Warga Palestina Memulai Tahun Baru dengan Serangan Udara Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i183438-warga_palestina_memulai_tahun_baru_dengan_serangan_udara_israel
Pars Today - Tahun baru dimulai bagi warga Gaza sementara rezim Zionis Israel terus melakukan serangan dengan melanggar gencatan senjata.
(last modified 2026-01-02T07:42:39+00:00 )
Jan 02, 2026 14:41 Asia/Jakarta
  • Gaza
    Gaza

Pars Today - Tahun baru dimulai bagi warga Gaza sementara rezim Zionis Israel terus melakukan serangan dengan melanggar gencatan senjata.

Warga Palestina di Jalur Gaza memulai Tahun Baru 2026 dengan serangan dan bom dari rezim pendudukan Zionis. Sejak perjanjian gencatan senjata, yang telah berlangsung hampir tiga bulan, rezim pendudukan tidak pernah mematuhi ketentuan perjanjian dan telah melanggarnya berkali-kali.

Menurut laporan Tasnim, sumber berita Palestina melaporkan pada hari Kamis (01/01) bahwa pelanggaran gencatan senjata dan serangan helikopter oleh tentara pendudukan Zionis di kota Rafah di Jalur Gaza selatan terus berlanjut. Laporan menunjukkan bahwa Khan Yunis juga menjadi sasaran pesawat tempur rezim Zionis.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengumumkan bahwa jumlah korban perang genosida yang dilancarkan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina sejak Oktober 2023 telah meningkat menjadi 71.271 martir dan 171.233 luka-luka.

Laporan Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa sejak gencatan senjata ditetapkan pada 11 Oktober 2025 (yang tidak pernah dipatuhi oleh rezim Zionis), 416 warga telah gugur dan 1.153 terluka dalam serangan oleh penjajah Zionis. Menurut laporan ini, jenazah 683 korban tewas juga telah ditemukan dari reruntuhan selama periode ini.

Prospek Krisis Kompleks Gaza pada Tahun 2026

Statistik dan informasi yang diperoleh oleh organisasi internasional dan Palestina serta kementerian terkait menunjukkan bahwa jika tidak ada tindakan mendesak dan serius yang diambil untuk mengatasi krisis Gaza, situasi kemanusiaan akan terus menjadi perhatian konstan bagi penduduk Gaza.

Rezim Zionis Israel terus memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya obat-obatan dan peralatan medis ke Gaza dan perjalanan korban luka dan sakit untuk menerima layanan medis di luar Jalur Gaza.

Jika situasi ini tetap tidak berubah, tahun 2026 akan dimulai dengan krisis kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza, di mana lebih dari 170.000 orang telah terluka, di antaranya setidaknya 20.000 akan membutuhkan layanan rehabilitasi jangka panjang.

Selain itu, 4.800 orang telah diamputasi, 1.200 orang lumpuh, dan 1.200 orang kehilangan penglihatan. 22.000 pasien perlu meninggalkan Gaza untuk menerima perawatan medis, termasuk 5.200 anak-anak dan 12.500 pasien kanker yang menghadapi kematian.

Selain itu ada kekhawatiran akan penyakit mematikan baru di antara pengungsi Gaza.

Mengingat bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, dengan datangnya musim dingin dan hancurnya semua infrastruktur vital dan kesehatan, sumber-sumber medis di Jalur Gaza telah memperingatkan tentang wabah epidemi baru.

Bassam Zaqout, Direktur Departemen Bantuan Medis menyatakan bahwa ada kekhawatiran serius tentang kemungkinan munculnya epidemi baru, mengingat memburuknya kondisi kesehatan dan lingkungan serta meningkatnya populasi serangga dan tikus di antara kamp-kamp pengungsi.

Zaqout menekankan bahwa otoritas medis melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan tentang kemungkinan wabah leptospirosis, penyakit menular yang ditularkan ke manusia melalui kontak dengan urin tikus dan hewan pengerat lainnya, yang telah meningkat secara signifikan di kamp-kamp pengungsi yang padat.

Ia menambahkan bahwa risiko infeksi meningkat ketika air hujan dan air banjir yang terkontaminasi kotoran tikus bercampur dengan kulit, terutama ketika bersentuhan dengan luka terbuka. Di antara mereka, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan, terutama mereka yang bermain tanpa alas kaki di air yang terkontaminasi di kamp-kamp pengungsi.

Ada peringatan tentang konsekuensi tindakan permusuhan Israel terhadap lembaga-lembaga bantuan di Gaza.

Menyusul ancaman rezim Zionis Israel untuk mencabut izin operasi puluhan organisasi kemanusiaan di Jalur Gaza, organisasi internasional dan Palestina memperingatkan tentang keruntuhan total situasi kemanusiaan di jalur Gaza.

Volker Turk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menggambarkan keputusan rezim Israel sebagai kejam dan memperingatkan bahwa tindakan itu akan memperburuk situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza dan bahwa negara-negara berpengaruh harus mendesak pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.

Uni Eropa juga memperingatkan bahwa penangguhan kegiatan organisasi kemanusiaan di Gaza akan mencegah pengiriman bantuan vital ke wilayah ini. Dokter Tanpa Batas juga memperingatkan bahwa langkah Israel akan merampas akses ribuan pasien Palestina di Jalur Gaza terhadap perawatan medis vital.

Rezim Zionis Israel telah mengubah kebutuhan kemanusiaan menjadi alat pemerasan.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka mengutuk keras laporan yang diterbitkan di media Israel mengenai keputusan kabinet rezim pendudukan untuk mencabut izin operasi puluhan organisasi bantuan internasional di Gaza dan Tepi Barat.

Hamas menyatakan, “Langkah ini merupakan eskalasi yang berbahaya dan pengabaian yang jelas terhadap komunitas internasional dan sistem bantuan.”

Rezim pendudukan berusaha mempolitisasi kegiatan bantuan di Gaza dan mengubahnya menjadi alat untuk memeras rakyat Palestina, sebuah bangsa yang sedang bergulat dengan bencana kemanusiaan terbesar, terutama di Jalur Gaza, akibat kejahatan Zionis.

Gerakan Hamas selanjutnya menyerukan kepada komunitas internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa dan semua lembaga internasional dan hak asasi manusia, untuk mengambil tindakan cepat dan efektif untuk mengutuk kebijakan kriminal rezim Zionis ini dan menekan kabinetnya.

Pernyataan Hamas menyebutkan bahwa komunitas internasional tidak boleh membiarkan bantuan kemanusiaan digunakan sebagai senjata kelaparan dan alat untuk melanjutkan penderitaan rakyat Palestina.(sl)