Wajah Dinamis Sinema Palestina
-
Film sinema dokumenter Palestina \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\"The Wanted 18\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\"
Dinamika sinema Palestina tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan orang-orang Palestina sendiri, terutama dalam perlawanan terhadap Israel. Oleh karena itu, film dokumenter memiliki kedudukan khusus dalam perkembangan film Palestina.
Dari sekian film dokumenter Palestina muncul film "The Wanted 18" yang hadir dalam bentuk bentuk animasi, yang tampil lebih interaktif dan menarik.
The Wanted 18 mengisahkan kehidupan masyarakat Palestina di sebuah daerah kecil di Tepi Barat bernama Beit Sahour yang berada dekat Baitul Maqdis. Latar belakang film ini berpijak dari upaya komunitas Palestina untuk menghadapi tekanan rezim Zionis dengan memulai pendirian sebuah perusahaan susu untuk membantu dan menyediakan kebutuhan orang-orang Palestina.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 1988 ini disebut-sebut sebagai Intifada pertama yang jauh dilakukan sebelum perjanjian Oslo ditandatangani antara Israel dan Otorita Palestina (PA).
Film ini menceritakan kisah perburuan 18 sapi milik orang-orang Palestina oleh pasukan rezim Zionis Israel. Melalui rekaman arsip dan investigasi yang mendalam, Amer Shomali selaku sutradara dan Paul Cowan sebagai penulis ceritanya menggunakan humor untuk menceritakan kisah yang kurang terkenal ini tentang peternakan sapi Palestina.
Dengan sangat baik, The Wanted 18 menampilkan cerita tentara Israel melakukan pencarian sapi yang menjadi buronan, dan gerakan kolektif bergerak bawah tanah orang-orang Palestina menyuarakan "Intifada susu".
Para pembuat film menemukan banyak rintangan sepanjang pembuatannya. Mereka butuh waktu hampir empat tahun untuk mendapatkan rekaman arsip Israel yang berkaitan dengan Beit Sahour ketika itu.

Selaku sutradara Film, Amer Shomali dilarang keluar dari Tepi Barat Palestina oleh rezim Zionis. Pihak Israel juga menolak memberikan visa kepada Shomali gara-gara ia seorang Palestina. Akhirnya, Paul Cowan harus datang dari Kanada ke Tel Aviv untuk melakukan wawancara dan menggali data tentang peristiwa pembangkangan sipil di Beit Sahour. Film ini ditayangkan di berbagai even festival film internasional dan menjadi pusat perhatian.
Film ini mewawancarai Jalal Oumsieh, seorang guru sekolah yang telah membeli 18 sapi, profesor geologi Jad Ishad, apoteker Elias Rishmawi dan tukang daging Virginia Saad. Film ini juga mewawancarai dua anggota rezim Zionis Israel yaitu: Shaltiel Lavie, gubernur militer di daerah saat itu, dan Ehud Zrahiya, penasihat urusan Arab.
Penyusunan kepingan film dilakukan oleh Benoît Charest. The Wanted 18 digarap produksinya oleh Intuitive Pictures, Dewan Film Nasional Kanada, Bellota Films, Dar Films Productions, ARTE, dan 2M. Sedangkan produsernya adalah Fichman dan Nathalie Cloutier. Film ini menerima dana dari Arab Fund for Arts and Culture (AFAC).

Sutradara film Amer Shomali yang berada di Tepi Barat tidak dapat menghadiri pemutaran film di Festival Film Internasional Hak Asasi Manusia di New York City, karena tidak diberikan visa oleh rezim Zionis Israel dengan alasan bahwa dia adalah ancaman keamanan, dan pemerintah AS juga tidak memberikan visa kepadanya.
Sebagaimana dikemukakan dalam wawancaranya dengan Aljazeera, (21/3/2016), Amer Shomali menjelaskan dirinya dibesarkan di kamp pengungsi Yarmouk di Suriah. Hidup bersama pengungsi lain di sana, Amer membangun citra Palestina berdasarkan hal-hal yang dilihatnya langsung termasuk dari poster, seni, dan buku komik.
Salah satu buku komik yang menarik perhatiannya ketika masih kecil tentang pembangkangan sipil di Beit Sahour untuk melawan aturan pajak yang diberlakukan rezim Zionis. Aspek menarik dari film The Wanted 18 dari sisi kemasan yang ditampilkan dengan corak animasi kritis.
Sejak dahulu hingga kini dokumenter politik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sinema Palestina. Dahulu, warna film sinema Palestina cenderung dipengaruhi oleh karya-karya sinema Mesir dan negara Arab lainnya. Tapi belakangan mulai muncul karya-karya yang berbeda dengan tetap mengangkat karakter khas perjuangan Palestina. The Wanted 18 besutan Amer Shomali termasuk salah satunya.
Di arena internasional saat ini, film Palestina lebih banyak dipengaruhi oleh karya film besutan para sutradara Palestina yang kini tinggal di negara-negara Barat seperti Elia Suleiman dan Hany Abu Assad.
Pada tahun 1996, Suleiman menyutradarai film pertamanya, Chronicle of a Disappearance yang memenangkan Film Pertama Terbaik di Festival Film Internasional Venesia di tahun1996.
Di tahun 2002, film kedua Suleiman, Divine Intervention: A Chronicle of Love and Pain, memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes 2002, dan Penghargaan Kritik Internasional (FIPRESCI), juga menerima Penghargaan Film Asing Terbaik di Penghargaan Eropa di Roma.
Film terbarunya, The Time That Remains masuk nominasi di Festival Film Cannes 2009. Suleiman memenangkan hadiah Mutiara Hitam untuk film narasi Timur Tengah terbaik di Festival Film Timur Tengah di Abu Dhabi pada 17 Oktober 2009. Film ini memenangkan penghargaan dari Asosiasi Kritikus Film Argentina di Mar del Plata International Film Festival.
Di dalam wilayah Palestina, para seniman sinema Palestina terus berkarya dengan caranya sendiri. Dengan keterbatasan fasilitas dan ketiadaan penonton bioskop tempat penayangan film, mereka tetap berkarya.
Kini, generasi baru seniman sinema Palestina memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membantu produksi film yang mengandalkan festival-festival internasional.
Apa yang dilakukan Amer Shomali dengan film The Wanted 18 menunjukkan kekuatan kreatifitas di tengah keterbatasan dan pembatasan yang dilakukan Israel tergadap dirinya dan bangsa Palestina. Dengan karya film animasi dokumenternya, Amer Shomali tetap menyuarakan perlawanan bangsa Palestina terhadap rezim Zionis Israel.(PH)