Lintasan Sejarah 4 Juni 2017
Hari ini, Ahad tanggal 4 Juni 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 9 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 14 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ayatullah Syeikh Muhammad Bahari Hamedani Wafat
113 tahun yang lalu, tanggal 9 Ramadan 1325 HQ, Ayatullah Syeikh Muhammad Bahari Hamedani meninggal dunia dalam usia 70 tahun dan dikebumikan di kota Bahar, Hamedan.
Ayatullah Haj Syeikh Muhammad Bahari Hamedani adalah ulama besar dan arif terkenal abad 13 dan 14 Hijriah Qamariah di Iran. Beliau dikenal dengan ketakwaan, keilmuwan dan akhlaknya dalam mendidik murid-muridnya.
Ayatullah Bahari Hamedani lahir sekitar tahun 1265 HQ di kota Bahar, Hamedan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar agamanya, beliau pergi ke Najaf al-Asyraf, Irak untuk melanjutkan pendidikannya dan setelah mencapai derajat ijtihad, Ayatullah Bahari Hamedani kemudian mengajar.
Sejak masa mudanya, Ayatullah Bahari Hamedani dikenal ahli ibadah dan selama di Najaf menjadi murid Mulla Hosseinqoli Hamedani. Setelah gurunya meninggal dunia, para pesuluk banyak yang meminta ijazah darinya. Beliau sendiri lebih banyak mengajar dengan lisan dan sebuah kumpulan buku bernama Tadzkirah al-Muttaqin merupakan hasil karyanya.
Imam Khomeini Wafat
28 tahun yang lalu, tanggal 14 Khordad 1368 HS (3 Juni 1989), Imam Ruhullah Mousavi Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran, meninggal dunia.
Imam Khomeini dilahirkan pada tahun 1903 di kota Khomein, Iran tengah. Sejak kecil, beliau telah mengenal perjuangan melawan kezaliman, karena ayah beliau juga merupakan seorang ulama yang gigih berjuang melawan penguasa yang zalim dan akhirnya gugur syahid dibunuh penguasa.
Pada usia muda, Ruhullah Khomeini menuntut ilmu-ilmu agama di hauzah ilmiah Qom. Sejak tahun 1962, perjuangannya melawan penguasa semakin aktif dan terbuka, sampai-sampai beliau dipenjara, lalu akhirnya dibuang ke Turki, kemudian ke Irak. Selama tiga belas tahun di Irak, selain belajar dan mengajar agama, Imam Khomeini meneruskan perjuangannya melawan pemerintahan dengan cara menyampaikan pidato-pidato yang membuka kedok Shah Pahlevi yang despotik serta tindakan imperialistik AS di Iran.
Pidato-pidato Imam Khomeini di Irak disebarkan secara rahasia melalui tulisan atau rekaman kaset di Iran dan akhirnya, rakyat Iran pun bangkit mengadakan demonstrasi-demonstrasi menentang pemerintah. Ketika penentangan rakyat semakin memanas, pemerintah Iran akhirnya memindahkan Imam Khomeini ke Paris, dengan tujuan untuk menjauhkan beliau dari rakyat Iran. Namun, justru setelah kepindahan beliau ke Paris yang memiliki fasilitas pers dan komunikasi yang modern, pesan-pesan Imam semakin gencar disampaikan ke Iran dan semakin maraklah demonstarsi rayat menuntut mundurnya Shah Pahelvi.
Akhirnya, pada tahun 1979, Shah Pahlevi melarikan diri ke luar negeri dan Imam Khomeini kembali ke Iran. Setelah berpihaknya berbagai unsur pemerintahan dan militer kepada Imam, akhirnya tahun itu juga, revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya. Setelah 10 tahun Republik Islam Iran berdiri, Imam Khomeini meninggal dunia akibat sakit.
Ayatullah Khamenei Diangkat Sebagai Rahbar
28 tahun yang lalu, tanggal 14 Khordad 1368 HS (3 Juni 1989), Majelis Khubregan atau Dewan Ahli Kepemimpinan Republik Islam Iran memilih Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran menggantikan Imam Khomeini yang wafat pada hari yang sama.
Beberapa jam setelah wafatnya Imam Khomeini, Dewan Ahli mengadakan sidang untuk menetapkan pengganti Imam Khomeini dan di dalam sidang itu pula, dibacakan surat wasiat Imam Khomeini.
Dewan Ahli adalah sebuah dewan yang terdiri dari sejumlah ulama yang langsung dipilih oleh rakyat, yang bertugas memilih di antara mereka sendiri ulama yang paling layak untuk menjadi rahbar atau pemimpin tertinggi revolusi Islam. Pemilihan itu dilakukan sekali dalam enam tahun dan sepeninggal Imam Khomeini, Ayatullah Khameini selalu terpilih kembali untuk menjadi rahbar hingga saat ini.
Pembantaian Tiananmen
28 tahun yang lalu, tanggal 4 Juni 1989, ratusan penduduk sipil ditembak mati tentara Cina ketika operasi militer berdarah untuk menangani demonstrasi di Lapangan Tiananmen, Beijing.
Para demonstran yang sebagian besar mahasiswa sudah berada di lapangan selama tujuh minggu. Mereka menolak pindah kecuali ada reformasi demokrasi. Serangan datang setelah pemerintah gagal membujuk para demonstran. Pemerintah China kemudian memperingatkan akan melakukan tindakan apa pun yang dirasa perlu untuk menangani apa yang mereka namakan 'kekacauan sosial'. Walau sudah banyak diprediksi muncul, tingkat kekerasan di lapangan berubah menjadi sebuah kekejaman. Hal itulah yang kemudian dikutuk seluruh dunia.