Lintasan Sejarah 26 September 2017
Hari ini, Selasa tanggal 26 September 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 5 Muharram 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 4 Mehr 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
1000 Pasukan Berkuda Bergabung dengan Umar bin Saad
1378 tahun yang lalu, tanggal 5 Muharam 61 HQ, 1000 pasukan berkuda bergabung dengan Umar bin Saad.
Akhirnya secara bertahap, pasukan yang terpencar di seluruh kota Kufah berkumpul dan bergabung dengan pasukan Umar bin Saad. Menurut sebuah riwayat, Syabts bin Rab’i telah bergerak ke arah Karbala dengan seribu pasukan berkuda.
Ubaidillah memerintahkan kepada sebagian pasukan untuk berdiri di jalanan yang menujuke arah Karbala dan menghalangi siapa pun yang keluar dari Kufah untuk membantu Imam Husein as.
Karena sekelompok warga mengetahui bahwa perang melawan Imam Husein as berada dalam hukum perang menentang-Nya dan menentang rasul-Nya, maka di pertengahan jalan mereka memisahkan diri dari pasukan musuh dan melarikan diri.
Menurut sebuah riwayat, seorang komandan laskar yang sebelumnya bergerak dari Kufah dengan seribu pasukan, begitu sampai di Karbala, pasukan yang tersisa hanya sekitar tiga atau empat ratus orang, dan selebihnya melarikan diri karena tidak memiliki keyakinan terhadap perang ini.
Penggalan dari pidato Imam Husein as yang ditujukan pada pasukan musuh, "Perhatikanlah! Kami tidak akan pernah menyerah dengan hina. Allah, Rasul-Nya dan Mukminin tidak akan pernah menerima kehinaan untuk kami. Pangkuan-pangkuan suci yang telah membesarkan kami. Kepandaian dan keberanian mereka tidak akan pernah mengajarkan untuk mendahulukan ketaatan pada orang-orang hina atas kematian secara ksatria."
Kudeta Militer di Yaman Utara
55 tahun yang lalu, tanggal 26 September 1962, sistem pemerintahan kerajaan di Yaman Utara yang dipimpin oleh sultan-sultan bergelar imam, dibubarkan.
Pada hari itu, Kolonel Abdullah Salal melakukan kudeta militer dan mendirikan pemerintahan baru berbentuk republik. Imam Muhamad Badr yang merupakan raja terakhir Yaman Utara, kemudian melakukan perlawanan untuk merebut kembali kekuasaannya. Saat itu, Badr mendapatkan dukungan Raja Arab Saudi. Sementara itu, Kolonel Salal mendapatkan bantuan militer dari pemerintahan Mesir yang dipimpin oleh Gamal Abdul Naser.
Maka, terjadilah pertempuran bersenjata selama empat tahun antara kedua belah pihak. Setelah itu, kedua belah pihak melakukan gencatan senjata. Sedangkan Raja Feishal dan Abdul Naser juga sepakat untuk menarik pasukan masing-masing dari Yaman setelah kedua negara itu terlibat dalam perang enam hari melawan Israel.
OKI Bersidang Soal Perang Irak-Iran
37 tahun yang lalu, tanggal 4 Mehr 1359 HS, OKI menyelenggarakan sidang membicarakan perang Irak-Iran.
Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sekarang bernama Organisasi Kerjasama Islam sejak hari-hari pertama perang antara Irak dan Iran telah berusaha menengahi. Menteri-menteri luar negeri anggota OKI yang rencananya ikut dalam sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York, pada 4 Mehr 1359 HS mengadakan sidang untuk membahas perang Iran dan Irak.
Pelaksanaan sidang ini dilakukan berkat usulan wakil Indonesia dan Libya dan dalam sidang itu dibentuk sebuah komite bernama "Niat Baik" yang bertujuan mengakhiri perang. Komite ini selama bertugas berhasil melakukan pertemuan sebanyak sembilan kali dan beberapa kali melakukan kunjungan ke Tehran dan Baghdad. Tapi upaya mereka tidak membuahkan hasil dan perang terus berlanjut. Sementara situasi yang muncul perlahan-lahan lebih menguntungkan Iran.