Feb 10, 2018 15:56 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 56-58.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (56)

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (28: 56)

Pada pelajaran tafsir sebelumnya telah disinggung bahwa tidak semua orang musyrik bersedia meninggalkan berhala dan menerima agama Islam. Namun, sebagian Nasrani Ahli Kitab setelah mendengarkan ayat-ayat al-Quran memilih beriman kepada Rasulullah Saw dan mereka mengakui bahwa Muhammad Saw adalah sosok yang dikabarkan kedatangannya oleh Isa al-Masih as.

Pada dasarnya, ayat tersebut menjelaskan sebuah prinsip umum yaitu semua nabi bertugas untuk menyampaikan ayat-ayat Allah Swt dan menyeru masyarakat kepada tauhid. Para nabi tidak akan diminta pertanggung jawaban atas penerimaan atau penolakan masyarakat. Mereka hanya menunjukkan jalan Tuhan kepada umat manusia dan menyeru mereka, tapi perkara diterima atau ditolak ini sudah bukan kewenangan para nabi.

Para nabi menginginkan semua orang beriman dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Namun, mereka tidak punya hak untuk memaksa masyarakat menempuh jalan tersebut. Kalau pun para nabi memaksa umat untuk beriman, tentu hati mereka tetap tidak menerima kebenaran. Hanya Allah Swt yang bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Dalam sejarah bahkan ditemukan orang-orang yang masih tergolong kerabat Nabi Saw, menolak beriman dan mereka tidak mau meninggalkan syirik. Namun, Ahli Kitab yang fanatik pada ajarannya justru menerima kenabian Muhammad Saw. Dalam surat Yunus ayat 43, Allah Swt berfirman, “… apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan?”

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tugas para nabi adalah menyampaikan seruan Allah Swt, bukan memaksa masyarakat. Penerimaan dan penolakan umat sudah bukan kewenangan mereka.

2. Kehendak Allah Swt berlandaskan pada ilmu dan hikmah-Nya. Tuhan berdasarkan hikmah-Nya akan memberi hidayah kepada siapa saja yang layak mendapatkan petunjuk.

وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آَمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (57)

Dan mereka berkata, “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (28: 57)

Ayat tersebut menyinggung tentang orang-orang yang hidup di Kota Mekah dan mulai menyadari kebenaran al-Quran dan kenabian Rasulullah Saw. Namun, mereka menolak beriman demi menjaga kepentingan pribadi dan keamanan keluarganya. Mereka beralasan bahwa para pembesar Mekah –yang memiliki kekuasaan dan kekayaan– akan mengusir kami dari kota itu dan menghancurkan rumah-rumah kami. Jika itu terjadi, kami akan berada dalam kesengsaraan dan menjadi orang-orang yang terusir.

Al-Quran kemudian memberi jawaban kepada mereka; bukankah kekuasaan Allah Swt lebih besar dari kekuasaan para pemuka Quraisy? Dia mencurahkan segala nikmat kepada kalian dan memberi keamanan kepada penduduk Mekah. Apakah Tuhan tidak kuasa untuk melindungi kalian dari Quraisy? Meskipun kaum Muslim pada awalnya menerima siksaan dan tekanan dari kafir Quraisy, namun dengan kehedak Allah Swt dan perjalanan waktu, mereka semakin bertambah kekuatannya sehingga mampu menaklukkan Mekah dan menguasainya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Banyak individu menolak beriman demi mencapai kelezatan materi atau mempertahankan kepentingan pribadi, bukan karena tidak memahami kebenaran.

2. Keamanan harus menjadi prioritas utama. Dalam iklim yang aman dan stabil, pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja akan tercipta. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat juga akan tercapai.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ (58)

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya). (28: 58)

Ayat ini membawa pesan kepada kaum musyrik Makkah dan memberi teguran bahwa kalian menolak beriman demi menjaga harga benda dan kesejahteraan kalian. Namun, apakah kalian sudah lupa bahwa sebagian umat terdahulu hancur binasa karena terbuai harta benda dan menjadi congkak? Lalu, apakah ada jaminan bahwa kalian tidak akan terjebak dalam kekufuran dan kebinasaan jika kalian juga hidup bergelimangan harta?

Perkampungan kaum A'ad dan Tsamud terletak pada rute perdagangan para saudagar Arab dari Mekah ke Syam dan mereka sudah sering menyaksikan sisa-sisa kehancuran di wilayah itu, tapi mereka tidak mengambil pelajaran.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kekayaan dan kesejahteraan tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Harta kadang akan menyebabkan kesombongan, arogansi, dan kebinasaan manusia.

2. Sisa-sisa peninggalan umat terdahulu adalah pelajaran bagi manusia. Oleh karena itu, warisan kuno dan peradaban kaum terdahulu perlu dilestarikan sebagai pelajaran untuk generasi mendatang.

3. Dunia ini hanya sementara dan fana. Jangan hanya melihat sisi lahiriyah kehidupan hari ini orang-orang kaya, tapi pahamilah bahwa mereka juga akan meninggalkan semua kenikmatan dan pergi dari dunia ini.