukan Tuhan yang menjauhi kita, justru kita yang sering kali lalai mendekat. Bukan Tuhan yang mencari-cari alasan untuk menghukum, justru sebaliknya: Ia selalu mencari celah untuk mengampuni.
Memahami hakikat ini, kata Agha Tehrani, akan menumbuhkan optimisme dan kepercayaan yang tak pernah putus kepada Sang Pencipta. Di bulan suci ini, mungkin inilah saat yang tepat untuk merenungkan kembali, seberapa sering kita lupa bahwa kita sedang dikelilingi oleh cinta yang tak pernah benar-benar pergi.(sl)