Mar 25, 2024 20:12 Asia/Jakarta
  • tentara Rezim Zionis
    tentara Rezim Zionis

Di tengah babak baru kejahatan dan agresi militer Israel, terhadap rakyat Palestina, narasi dominan yang lebih banyak dimunculkan di media-media arus utama Barat, tetap menguntungkan Israel, meski tidak eksplisit.

Tujuan dari wacana media massa tersebut, sampai di sini adalah mengusung tema netralitas, dan berusaha menggambarkan pertempuran di Palestina, sebagai pertempuran dua pihak. 
 
Oleh karena itu, pemboman brutal Israel, ke Gaza, yang menyebabkan ribuan warga sipil gugur, digambarkan sebagai bela diri, balasan atas serangan Hamas, balasan atas penggunaan warga sipil sebagai tameng hidup, dan merupakan tindakan rasional.
 
Israel sendiri mengetahui dengan baik bahwa pemahaman akan membentuk realitas. Sementara ia juga tahu bahwa kejahatan perang tanpa hukuman yang sedang dilakukannya bisa berlanjut lewat mesin propaganda kuat yang dipakai melawan kecaman, dan solidaritas global pro-Palestina.
 
Hasbara, adalah kata yang berasal dari bahasa Ibrani, yang dalam terjemahan bebas diartikan penjelasan, lebih tepatnya sebuah kerangka propaganda dalam konteks diplomasi publik. Hasbara berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan perang informasi Israel, dengan target-target strategisnya.
 
Menurut sistem propaganda Israel, diplomasi publik secara strategi harus menjadi sebuah prioritas kebijakan luar negeri, sehingga gambaran positif atas Israel, di level internasional bisa tersebarluas.
 
Hal ini terutama dengan memperhatikan tantangan-tantangan yang dihadapi Rezim Zionis Israel, setelah berdirinya yaitu pada tahun 1948 silam.
 
 

 

Di era modern, propaganda Hasbara, kebanyakan dikemas dalam bentuk video, infografik, dan unggahan-unggahan yang disebarluaskan oleh Israel, melalui media-media sosial, dan hastag-hastag.
 
Tujuan propaganda Hasbara, adalah mengubah pemahaman dan pandangan para diplomat, politisi serta masyarakat umum melalui media massa, dan lembaga atau organisasi-organisasi Israel, pusat riset, universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan selainnya.
 
Pada tahun 2012, Israel, menggelar Operasi Pilar Pertahanan atau perang 8 hari terhadap Jalur Gaza, dan mengumumkannya di media sosial Twitter.
 
Selama operasi dilaksanakan, Rezim Zionis, sangat diuntungkan oleh media sosial Amerika Serikat dan Eropa. Israel menjalankan proyek propaganda Hasbara, melalui berbagai mesin pencari, algoritma mesin-mesin pencari, dan mekanisme-mekanisme otomatis lain untuk mengontrol konten yang diterima masyarakat dunia.
 
Dalam propaganda ini, Israel, membangun narasi tentang dirinya sebagai korban terorisme Palestina. Narasi ini sejalan dengan klaimnya tentang hak berdaulat untuk menghadapi serangan terhadap eksistensi Israel.
 
Masalah ini kemudian memicu ketegangan yang semakin intensif, dan berujung dengan pemboman luas serta brutal Israel, terhadap Jalur Gaza.
 
Pada tahun 2014, dalam perang lain terhadap penduduk Gaza, Operasi Tepi Pelindung, proyek propaganda media Israel, Hasbara, tidak efektif karena tingkat kemarahan masyarakat dunia atas kejahatan Israel di Gaza.
 
 

 

Penyebaran foto-foto destruktif, dan pembunuhan warga sipil di media-media sosial oleh Israel, memaksa para pengambil keputusan proyek Hasbara, lebih mengorganisir upaya-upayanya dalam kampanye hubungan masyarakat, dan melipatgandakan upaya untuk membersihkan citra dari kejahatan-kejahatannya saat ini, dan di masa depan.
 
Jika sampai proyek Hasbara, gagal, maka Israel, akan memakai strategi lamanya. Salah satu strategi lama itu adalah mengumumkan dirinya sedang melawan terorisme, dan Hamas, adalah perwakilan terorisme dunia.
 
Hari ini, terus menerus kita disuguhi praktik-praktik standar ganda dalam media-media internasional. Israel digambarkan sebagai pihak rasional, dan tak bersalah yang diancam teroris, dan terdorong melakukan tindakan-tindakan tidak rasional.
 
Ironisnya lagi, media-media internasional, terutama media Barat, menciptakan sebuah atmosfir negatif yang dengan cepat menuduh segala macam protes terhadap Israel, sebagai bentuk dukungan atas terorisme.
 
Akan tetapi taktik yang paling banyak digunakan Israel, adalah menyebut setiap protes atas kebijakan-kebijakannya, sekalipun itu melanggar hak asasi manusia, dan merupakan pendudukan ilegal tanah Palestina, sebagai Anti-Semit.
 
 

 

Di sisi lain, salah satu ancaman strategis bagi Israel, dalam beberapa tahun terakhir adalah gerakan anti-Israel, yang terus mengalami perluasan di dunia, yaitu Boikot, Divestasi dan Sanksi atau BDS.
 
Para pejabat Rezim Zionis sudah berusaha keras untuk mengumumkan orang-orang yang mendukung BDS, sebagai anti-semit, dan menuduh mereka terkait dengan terorisme, terlebih setelah aturan anti-BDS disahkan di AS.
 
Di media-media sosial dan online, propaganda Hasbara, menekan korporasi-korporasi besar media sosial untuk memberikan definisi fiktif bahwa seluruh peringatan Holocaust, adalah bentuk anti-semit, dan pada akhirnya meningkatkan tuduhan-tuduhan anti-semit dan anti-Yahudi, terhadap setiap protes atas Israel.
 
Ujung-ujungnya, tujuan propaganda Hasbara, adalah menciptakan gambaran masyarakat terbelakang bagi orang-orang Palestina, dan berusaha keras menggambarkan citra orang Palestina, di benak orang-orang Barat, sebagai tidak manusiawi, dengan begitu mereka mengira dapat melemahkan protes terhadap Israel. (HS)

Tags