Saravan; Pusat Musik Sufistik di Iran Tenggara
Saravan di Provinsi Sistan dan Baluchestan merupakan pusat musik sufistik di wilayah tenggara Iran.
Tehran, Parstoday- Desa-desa Pirabad, Dehk, Kalpurgan, dan Naych di Kabupaten Saravan, Provinsi Sistan dan Baluchestan, selama bertahun-tahun menjadi tuan rumah berbagai ritual yang memadukan musik, zikir, dan tasawuf. Ritual-ritual ini dikenal sebagai salah satu ekspresi spiritual tertua di Iran tenggara dan hingga kini tetap dijalankan dengan keaslian yang terjaga tanpa banyak perubahan.
Musik sufistik di Saravan bukan sekadar bentuk seni, melainkan cara hidup—zikir kolektif yang diwariskan lintas generasi dan masih dipraktikkan pada malam-malam tertentu, peringatan keagamaan, serta lingkaran zikir tarekat dengan struktur tradisional yang sama.
Ritual-ritual yang tumbuh di lingkungan desa-desa bersejarah ini kini, selain memiliki fungsi spiritual, juga dipandang sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Provinsi Sistan dan Baluchestan, sehingga menarik perhatian para peneliti, akademisi, dan pengelola warisan budaya. Bagi masyarakat setempat, praktik-praktik ini menjadi jalan menuju ketenangan batin dan keterhubungan spiritual dengan makna.
Musik Sufistik Saravan; Zikir Murni dari Iman dan Lingkungan Hidup
Hatem Seyedzadeh, pimpinan sebuah kelompok musik di Pirabad, Saravan, menilai musik sufistik kawasan ini sebagai hasil keterkaitan mendalam antara iman, sejarah, dan lingkungan hidup masyarakat setempat. Ia mengatakan bahwa apa yang ditampilkan dalam ritual-ritual ini bukan semata-mata nyanyian atau melodi, melainkan zikir—zikir yang memuliakan Tuhan, Nabi Muhammad (saw), serta mengandung tema-tema sufistik.
Menjaga Keaslian Musik Sufistik di Saravan
Abed Seyedi, salah satu pegiat musik sufistik di Saravan, menggambarkan musik ini sebagai pengalaman personal sekaligus kolektif. Ia mengatakan bahwa zikir-zikir yang dilantunkan dalam ritual tersebut melepaskan manusia dari hiruk-pikuk keseharian dan menghadirkan ketenangan yang tak dapat dibandingkan dengan sarana material apa pun. Ia menambahkan bahwa banyak di antara mereka telah mengenal zikir-zikir ini sejak kecil bersama para ayah dan tetua desa, sehingga ritual-ritual tersebut menjadi bagian dari identitas mereka.
Mahvash Asadi, Kepala Dinas Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Saravan, juga menilai musik sufistik desa-desa di wilayah ini sebagai aset budaya penting daerah. Menurutnya, ritual zikir dan musik sufistik, selain bernilai spiritual, juga berpotensi mendukung pengembangan pariwisata budaya dan spiritual—khususnya bagi para peneliti, peminat tasawuf, dan wisatawan budaya.(PH)