Jalan Menuju Cahaya 696
Surat al-Qashash ayat 33-37.
قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ (33) وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ (34)
Musa berkata, “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. (28: 33)
Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.” (28: 34)
Pada pertemuan sebelumnya telah kita sebutkan bahwa Allah Swt memberikan tugas kepada Nabi Musa as di gunung Tur, untuk mendatangi istana Firaun serta menyeru penguasa Mesir dan masyarakat untuk meyakini Keesaan Allah Swt.
Pada ayat-ayat ini, Nabi Musa as mengemukakan dua masalah yang dihadapinya dalam menjalankan tugas tersebut, salah satunya adalah dukungannya terhadap seorang dari Bani Israil yang berujung pada tewasnya salah seorang di antara kelompok tersebut dan para pasukan Firaun dikerahkan untuk mencarinya. Kemudian Nabi Musa as menceritakan masalah kedua yang dihadapinya dan mengatakan, lidahku tidak sedemikian fasih dan lugas dan mungkin aku tidak bisa melaksanakan tugas ini sendirian. Maka ijinkan aku mengajak saudaraku Harun untuk membantuku menghadapi kebohongan Firaun dan menjelaskan hakikat secara gamblang dan lugas.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam melaksanakan tugas, kita harus mengetahui titik kelemahan dan masalah-masalah yang kita hadapi serta mengemukakannya dengan jujur, serta mencari solusi yang baik dan tepat untuk mengatasinya.
2. Penjelasan secara gamblang dan lugas merupakan salah satu faktor determinan dalam menarik perhatian orang lain dan merupakan salah satu sarana penting untuk kesuksesan dakwah.
3. Dalam melaksanakan tugas besar, kita harus menggunakan seluruh daya, sarana, dan sumber daya manusia yang ada. Tidak harus kita sendiri yang menangani semua pekerjaan.
قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا بِآَيَاتِنَا أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ (35)
Allah berfirman, “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.” (28: 35)
Pada ayat itu dijelaskan bahwa Allah Swt mengabulkan permintaan Nabi Musa as dan mengijinkan Nabi Harun menyertai Nabi Musa as dalam melaksanakan tugas penuh bahaya itu. Dengan demikian solusi untuk masalah yang dihadapi Nabi Musa as untuk melaksanakan perintah Allah Swt itu telah terselesaikan. Pertama, tidak akan ada yang berani mengganggu atau membunuh Nabi Musa as. Kedua, dengan kehadiran Nabi Harun di Firaun, keduanya akan dapat menjelaskan hakikat dengan gamblang dan argumentatif kepada Firaun dan mematahkan seluruh argumentasi pihak lawan dengan mukjizat.
Meski Nabi Harun lebih tua dari Nabi Musa as serta memiliki kemampuan literatur yang lebih handal dan fasih, akan tetapi Nabi Musa memiliki kesempurnaan yang karenanya Allah Swt memilihnya sebagai nabi dan pembawa risalah samawi. Adapun saudaranya, Nabi Harun as, meski beliau juga seorang nabi, akan tetapi harus menjadi orang kedua dan berada di sisi Nabi Musa as. Salah satu di antara keduanya mematahkan argumentasi Firaun dengan mukjizat dan lainnya mengalahkan dalih Firaun dengan kefasihan kata-katanya.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam melawan kebatilan, jumlah pihak yang benar dan batil tidak harus sama, terkadang dua orang dengan argumentasi yang kokoh dan jelas, mampu mengalahkan kelompok batil dalam jumlah besar.
2. Para wali Allah dan para pengikut kebenaran harus didukung agar mereka tidak digangggu dan diusik para penguasa.
3. Bahkan para nabi untuk menyampaikan pesan kebenaran dan melawan kebatilan sangat membutuhkan harapan dan keyakinan menyongsong masa depan. Allah Swt menjanjikan kemenangan kepada Nabi Musa dan Harun as.
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَى بِآَيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آَبَائِنَا الْأَوَّلِينَ (36) وَقَالَ مُوسَى رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَى مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (37)
Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu.” (28: 36)
Musa menjawab, “Tuhanku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim. (28: 37)
Nabi Musa as dan saudaranya, Nabi Harun as dengan berbagai cara menyampaikan diri mereka di istana Firaun dan hadir di hadapan para penghuni istana. Setelah menyeru kepada Firaun dan para penghuni istana untuk menyembah Allah yang Esa, Nabi Musa menunjukkan mukjizat dari Allah di hadapan mereka. Akan tetapi Firaun dan pengikutnya setelah menyaksikan mukjizat dan mendengarkan argumentasi tidak terpungkiri dari kedua wali Allah itu, justru mereaksinya dengan melontarkan tuduhan dan mendustakan keduanya.
Firaun berdalih bahwa penyembahan kepada Tuhan yang Esa tidak pernah ada dalam kehidupan para pendahulu mereka. Oleh karena itu, mereka menilai mukjizat adalah sihir yang diciptakan oleh Musa dan menisbatkannya kepada Tuhan.
Menjawab pengingkaran tersebut, Nabi Musa as mengatakan, jika aku mengemukakan kata-kata dan hal itu dari diriku sendiri serta bohong menisbatkannya kepada Tuhan, maka Allah lebih mengetahui dari kalian. Maka Dia akan mengungkapkan kebohonganku dan tidak membiarkan sebagai orang mengaku nabi utusan-Nya karena akan menyimpangkan masyarakat. Namun, akar dari pengingkaran kalian bukan karena argumentasi dan dalilpun tidak cukup, melainkan kezaliman dan kejahatan yang kalian ingin lanjutkan, sehingga kalian beranggapan itu akan menjamin kekuasaan kalian. Oleh karena itu, kalian tidak menerima seruanku dan ini membuat kalian tidak akan terselamatkan di dunia dan akhirat.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam penerimaan ajaran agama, akal, logika dan argumentasi merupakan parameter utama, bukan ucapan dan sejarah orang-orang terdahulu.
2. Tuduhan dan pengingkaran merupakan senjata utama penentang para nabi dan orang-orang saleh sepanjang sejarah.
3. Mengikuti hidayah para nabi akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan akhir baik dalam hidup ini.