Jalan Menuju Cahaya 697
Surat al-Qashash ayat 38-42.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ (38)
Dan berkata Firaun, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (28: 38)
Pada pertemuan sebelumnya, telah disebutkan bahwa Firaun dan para pejabat istananya mengingkari risalah Nabi Musa as dan menyebut mukjizat yang ditunjukkan beliau sebagai ilmu sihir. Mereka mengklaim para pendahulu tidak ada yang mengenal Tuhan-nya Nabi Musa dan tidak menyembahnya.
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu cara Firaun melawan seruan Nabi Musa as dan untuk mencegah pengaruh seruannya dalam masyarakat, adalah menginstruksikan pembangunan sebuah menara atau tugu tinggi agar Firaun dan para pejabat istana dapat melihat apakah Tuhan yang diserukan leh Nabi Musa as ada di langit atau tidak.
Firaun mengeluarkan instruksi tersebut hanya untuk mengelabui opini masyarakatnya. Ia ingin mengatakan kepada masyarakat, “Akulah Tuhan kalian dan aku tidak mengenal ada Tuhan lain untuk kalian. Akan tetapi agar kalian tidak beranggapan bahwa aku bermusuhan dengan Musa dan mengingkari ucapannya tanpa alasan, aku akan membangun menara seperti ini sehingga para pembesar kalian dapat memahami ucapanku dan menyaksikan sendiri bahwa tidak ada Tuhan lain di langit, dan bahwa Musa berbohong.”
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kesombongan dan mental imperialisme akan mencegah seseorang menerima kebenaran.
2. Pengelabuhan opini masyarakat dengan bertingkah memperjuangkan kebenaran, merupakan salah satu cara para penjajah untuka mengalihkan pandangan masyarakat.
3. Orang yang sombong, akan melihat dirinya sebagai poros dan pusat segala sesuatu. Mereka menilai diri mereka sebagai penguasa dan pemilik bumi serta tidak memperhatikan hak-hak orang lain. Dewasa ini, juga muncul kekuatan-kekuatan bersifat Firaun yang menilai diri mereka sebagai penguasa dan pemilik bumi.
وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ (39) فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (40)
Dan berlaku angkuhlah Firaun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. (28: 39)
Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (28: 40)
Dua ayat ini menyinggung berakhirnya nasib Firaun dan pengikutnya di dunia dan menegaskan bahwa penentangan mereka di hadapan kebenaran, pengingkaran asal-usul dan tempat kembali di satu sisi, serta kezalimannya terhadap masyarakat di sisi lain, telah membuat mereka akan diazab di bumi ini. Allah Swt menenggelamkannya di sungai Nil. Sungai yang menjadi sumber kehidupan, kekuatan dan kekayaan mereka telah berubah menjadi kuburan bagi Firaun dan pasukannya.
Ayat-ayat tersebut menyinggung dua karakteristik rezim Firaun yang menjadi sebab kehancuran mereka, pertama mental penjajahan dan supremasi, serta yang kedua kezaliman terhadap masyarakat papa dan penistaan hak-hak mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Agar kita tidak melawan kebenaran dan hakikat karena akan menghancurkan kita.
2. Ketidakyakinan pada Hari Kiamat dan akhirat akan menjebak manusia dalam kesombongan. Ini menjadi akar dari berbagai penyimpangan, kezaliman dan kejahatan para penguasa arogan.
3. Hukuman Allah Swt tidak hanya berlaku untuk di akhirat saja, karena Allah Swt akan menghinakan manusia-manusia sombong itu di dunia ini.
4. Nasib para penguasa sombong dan zalim di sepanjang sejarah adalah sama.
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ (41) وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ (42)
Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (28: 41)
Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). (28: 42)
Dua ayat ini menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat para pendosa akan dilempar ke neraka, dan Firaun akan memimpin para pendosa menuju neraka, sebagaimana dia memimpin kaum pendosa di dunia.
Mereka di dunia dilaknat dan dikutuk oleh kaum tertindas dan sepanjang sejarah mereka akan dilaknat oleh kaum mukmin. Perilaku buruk mereka di dunia akan termanifestasikan di hari kiamat kelak dan mereka akan dibangkitkan dengan wajah-wajah buruk dan menjijikkan.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mereka yang sekarang mengandalkan kekuasaan dan fasilitasnya, pada Hari Kiamat kelak akan sendirian bahkan tidak punya kemampuan untuk menyelamatkan dirinya.
2. Laknat dan kutukan orang-orang tertindas adalah perkara yang telah diijinkan oleh Allah Swt.
3. Mereka yang dalam kehidupan dunia menjadi pemimpin kekufuran dan kesesatan, maka pada hari pembalasan kelak juga akan menjadi pemimpin orang-orang Kafir dan sesat di neraka.
4. Amal buruk manusia di dunia juga akan membuat wajahnya buruk di akhirat kelak.