Lintasan Sejarah 23 Juli 2018
Hari ini, Senin tanggal 23 Juli 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 9 Dzulqadah 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Mordad 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Nasir Khusraw Qubadiani Lahir
1045 tahun yang lalu, tanggal 9 Dzulqadah 394 HQ, Nasir Khusraw Qubadiani, seorang penyair dan penulis termasyhur Iran, terlahir ke dunia di kota Balkh, yang kini termasuk wilayah Afganistan.
Sejak kecil, Nasir Khusraw telah mempelajari berbagai ilmu yang berkembang di zamannya dan telah menghapal al-Quran. Selain mahir di bidang sastra Persia, Nasir Khusraw juga menguasai ilmu hitung, teknik sipil, astronomi, kedokteran, farmasi, dan teologi.
Kehidupan Nasir Khusraw penuh dengan lika-liku. Awalnya, ia bekerja sebagai sekretaris dalam pemerintahan Mahmoud dan Masoud Ghaznavi. Namun, setelah terjadi perubahan pemikiran dalam dirinya, Nasir Khusraw meninggalkan dunia politik dan melakukan penelitian di bidang agama.
Berakhirnya Dinasti Mamalik Mesir
220 tahun yang lalu, tanggal 23 Juli 1798, tentara Napoleon memasuki kota Kairo, Mesir, dan merebut kekuasaan Dinasti Mamalik yang telah lama berkuasa di negeri Piramida itu.
Awalnya tentara Napoleon menduduki Pelabuhan Laut Iskandariah. Setelah itu, mereka bertolak menuju Kairo.
Penguasa Mesir waktu itu, Murad Beik, bersama pasukannya melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi, karena peralatan perang Perancis jauh lebih modern dibandingkan dengan yang dimiliki Mesir, dalam pertempuran tidak seimbang yang dikenal dengan nama perang Piramida itu, tentara Perancis berhasil mematahkan perlawanan Mesir, untuk kemudian menduduki negara itu.
Mohammad Reza Pahlevi Akui Rezim Zionis Israel
67 tahun yang lalu, tanggal 1 Mordad 1330 HS, Shah Mohammad Reza Pahlevi mengakui rezim Zionis Israel.
Ketika perang propaganda mencapai puncaknya antara Iran dan beberapa negara seperti Uni Soviet dan Cina akibat begitu dekatnya Shah Mohammad Reza Pahlevi kepada Amerika dan pemberian banyak konsesi kepada AS, pemerintah Manouchehr Iqbal, Perdana Menteri waktu itu mulai kasak-kusuk untuk menjalin hubungan dengan rezim Zionis Israel. Akhirnya, pemerintah Iran mengakui Zionis Israel secara terbatas.
Menyusul terjalinnya hubungan antara Iran dan rezim Zionis Israel, Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir mengeluarkan pernyataan keras terhadap Shah Iran dan mengritik sikap Iran mengakui Zionis Israel. Pernyataan Gamal Abdul Nasser itu sangat berpengaruh terhadap negara-negara Islam, sehingga mereka ikut mengritik pemerintah Iran dan Shah terpaksa mengirim pesan telegram kepada Syeikh Shaltout, Syeikh al-Azhar yang isinya menjelaskan bahwa pada 1 Mordad 1330, Iran mengakui rezim Zionis Israel secara terbatas dan saat ini tidak melakukan tindakan apa-apa.