Feb 10, 2018 15:53 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 51-55.

وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (51) الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ (52)

Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al Quran) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (28: 51)

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. (28: 52)

Pembukaan ayat tersebut menyinggung masalah kekufuran dan pembangkangan orang-orang Musyrik. Allah Swt telah menurunkan al-Quran secara bertahap dan berkesinambungan agar membekas di hati orang-orang Musyrik. Namun, mereka tidak mengambil pelajaran dan menolak firman yang benar. Sebagian Ahli Kitab –yang beriman kepada para nabi dan kitab sebelumnya– mengimani Muhammad Saw setelah mereka menemukan kebenaran kenabiannya.

Dikisahkan bahwa sekelompok pendeta Habasyah diperintahkan oleh Raja Najasyi untuk meneliti agama yang dibawa oleh Muhammad Saw. Mereka mendengarkan ucapan-ucapan hikmah Rasulullah Saw dan mengimaninya. Mereka kemudian menjadi para penyeru agama Allah Swt.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pendidikan merupakan sebuah proses yang perlu diajarkan secara bertahap dan itupun dengan memberi arahan dan bimbingan, bukan dengan paksaan dan intimidasi.

2. Kitab-kitab samawi dan para utusan Allah Swt membawa pesan yang sama dan untuk tujuan yang sama.

3. Ahli Kitab sejati adalah orang-orang yang setelah mengenal Nabi Muhammad Saw dan ajarannya, beriman kepadanya serta tidak fanatik dengan agama dan keyakinannya.

وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آَمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ (53) أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (54)

Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).” (28: 53)

Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. (28: 54)

Sebagai kelanjutan ayat sebelumnya, dua ayat tersebut berkata bahwa sekelompok Ahli Kitab yang beriman kepada Rasulullah Saw, memiliki hati yang bersih dan mereka tunduk pada kebenaran. Ketika mendengar Rasul Saw membacakan ayat-ayat al-Quran, mereka berkata, “Kami menganggap al-Quran itu dari sisi Allah dan kami beriman kepadanya. Kami sebelumnya juga orang-orang yang membenarkan nabi dan beriman kepadanya.” Oleh sebab itu, mereka memperoleh dua kali pahala; pertama karena keimanan mereka kepada kitab dan nabi terdahulu, dan kedua disebabkan keimanan mereka kepada Rasulullah Saw dan Islam.

Mereka adalah orang-orang menolak kejahatan dengan kebaikan, membalas ucapan yang buruk dengan perkataan yang baik, menyikapi perilaku yang buruk dengan kesabaran, dan memperlihatkan kasih sayang terhadap sikap yang tidak ramah. Mereka adalah orang-orang yang suka berinfak dan tidak melupakan orang lain.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para pencinta kebenaran akan selalu mencari kebenaran. Bagi mereka tidak penting siapa gerangan ia, berasal dari suku mana, dan dengan bahasa apa ia menyampaikan kebenaran. Mereka hanya menginginkan kebenaran itu sendiri dan inilah yang penting buat mereka. Jadi, siapa saja yang berkata benar, kita harus menerimanya.

2. Menerima kebenaran membutuhkan kesabaran dan ketahanan terhadap berbagai cobaan dan gangguan.

3. Hubungan sosial dan interaksi dengan orang lain harus dibangun atas prinsip memaafkan dan berbesar hati. Level yang lebih tinggi dari itu adalah membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ (55)

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (28: 55)

Ayat ini merupakan salah satu contoh kesabaran dalam menghadapi perkataan dan perilaku buruk orang lain. Orang mukmin jika mendengar perkataan yang kotor dan sia-sia, ia tidak akan ikut-ikut berbuat demikian dan tidak akan mengeluarkan kata-kata kotor dari lisannya.

Ia memilih sikap toleran dan dengan sikap yang ramah ia berkata, ”Jika jalan dan perbuatan kami tidak benar, maka akibatnya akan kembali kepada diri kami, bukan kalian. Dan jika pekerjaan kalian tidak benar, dampaknya akan kembali kepada diri kalian sendiri, bukan kami. Jadi, kesejahteraan atas kalian dan keselamatan untuk kami. Kami tidak ingin berbuat pekerjaan bodoh dan jika kalian berbuat jahat kepada kami, kami tidak akan memperlakukan kalian demikian.”

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Syarat beriman kepada Allah Swt adalah menjauhi ucapan yang sia-sia atau perbuatan buruk. Orang mukmin tidak boleh mengeluarkan perkataan yang tidak bermanfaat dan tidak membalas keburukan orang lain dengan keburukan pula. Mukmin sejati akan meninggalkan ucapan yang sia-sia.

2. Meninggalkan semua sikap dan perilaku yang tidak bermanfaat dan sia-sia merupakan sebuah sifat yang dipuji oleh semua agama Ilahi.

3. Jika nahi munkar yang kita lakukan tidak memberi pengaruh, maka sikap minimal yang harus kita tunjukkan adalah meninggalkan kemungkaran dan menjauhi pelakunya sehingga ia sadar bahwa kita tidak suka dengan perbuatan buruknya.