Okt 10, 2018 13:43 Asia/Jakarta
  • Masjidil Haram.
    Masjidil Haram.

Seperti yang kita katakan pada sesi sebelumnya, tujuan utama bangunan masjid adalah menyediakan tempat khusus untuk beribadah kepada Allah Swt, dan alasan penamaannya dengan masjid adalah karena ia tempat sujud dan merendahkan diri di hadapan Allah. Tapi, kita juga tidak boleh mengabaikan fungsi-fungsi lain masjid

Pada permulaan Islam, masjid adalah pusat penting untuk menjalankan misi risalah Nabi Saw, menyampaikan pesan-pesan langit, dan menyebarkan Islam.

Salah satu kegiatan dakwah Rasulullah Saw adalah mengadakan acara keagamaan dan menyampaikan nasehat kepada masyarakat. Nasehat adalah mengingatkan dan menganjurkan kepada kebaikan sehingga hati menjadi lunak. Rasul Saw menggunakan cara ini untuk membimbing masyarakat dan juga mendorong mereka untuk menggelar majlis zikir dan acara pengajian. Seperti disebutkan dalam hadis, Rasul berkata kepada kaum Muslim, "Bergegaslah kalian menuju taman surga." Mereka lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksudmu dari taman surga itu?" Beliau bersabda, "Majlis zikir dan mengingat Allah."

Kegiatan dakwa Nabi Saw di masjid dipenuhi dengan pembekalan spiritual dan maknawi. Ajaran Ilahi ini membuat orang-orang yang berpotensi untuk diberi hidayah, terkesima dengan agama Islam. Nasehat-nasehat Rasulullah tidak hanya terbatas pada ceramah, tapi juga tampak dalam perilaku beliau dan menjadikan masjid sebagai pusat bimbingan masyarakat.

Akhlak Rasul Saw begitu menyentuh hati masyarakat sehingga terkadang orang-orang yang datang ke masjid untuk membunuh beliau, terpesona oleh sosok manusia suci ini, dan dengan seluruh wujudnya, mereka bersaksi atas keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad Saw dan memilih masuk Islam. Umair bin Wahab, termasuk mereka yang datang dari Mekkah ke Masjid Nabawi untuk membunuh Nabi Muhammad Saw dengan pedang beracun.

Menurut catatan sejarah, Umair bin Wahab dan Safwan bin Umayyah bertemu di samping Ka'bah setelah Perang Badr. Umair adalah salah satu dari mereka yang selalu menyakiti Rasulullah dan para sahabatnya di Mekkah. Putranya ditawan dalam Perang Badr. Umair berbicara tentang orang-orang yang terbunuh dalam perang itu dengan Safwan. Safwan lalu berkata, "Demi Tuhan! Tidak ada enaknya hidup setelah mereka."

Umair berkata, "Engkau benar! Aku bersumpah kepada Tuhan bahwa jika aku mampu membayar utangku dan yakin anak-anakku tidak akan terlantar setelahku, pasti aku akan mendatangi Muhammad dan membunuhnya." Safwan memanfaatkan kesempatan ini dan berujar, "Aku akan melunasi utangmu, dan anak-anakmu tidak ada bedanya dengan anak-anakku." Umair lalu berkata, "Jika demikian, rahasiakan perkara ini."

Umair kemudian melumuri pedangnya dengan racun dan bergegas pergi ke Madinah. Ketika sampai di Madinah, dia mendatangi Nabi Muhammad dengan pedang beracun. Beberapa sahabat nabi ingin menghentikannya. Tapi nabi berkata, "Lepaskan dia." Umair maju ke depan dan berkata, "Selamat pagi." Ini adalah ucapan yang biasa dipakai di masa Jahiliyah. Rasulullah kemudian berkata, "Allah menganugerahkan kepada kita ucapan yang lebih baik dan itu adalah Assalamu'alaikum."

Rasul lalu bertanya kepadanya, "Apa maksud kedatanganmu?" Umair menjawab, "Aku datang untuk putraku yang engkau tawan." Rasul berkata, "Engkau datang untuk tujuan lain, karena engkau dan Safwan duduk di samping Ka'bah dan berbicara tentang orang-orang yang terbunuh di Badr. Engkau berujar, jika aku tidak terlilit utang dan anak-anakku tidak terlantar, aku pasti akan mendatangi Muhammad dan membunuhnya. Kemudian Safwan berkata, aku akan mengasuh anak-anakmu dan melunasi utangmu, dan sekarang Allah menjadi penghalang antara aku (Rasul) dan tugas yang engkau pikul."

Setelah mendengar itu, Umair mulai sadar dan berkata, "Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, sungguh engkau membawa berita dari langit, tapi kami selama ini mendustakanmu, karena tidak ada yang tahu tentang perkara ini kecuali aku dan Safwan, dan aku yakin Tuhan pasti sudah memberitahumu. Segala puji atas Tuhan yang telah memberiku hidayah dan menyeruku ke jalan yang benar."

Lalu Umair mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian Rasul Saw memandang para sahabatnya dan berkata, "Ajarilah saudaramu perkara-perkara agama dan al-Quran, dan juga bebaskanlah putranya."

Sejarah Masjid Jami' Umawi di Suriah

Pada segmen ini, kami akan mengenalkan Masjid Jami' Umawi, salah satu masjid paling populer di Suriah. Masjid Umawi adalah masjid terpenting di Suriah dan masjid ini terletak di bagian tua kota Damaskus, dan salah satu masjid terindah di dunia Islam. Masjid Jami' Umawi dibangun oleh al-Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam dari Dinasti Umayyah pada tahun 87 Hijriah (706 M). Menurut para sejarawan, al-Walid menghabiskan tujuh tahun pendapatan pajak negara untuk membangun masjid tersebut.

Sejarah Masjid Jami' Umawi kembali ke masa sebelum Masehi. Menurut beberapa arkeolog, tempat ini telah menjadi pusat peribadatan kaum Majusi. Setelah tentara Romawi merebut Syam, kuil tersebut diperluas dan dijadikan tempat pemujaan tuhan mereka. Setelah munculnya Nabi Isa as dan menyebarnya ajaran Kristen, kuil itu berubah menjadi gereja. Situasi ini berlanjut sampai kaum Muslim menaklukkan Syam dan menggunakan tempat tersebut untuk shalat. Kaum Muslim juga menyisakan satu bagian dari tempat itu sebagai gereja untuk orang-orang Kristen.

Fenomena ini berlangsung selama sekitar 70 tahun, kaum Muslim dan orang-orang Kristen melaksanakan ritual ibadah bersebelahan. Pada tahun 705 M, ketika kekhalifahan Umayyah dipegang ke al-Walid bin Abdul Malik, dia mengambil alih gereja tersebut. Khalifah Umayyah mengubah menara-menara kuno Romawi sebagai menara tempat adzan. Pembangunan menara tidak lazim sebelum era Umayyah, dan model menara Masjid Umawi meniru menara yang dibangun untuk kuil-kuil di Suriah.

Masjid Jami' Umawi.

Al-Walid mengundang arsitek dan insinyur dari Iran, India, Maroko, dan Romawi untuk membangun sebuah masjid di Damaskus. Ia mempercantik masjid dengan batu marmer terbaik dan batu hias lainnya. Di atas shabestan masjid, al-Walid membangun sebuah kubah yang disebut Nasr, dan mendirikan 20 tiang di sisi timur, 20 tiang di sebelah barat, dan empat tiang utama di tengah masjid. Keempat tiang utama itu dipakai untuk menopang kubah yang disebut Kubah al-Nasr.

Al-Walid melapisi tiang-tiang masjid dengan emas, perak, dan sutra. Dia juga menghiasi mihrab masjid dengan permata, dan lampu gantung dengan lapisan emas dan perak.

Selama beberapa abad, perbaikan dan pemugaran dilakukan terhadap Masjid Jami' Umawi. Ada tiga kubah kecil yang dibangun di halaman masjid yaitu; Kubah al-Mal. Kubah ini dibangun oleh Emir Damaskus, Fadl bin Salih al-Abbasi, sepupu al-Mansur al-Abbasi pada tahun 172 Hijriah untuk menyimpan harta benda masjid dan dengan begitu ia dikenal sebgai Kubah al-Mal.

Kubah al-Wudu'. Kubah ini terletak di tengah halaman dan dibangun pada tahun 369 Hijriah. Kubah kecil ini ditopang oleh enam tiang batu marmer. Dan terakhir Kubah al-Sa'at. Kubah ini terletak di sebelah timur halaman, di samping Bab al-Sa'at yang dibangun pada abad ke-5 Hijriah dan merupakan tempat untuk jam masjid.

Seperti yang dikatakan, pembangunan pertama menara dimulai pada era Dinasti Umayyah. Masjid Jami' Umawi memiliki tiga menara besar yang dipakai untuk mengumandangkan adzan, yang dibangun dari batu dan terletak di bagian utara, barat daya, dan tenggara masjid. Menara Timur. Menara ini dikenal sebagai Menara al-Bayda dan Menara Isa. Sebagian percaya bahwa Nabi Isa as akan turun di menara ini pada akhir zaman.

Menara Utara. Ia dikenal sebagai Menara al-'Arus, karena di masa lalu, pada saat mengadakan upacara pernikahan, masyarakat memasang lampu dan menggantung kain warna-warni dan mereka percaya bahwa ritual ini akan mendatangkan berkah. Dan Menara Barat, ia dikenal sebagai Menara Aqbai. (RM)