Lintasan Sejarah 13 September 2017
Hari ini, Rabu tanggal 13 September 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 22 Dzulhijjah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 22 Shahrivar 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Maitsam Tammar Gugur Syahid
1378 tahun yang lalu, tanggal 22 Dzulhijjah 60 HQ, Maitsam Tammar, salah seorang sahabat utama Imam Ali as, gugur syahid.
Awalnya, Maitsam adalah seorang budak yang kemudian dibeli dan dibebaskan oleh Imam Ali as. Mereka kemudian menjadi sahabat dekat.
Imam Ali amat mencintai Maitsam dan sebaliknya, Maitsam selalu menjadi pembela dan pendukung Imam Ali. Sepeninggal Imam Ali, Maitsam terus mendukung dan membela Ahlul Bait, atau keluarga suci Rasulullah, sehingga akhirnya dibunuh oleh rezim penguasa saat itu, yaitu Dinasti Umayah.
RA Kartini Wafat
113 tahun yang lalu, tanggal 13 September 1904, RA Kartini meninggal dunia.
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Pada masa itu, wanita Indonesia belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal, termasuk dalam mengenyam pendidikan. Itu berlaku pula bagi Kartini. Dia hanya diperbolehkan bersekolah sampai tingkat sekolah dasar. Di tempat kelahirannya, seorang wanita yang telah menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.
Kartini merasa selalu diperlakukan berbeda dengan saudara dan teman-temannya yang pria. Perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasaan kurang baik itu.
Door Duistermis tox Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat RA Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Mengingat besarnya jasa Kartini, dikeluarkanlah Keppres RI No 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, pada 21 April, sebagai Hari Kartini.
Ayatullah Mirza Ibrahim Khui Gugur Syahid
109 tahun yang lalu, tanggal 22 Shahrivar 1287 HS, Ayatullah Haji Mirza Ibrahim Khui gugur syahid dalam peristiwa Revolusi Konstitusi pada usia 76 tahun di kota kelahirannya dan dikuburkan di Najaf, Irak.
Ayatullah Haji Mirza Ibrahim bin Hossein Khui yang lebih dikenal dengan Allamah Khui lahir di kota Khui sekitar tahun 1210 HS. Setelah mempelajari pendidikan agama tingkat dasar dan menengah, beliau kemudian pergi ke kota Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikannya.
Di Najaf, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Syeikh Murtadha Anshari dan Sayid Hossein Kouh Kamareh-i sehingga mencapai derajat keilmuan yang tinggi. Allamah Khui juga belajar kepada guru-guru besar lainnya seperti Syeikh Muhammad Husein Kazhimi dan Syeikh Mahdi Najafi Kasyif al-Ghita.
Allamah Khui memiliki kepribadian mulia seperti dermawan. Beliau menginfakkan kekayaan yang dimilikinya di jalan Allah. Kekayaan yang berasal dari warisan ayahnya.
Ulama besar ini juga meninggalkan karya ilmiah seperti catatan pinggir atas Rasail karya Syeikh Anshari, Syarah Nahjul Balaghah "ad-Durrah an-Najafiah" serta Syarah Arbain Haditsa.
Allamah Khui di masa hidupnya menjadi mujtahid besar di kotanya dan mendapat penghormatan dari rakyat. Mereka menanyakan pelbagai masalah keagamaannya kepada beliau.