Lintasan Sejarah 30 Mei 2017
Hari ini, Selasa tanggal 30 Mei 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 4 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 9 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Qadhi Said Ibnu Sana Al-Mulk Wafat
830 tahun yang lalu, tanggal 4 Ramadan 608 HQ, Abul Qasim Hibatullah bin Ja'far yang dikenal dengan nama Qadhi Said Ibnu Sana Aa-Mulk, seorang penyair dan sastrawan terkenal Mesir meninggal dunia.
Qadhi Said Ibnu Sana al-Mulk yang dikenal dengan nama kakeknya, Ibnu Sana al-Mulk, terlahir di Kairo pada tahun 545 Hijriah dari kalangan keluarga yang taat beragama. Keilmuannya di bidang al-Quran dan Nahwu diperolehnya saat belajar dari para ulama di Kairo, sedangkan ilmu-ilmu lainnya ia peroleh dengan berguru kepada para ulama di Iskandariah.
Sejak masih muda, Ibnu Sana al-Mulk sudah menunjukkan minat dan bakatnya yang sangat besar kepada puisi dan sastra. Ia kemudian melahirkan sejumlah karya puisi yang di antaranya berkaitan dengan peristiwa gugurnya Imam Husein bin Ali as di padang Karbala.
Joseph Gay-Lussac Lahir
239 tahun yang lalu, tanggal 30 Mei 1778, Joseph Gay-Lussac, seorang fisikawan dan kimiawan Perancis, terlahir ke dunia.
Pada usia 14 tahun, Gay-Lussac dikirim ke Paris untuk menuntut ilmu di bidang sains. Setelah lulus, Gay-Lussac menjadi asisten dari kimiawan Perancis terkemuka, Berthollet, yang saat itu bekerja sama dengan Lavoisier. Pekerjaan ini memberi Gay-Lussac kesempatan untuk melakukan penelitian bersama para fisikawan dan kimiawan besar Perancis saat itu.
Pada usia 24 tahun, Gay-Lussac memulai penelitian besar pertamanya, yaitu mengamati perilaku gas. Dia pun akhirnya menemukan hukum perbandingan tekanan gas, yang disebut sebagai Hukum Gay-Lussac, yang menyatakan, tekanan gas di dalam ruangan tertutup akan meningkat sebanding dengan kenaikan suhu dalam ruang itu. Gay-Lussac meninggal dunia tahun 1850.
Perang Marne Berakhir
99 tahun yang lalu, tanggal 30 Mei 1918, berakhirlah perang besar Marne yang meletus antara tentara Jerman dan pasukan Sekutu, yang terdiri dari AS, Inggris, dan Perancis.
Perang yang terjadi dalam era Perang Dunia Pertama ini berlangsung di dekat sungai Marne, di timur laut Perancis dan berhasil dimenangkan oleh Jerman.
Akibatnya, sebanyak 55 ribu tentara Sekutu ditawan oleh tentara Jerman. Namun demikian, Jerman tidak berhasil mematahkan garis pertahanan pasukan Sekutu sehingga kemudian pasukan Sekutu melakukan serangan balasan yang membuat Jerman terpaksa mundur dari wilayah Perancis.
Nazem Al-Atebba Wafat
93 tahun yang lalu, tanggal 9 Khordad 1303 HS, Nazem al-Atebba meninggal dunia pada di usia 77 tahun.
Mirza Ali Akbar Khan Nafisi yang lebih dikenal dengan sebutan Nazem al-Atebba Kermani lahir di kota Kerman sekitar tahun 1336 HS. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia kemudian mempelajari filsafat dan belajar kedokteran di madrasah Dar al-Funun di Tehran.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nazem al-Atebba mendirikan rumah sakit modern pertama di Iran dan didukung oleh para dokter terkenal. Ia pada 1261 HS kembali membangun rumah sakit modern di kota Mashad dan menjadi dokter pribadi Naser ad-Din Shah dan Mozaffaruddin Shah Qajar.
Ali Akbar Nafisi selain melakukan pengobatan, ia juga menulis buku. Karya kedokterannya mencakup kumpulan buku penting dan bermanfaat yang disusunya setelah menerjemahkannya dari bahasa asing. Nazem al-Atebba juga punya andil dalam mengumpulkan kosa kata bahasa Persia dan menuliskannya dalam Kamus Nafisi dalam 5 jilid yang disusunnya selama 25 tahun.
Dr. Soetomo Meninggal
79 tahun yang lalu, tanggal 30 Mei 1938, dr. Soetomo menghembuskan nafas terakhir setelah menderita sakit beberapa bulan.
Dr. Soetomo dikenal sebagi tokoh pergerakan nasional lewat Boedi Oetomo. Selain aktif dalam Boedi Oetomo ia juga aktif dalam organisasi Indonesische Studieclub Surabaja (ISC).
Keteguhan dr. Soetomo untuk konsen kepada ide-ide nasionalis dalam ISC dibuktikan dengan hengkang dari Boedi Oetomoe yang dinilai makin bercorak promodial kejawa-jawaan pada 1925. Selain sebagai tokoh pergerakan, dr. Soetomo juga memiliki peran yang besar terhadap perkembangan pers Indonesia.