Jalan Menuju Cahaya 692
Surat al-Qashash ayat 18-21.
فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ قَالَ لَهُ مُوسَى إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ (18) فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَى أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ (19)
Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya).” (28: 18)
Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata, “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” (28: 19)
Di acara sebelumnya kami telah jelaskan bahwa Musa setelah mencapai usia muda, keluar dari istana Firaun dan mulai berbaur dengan masyarakat. Saat itu Bani Israil sangat tertekan dan mendapat intimidasi dari Firaun serta warga Mesir. Saat berjalan-jalan di kota, Musa menyaksikan pertengkaran antara warga Bani Israil dan Mesir (Qibti). Menyaksikan ada yang tengah dizalimi, Musa langsung memberi pertolongan dan memukul warga Mesir. Meski tidak menyangka efek pukulannya akan sangat keras, ternyata warga Mesir tersebut tewas akibat pukulan Musa.
Ayat ini menyatakan, setelah peristiwa tersebut, Musa tidak kembali ke istana dan bersembunyi di kota. Ia dicekam kekhawatiran dan ketakutan akan ditangkap oleh pasukan Firaun. Hari berikutnya ia menyaksikan warga Bani Israil yang ia bantu dan kali ini terlibat pertengkaran dengan orang lain lagi. Musa yang menyaksikan kondisi tersebut berkata kepadanya, Kamu adalah orang bodoh dan tidak berpendidikan yang setiap hari dengan beragam dalih bertengkar dengan warga Mesir. Tindakanmu ini bukan saja mengancam jiwamu sendiri, namun juga orang lain. Aksimu ini bukan saja tidak berguna, malah dapat menimbulkan masalah bagi Bani Israil secara keseluruhan.
Namun bagaimana pun juga warga Bani Israil tersebut dalam kondisi teraniaya sehingga Musa membantunya dan menyelamatkanya dari tangan orang zalim. Namun kali ini, Musa tidak memukul orang Mesir tersebut, tapi hanya memegangnya dengan kuat dan mencegahnya untuk memukul orang dari Bani Israil.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jangan bertempur dengan musuh tanpa persiapan yang matang dan tanpa yakin akan hasil pertempuran sehingga menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan orang lain.
2. Kita harus berani mengkritik kesalahan teman. Namun begitu, kita tidak boleh membiarkan teman sendirian saat menghadapi musuh.
3. Kita harus berjuang sekuat tenaga melawan musuh.
وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (20) فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (21)
Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata, “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu.” (28: 20)
Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” (28: 21)
Apa yang terjadi di kota akhirnya sampai ke istana Firaun. Berita pertarungan seorang budak Bani Israil dengan dua warga Mesir yang berakhir dengan kekalahan warga Mesir karena campur tangan Musa. Berita ini tidak dapat diterima oleh pejabat istana. Oleh karena itu, secara aklamasi mereka menuntut Musa dibunuh supaya menjadi pelajaran bagi orang lain dan mereka tidak akan lagi berani melawan warga Mesir.
Sebelum para prajurit Firaun melaksanakan instruksi tersebut, salah satu kerabat Firaun mendapat informasi rencana pembunuhan Musa. Ia kemudian menuju kota dan memberitahukan Musa akan rencana pihak istana. Ia memberi nasehat kepada Musa untuk segera menyelamatkan diri dan keluar dari kota. Pria tersebut di berbagai riwayat disebutkan bernama Hizqeel dan setelah Musa diangkat menjadi nabi, ia langsung beriman kepadanya dan dikenal dengan sebutan mukmin dari keluarga Firaun.
Hizqeel juga seperti istrinya Firaun, meski hidup di istana namun menolak pemerintahan raja Mesir dan menanti kebangkitan anti Firaun. Ketika Hizqeel menyaksikan perilaku dan sikap Musa, ia memprediksikan bahwa Musa adalah sosok yang memiliki kemampuan untuk menggulingkan Firaun. Oleh karena itu, ia tak segan-segan ke kota dan menyelamatkan Musa.
Sementara itu, Musa menyikapi serius berita yang dibawa Hizqeel dan ketika keluar dari kota, Musa sangat berhati-hati. Musa menyaksikan disekitanya penuh dengan bahaya, oleh karena itu ia memohon bantuan dari Tuhan dan meminta-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari penguasa zalim.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dilarang membantu kaum zalim. Sementara menyusup ke pemerintahan zalim untuk membantu kaum tertindas dan mencegah kezaliman lebih besar adalah perbuatan mulia.
2. Jika kita mengabdi kepada Tuhan, maka ketika kita berada dalam bahaya maka Dia akan menyelamatkan kita.
3. Terkadang ketepatan serta kecepatan berita dan informasi dapat mengubah nasib sebuah umat. (Jika pria dari istana tidak memberi kabar Musa dalam waktu yang tepat sehingga Musa tidak keluar dari kota, mungkin Musa akan dibunuh oleh para prajurit Firaun).
4. Di antara penghuni istana mungkin saja terdapat pribadi-pribadi yang mengikuti kebenaran. Namun juga banyak yang mengikuti kebatilan. Parameter adalah kebenaran dan keadilan, bukan tempat tinggal seseorang.