JalanMenuju Cahaya 695
Surat al-Qashash ayat 29-32.
فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آَنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آَنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آَتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (29)
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.” (28: 29)
Di pertemuan sebelumnya telah kami sebutkan bahwa Musa menikahi putri Nabi Syuaib. Ia menerima untuk menjadi pengembala kambing minimalnya delapan tahun dan jika ia menginginkan maka akan menambah dua tahun lagi. Ayat ini menyebutkan, “Musa melaksanakan janji yang ia ungkapkan sebelumnya dan setelah sepuluh tahun menjadi pengembala, ia bersiap-siap membawa istri dan anaknya ke Mesir. Namun jalan ke Mesir sangat jauh dan berbahaya. Ketika tiba di Syam, di suatu malam mereka tersesat dan mereka mencari orang untuk meminta petunjuk jalan.”
Musa dari jauh menyaksikan api di lereng gunung. Ia berkata kepada dirinya, “Orang yang menyalakan api tersebut pasti memahami wilayah ini dan dapat memberi petunjuk kepada kami. Selain itu, api di tengah malam yang dingin dan gelap dapat memberi kehangatan kepada keluargaku.”
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Suami bertanggung jawab memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Sementara itu, anggota keluarga lainnya harus membantu kepala keluarga dan menyertainya dalam menyelesaikan kesulitan hidup.
2. Kerindunan terhadap tanah air dan kampung halaman adalah wajar. Siapa pun berhak untuk kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun meninggalkannya.
3. Musa yang hidup di istana Firaun selama bertahun-tahun dan harus menjadi pengembala kambing di wilayah asing selama 10 tahun telah menempa dirinya semakin kuat sehingga tidak tercemar oleh kehidupan glamor istana dan jiwanya mampu untuk menanggung beragam kesulitan hidup.
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (30)
Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu, “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (28: 30)
Menurut berbagai riwayat ketika Nabi Musa mendekati api, ia menyaksikan bahwa api tersebut berbeda dengan api yang ia saksikan selama ini. Api berkobar di sebuah pohon yang masih segar dan hijau, bukan di sebuah pohon yang kering. Selain itu, api tersebut hanya menyala dan tidak ada efek panas sama sekali.
Musa berpikir keras apa jenis api tersebut. Tiba-tiba ia mendengar panggilan yang mengatakan, Wahai Musa! Aku yang membawamu ke sini, Aku adalah Penciptamu dan yang menguasai dirimu serta alam semesta. Allah Swt memunculkan suara untuk berkomunikasi dengan hambanya, Musa. Pembicaraan ini membuat Musa berbeda dengan nabi-nabi lainnya dan kemudian ia dikenal dengan sebutan Kalimullah.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam literatur agama, tempat yang dinisbatkan kepada Tuhan adalah tempat suci, meski tempat tersebut berupa gunung atau padang pasir.
2. Musa mendaki gunung untuk mengambil api dan menemukan jalan bagi keluarganya. Namun ketika sampai di depan api, Allah Swt mengangkat Musa sebagai pemberi petunjuk bagi umat manusia. Dengan kata lain, kewajiban kita adalah berusaha dan bergerak, namun hasilnya bukan pada kita.
وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآَهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآَمِنِينَ (31) اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (32)
Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru), “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. (28: 31)
Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Firaun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.” (28: 32)
Wajar jika Musa takjub mendengar suara seperti ini yang belum pernah ia dengan sepanjang hidupnya serta menyaksikan pemandangan dan api yang aneh. Apa jenis suara ini dan apa sebenarnya pemandangan yang terpampang di depannya tersebut?
Allah kemudian menunjukkan dua mukjizat besar kepada Musa untuk memberinya ketenangan dan keyakinan bahwa apa yang disaksikan oleh Musa datangnya dari Tuhan Yang Maha Besar. Salah satu mukjizat tersebut adalah tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan kedua tangan Musa yang dapat bersinar terang. Menyaksikan dua mukjizat besar tersebut, Musa akhirnya yakin akan kebenaran yang didengarnya dan mendapat ketenangan.
Kemudian Musa dengan dua mukjizat tersebut diutus oleh Allah kembali ke Mesir. Salah satu misi Musa adalah pergi ke istana Firaun, di mana ia pernah hidup selama bertahun-tahun. Kali ini kedatangan Musa adalah untuk menyeru Firaun menyembat Tuhan Yang Esa dan mengakhiri kezalimannya kepada Bani Israil.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Orang yang dapat menjadi pemberi hidayah adalah orang yang telah mendapat keyakinan atas jalan yang ditempuhnya.
2. Untuk melakukan sebuah reformasi mendasar di masyarakat, pertama-tama harus ditemukan akar dan sumber kezaliman serta kemungkaran.
3. Takut dan lari dari bahaya adalah karakteristik umum manusia dan dalam hal ini, nabi dengan seluruh manusia lainnya tidak ada perbedaan.