Feb 10, 2018 15:50 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 47-50.

وَلَوْلَا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آَيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (47) فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَى أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ (48)

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin.” (28: 47)

Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, “Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?.” Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata, “Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu.” Dan mereka (juga) berkata, “Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.” (28: 48)

Ayat tersebut menyinggung salah satu bentuk sunnatullah (ketetapan Allah Swt) di sepanjang sejarah yaitu, Tuhan telah memberikan akal kepada manusia dan dengan akalnya, mereka dapat memahami baik dan buruknya sejumlah besar perbuatan atau benar dan tidaknya sejumlah akidah dan adat-istiadat. Meski demikian, sunnatullah menegaskan bahwa selama seorang rasul belum diutus kepada suatu kaum, mereka tidak akan disiksa atas kesalahan-kesalahannya, sebab jika itu dilakukan, mereka akan mengajukan protes bahwa jika seorang rasul datang untuk membimbing kami, niscaya kami akan mendapatkan petunjuk dan selamat.

Ayat tersebut kemudian mengisahkan tentang protes sekelompok masyarakat setelah diutus seorang rasul kepada mereka. Mereka berkata, “Mengapa Muhammad tidak menunjukkan mukjizat seperti yang dibawa oleh Musa? Mengapa tongkat di tangannya tidak berubah menjadi ular atau tidak bisa membelah lautan sehingga musuh tenggelam di dalamnya?”

Untuk menjawab alasan-alasan mereka, al-Quran berkata, “Bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu? Dan apakah jika Muhammad juga melakukan hal serupa, maka tidak ada lagi orang yang ingkar?

Sebenarnya, orang-orang yang ingkar senantiasa akan menyebut mukjizat Ilahi sebagai sihir dan mereka tidak akan menerimanya. Para penentang Nabi Musa as menyebutnya sebagai tukang sihir dan demikian juga dengan para penentang Nabi Muhammad Saw. Sekelompok masyarakat menganggap tongkat yang menjadi ular sebagai sihir dan kelompok yang lain menyebut ayat-ayat al-Quran sebagai mantra sihir.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Allah Swt dengan mengutus para nabi telah menyempurnakan hujjah (dalil) atas mereka dan tidak ada lagi jalan untuk mencari-cari alasan.

2. Kebanyakan masalah dan musibah merupakan dampak dari perilaku kita sendiri. Perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan juga memiliki dampak di dunia ini.

3. Kata-kata penyihir dan dukun merupakan tuduhan yang paling sering dipakai kaum kafir untuk menyerang para nabi. Mereka menyebut Taurat dan al-Quran sebagai dua kitab sihir yang saling membela.

قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَى مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (49) فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)

Katakanlah, “Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar.” (28: 49)

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (28: 50)

Orang-orang kafir menuduh para utusan Allah Swt sebagai penyihir dan ayat tersebut memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk berkata kepada para penentangnya, “Kalian yang mengingkari Taurat dan al-Quran sebagai dua kitab Allah, maka datangkanlah sebuah kitab yang lebih dapat memberi petunjuk dari kedua kitab tersebut dan percayalah niscaya aku akan mengikutinya.” Dengan kata lain, Rasulullah Saw berkata, “Misi di sini adalah mencapai hidayah Allah dan jika kalian juga diutus dari sisi-Nya dan membawa sebuah kitab, tentu aku akan menerima dan mengikutinya.”

Jelas bahwa para pembangkang tidak mampu membawa kitab dari sisi Allah Swt dan juga tidak bisa menemukan sebuah kitab yang lebih sempurna dari al-Quran. Mereka hanya mengikuti dan ingin memuaskan hawa nafsunya. Mereka mempertanyakan para nabi karena menemukan kitab-kitab langit dan kepribadian utusan Allah Swt bertentangan dengan hawa nafsunya.

Pada dasarnya, mengikuti hawa nafsu akan menjadi penghalang untuk menerima kebenaran dan mendorong manusia ke arah kesesatan. Para pemuja hawa nafsu bahkan dengan lancang menuding para nabi sebagai orang-orang sesat dan menganggap dirinya sebagai orang yang mendapat petunjuk.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam membuktikan kebenaran, kadang harus dipakai metode tahaddi (menantang) dan perdebatan. Salah satu dalil kebenaran Rasulullah Saw dan al-Quran adalah menggunakan tahaddi yaitu para pengikar wahyu dan kenabian ditantang untuk mendatangkan semisal al-Quran.

2. Manusia harus mengikuti kebenaran, bahkan jika perkataan yang benar itu keluar dari lisan penentangnya.

3. Hidayah hakiki adalah sebuah petunjuk yang bersumber dari ilmu dan hikmah Ilahi yang tidak terbatas, bukan dari ilmu yang cacat dan bercampur dengan hawa nafsu.