Arab Saudi: UEA Segera Tarik Pasukannya dari Yaman!
-
Bendera Arab Saudi
Pars Today - Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengeluarkan pernyataan yang menyerukan Uni Emirat Arab untuk segera menarik semua pasukannya dari Yaman dalam waktu 24 jam dan menghentikan semua dukungan militer dan keuangan dari pihak mana pun di negara ini.
Menurut laporan IRNA pada hari Selasa (30/12/2025), mengutip Arabi21, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menekankan dalam sebuah pernyataan, "UEA harus segera mematuhi permintaan Rashad Al-Alimi, Ketua Dewan Kepemimpinan Yaman, dan menarik semua pasukannya dari negara ini dalam waktu 24 jam dan menghentikan semua dukungan militer dan keuangan dari pihak mana pun di Yaman."
Pernyataan ini mengatakan, "Arab Saudi berharap kebijaksanaan akan menang dalam kerangka ini dan prinsip persaudaraan, hubungan bertetangga yang baik, dan hubungan yang kuat antara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk Persia akan dipertahankan, dan kepentingan negara saudara Yaman akan dipertimbangkan, dan negara saudara UEA juga akan mengambil langkah-langkah yang diinginkan untuk mempertahankan hubungan bilateral yang ingin diperkuat Arab Saudi. Arab Saudi juga menyerukan kerja sama bersama untuk meningkatkan kenyamanan, kemakmuran, dan stabilitas di negara-negara kawasan."
Dalam pernyataannya, Riyadh menekankan bahwa UEA telah melanggar perjanjian yang menjadi dasar pembentukan koalisi pendukung pemerintah Yaman yang sah dengan mengirimkan kapal-kapal yang membawa senjata dan kendaraan berat dari pelabuhan Fujairah ke pelabuhan Mukalla tanpa memperoleh izin resmi dari komando pasukan gabungan koalisi.
"Arab Saudi menyesalkan tindakan negara sahabat UEA yang menekan pasukan Dewan Transisi Selatan untuk melakukan operasi militer di perbatasan selatan di provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, dan menganggapnya sebagai tindakan yang mengancam keamanan dan stabilitas nasionalnya, serta keamanan Yaman dan kawasan. Langkah-langkah yang diambil oleh negara sahabat UEA sangat berbahaya dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pembentukan koalisi pendukung Yaman. Langkah-langkah ini juga tidak akan mengarah pada pencapaian stabilitas dan keamanan di Yaman," tambah pernyataan Saudi.
Kementerian Luar Negeri Saudi juga mencatat, "Dalam hal ini, Arab Saudi menekankan bahwa setiap ancaman atau bahaya terhadap keamanan nasional kami adalah garis merah, dan Arab Saudi tidak akan ragu untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi kasus-kasus itu."
Arab Saudi menekankan dalam pernyataannya, "Masalah selatan adalah masalah yang adil yang memiliki aspek historis dan sosial, dan satu-satunya solusi untuk itu adalah meja perundingan dalam kerangka solusi politik komprehensif di Yaman, di mana semua pihak Yaman, termasuk Dewan Transisi Selatan, harus berpartisipasi."
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Dewan Transisi Selatan telah berhasil menguasai sebagian besar provinsi selatan Yaman. Dewan ini telah mengumumkan tujuan operasi militernya untuk "mengusir ekstremis dan mencegah operasi penyelundupan".
Menurut laporan, pasukan Dewan Transisi baru-baru ini maju di provinsi Hadramaut dan, selain merebut kota Siyun, telah menguasai beberapa sumur minyak di daerah gurun yang berbatasan dengan Arab Saudi. Selain itu, di provinsi Al-Mahra, yang berbatasan dengan Oman, Dewan Transisi Selatan telah mengumumkan bahwa sejumlah pemimpin lokal telah bergabung dengan koalisinya.
Kemajuan pemberontak di sebagian besar Hadramaut, provinsi terbesar Yaman, telah mendorong mundur pasukan yang didukung Saudi, yang sekarang bergerak menuju provinsi Marib.
Perkembangan ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan bentrokan baru antara Dewan Transisi Selatan dan kelompok-kelompok lain yang didukung Saudi, sekaligus memicu spekulasi bahwa dewan ini berupaya bergerak menuju pemisahan diri dan pemulihan negara "Yaman Selatan" yang ada sebelum penyatuan pada tahun 1990.(sl)