Lintasan Sejarah 24 Juni 2017
Hari ini, Sabtu tanggal 24 Juni 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 29 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 3 Tir 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Furat Meninggal Dunia
631 tahun yang lalu, tanggal 29 Ramadan 807 HQ, Ibnu Furat, seorang sejarawan dan ahli fiqih asal Mesir, meninggal dunia di kota Kairo.
Ibnu Furat dilahirkan di kota yang sama pada tahun 735 Hijriah dan sejak masa remaja telah mulai menelaah berbagai bidang ilmu. Keistimewaan Ibnu Furat adalah kecintaannya pada bidang sejarah.
Di antara karya-karya Ibnu Furat yang terpenting adalah kitab berjudul "Tarikhud-Duwal Wal Muluk", yang juga dikenal dengan nama "Sejarah Ibnu Furat". Di dalam kitab ini ia menuliskan berbagai kejadian di abad ke-6 dan 7 Hijriah secara berurutan dari tahun ke tahun dan di tiap akhir tahun, ia menuliskan nama-nama pembesar yang meninggal di tahun itu. Karya ibnu Furat lainnya berjudul "Asma'us Shahabah" dan "Tarikh Al-Ibad wal Bilad".
Raja Henry VIII Naik Tahta
508 tahun yang lalu, tanggal 24 Juni 1509, setelah meninggalnya Raja Inggris, Henry ke-7, putranya, Henry ke-8 naik tahta.
Henry ke-8 terlahir ke dunia tahun 1491. Berbeda dengan gaya ayahnya yang kokoh dan pendiam, Henry ke-8 lebih senang pergi berburu ke pedesaan dan menyerahkan urusan pemerintahannya kepada pegawai-pegawainya.
Sejak tahun 1530-an, Henry ke-8 mulai banyak terlibat dalam pemerintahan dan pada era itulah gereja Inggris memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Pemisahan ini terjadi untuk meluluskan kehendak Henry ke-8 untuk menceraikan istrinya Catherine of Aragon dan menikahi Anne Boyle.Karena istrinya tersebut tidak memberikan keturunan laki-laki.
Napoleon Serang Rusia
205 tahun yang lalu, tanggal 24 Juni 1812, Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte melakukan serangan besar ke wilayah Tzar Rusia.
Lima tahun sebelumnya kedua imperium ini menandatangani perjanjian non-agresi namun secara bertahap, hubungan kedua negara menjadi memburuk. Dalam serangan tersebut, pasukan Napoleon berhadapan dengan cuaca yang sangat dingin sehingga akhirnya mengalami kekalahan dari tentara Rusia.
Dari 350 ribu tentara Perancis yang dikerahkan Napoleon untuk menyerang Rusia, hanya 30 ribu tentara Perancis yang berhasil kembali dengan selamat ke negara mereka.
Pemberlakuan Situasi Darurat Militer Pasca Pembubaran Parlemen
109 tahun yang lalu, tanggal 3 Tir 1287 HS, Mohammad Ali Shah Qajar memberlakukan kondisi darurat militer di Tehran pasca pembubaran parlemen.
Sehari pasca pembubaran parlemen Iran, Mohammad Ali Shah Qajar mengumumkan dan memberlakukan kondisi darurat militer di Tehran. Hal ini dilakukannya dengan tujuan menciptakan ketakutan di antara warga dan tidak ada organisasi yang melakukan rapat atau demonstrasi. Berdasarkan perintah ini, tentara Kazakhstan yang dipimpin panglima Rusia mereka diperintahkan untuk menangkap setiap orang yang bersenjata di kota.
Sesuai dengan perintah ini, seluruh bentuk pertemuan dan kumpul-kumpul dilarang dan polisi berhak menembak ke arah warga yang ingin berkumpul. Shah juga bersedia memberikan amnesti massal kepada warga asal tidak melakukan aksi mogok di kedutaan-kedutaan besar atau komplek makam suci Abdolazim di kota Rey.
Apa yang dilakukan Shah ini bertujuan membohongi mereka yang masih menuntut diberlakukannya Revolusi Konstitusi.
Siam Berubah Menjadi Monarkhi Konstitusional
85 tahun yang lalu, tanggal 24 Juni 1932, sekelompok mahasiswa Siam yang menuntut ilmu di Paris, melangsungkan kudeta damai untuk menerapkan demokrasi di negara mereka.
Hasil dari kudeta damai ini adalah diubahnya sistem kerajaan Siam yang semula berupa monarkhi absolut menjadi monarkhi konstitusional. Raja tetap menjadi kepala negara namun pemerintahan dijalankan oleh campuran antara kekuatan sipil dan militer.
Raja Siam saat itu, Rama ke-7, pada tahun 1935 turun tahta dan pemerintah menunjuk keponakannya yang berusia 10 tahun, Ananda Mahidol sebagai pengganti. Namun, karena raja muda itu sedang menunut ilmu di Swiss, kepala pemerintahan dipegang seorang militer bernama Phibul Songkhram.
Pemerintahan Phibul pada tahun 1939 menukar nama Siam menjadi Thailand. "Thai" berarti "bebas" dan juga merupakan nama etnik mayoritas di Siam.