Jan 16, 2019 19:01 Asia/Jakarta
  • perkembangan teknologi Iran
    perkembangan teknologi Iran

Para peneliti Unit Sains dan Riset, Universitas Azad Eslami Iran untuk pertama kalinya di Iran berhasil memisahkan dan mendeteksi bakteri-bakteri Salmonella pada sampel telur ayam yang terkontaminasi bakteri ini.

Untuk dapat mendeteksi bakteri ini, para peneliti menggunakan metode real-time polymerase chain reaction (Real-Time PCR) dan analisa High Resolution Melt (HRM).

Salmonella adalah suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifoid, paratifod, dan penyakit foodborne.

Salmonella biasanya ditemukan pada anak ayam dan telur ayam, dan ia salah satu penyebab utama munculnya Foodborne disease atau penyakit yang disebabkan makanan atau minuman yang tercemar.

Sejumlah laporan menyebutkan, setiap tahunnya jutaan orang terserang penyakit ini dan ribuan orang meninggal dunia akibat terinfeksi Salmonella di seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu deteksi cepat keberadaan Salmonella pada bahan makanan, menjadi sangat penting.

Menurut keterangan para peneliti, biasanya untuk mendiagnosa Salmonella digunakan metode Kultur Mikrobiologi yang memakan waktu 4-7 hari dan tidak memiliki akurasi yang memadai.

Dalam penelitian ini diupayakan agar digunakan sebuah metode yang lebih cepat dan akurat untuk mendiagnosa dan memisahkan bakteri. Kurang dari 24 jam, bakteri Salmonella pada telur ayam dapat dideteksi dengan metode tersebut.

Menurut para peneliti, metode ini dapat disebut sebagai sebuah teknik sensitif dan cepat dalam mendeteksi sampel makanan tercemar oleh bakteri Salmonella.

Penggunaan metode itu dapat mengatasi masalah kontrol kualitas dan kuantitas produk dalam waktu relatif lebih cepat dengan akurasi tinggi, dan ini  merupakan salah satu kebutuhan industri makanan.

Penelitian dilakukan dalam bentuk kajian tugas akhir dan dicatat sebagai penemuan baru di unit sains dan riset Universitas Azad Eslami.

Pada olimpiade teknologi nano internasional pertama, International Nanotechnology Olympiad (INO) yang diselenggarakan di Tehran, Iran pada April 2018, tim Korea Selatan berhasil memenangkan hadiah 2.000 euro atas ide mereka tentang Valley Qubit pada suhu kamar.

Di kategori bisnis, tim Iran memenangkan hadiah 2.000 euro untuk solusinya menghilangkan kromium dari air limbah pabrik kulit.

Sementara tim Malaysia, memenangkan hadiah 2.000 euro dalam kategori sains dan teknologi. Tim Malaysia memberikan ide tentang Membran Nano-PFTF untuk pengolahan air limbah industri.

nano

Tim Taiwan pada olimpiade ini berhasil merebut total hadiah 3.000 euro atas proyek terbaik terkait ide mereka tentang Nature-inspired Omniphobic Membranes and Photocatalysts Design towards a Near-Zero Liquid Discharge (N-ZLD).

Sekelompok peneliti di Institut Teknologi Konfederasi Swiss di Lausanne, EPFL yang dipimpin seorang peneliti keturunan Iran menemukan bahwa meteorit yang jatuh di Sudan satu dekade lalu merupakan bagian dari sebuah planet yang hilang.

Planet ini muncul di awal terbentuknya tata surya, yaitu beberapa juta tahun setelah terbentuknya matahari.

Meteorit yang dikenal dengan Almahata Sitta itu terlacak menukik ke bumi oleh teleskop dan meledak di atas gurun Nubian, Sudan pada tahun 2008.

Para peneliti dari Universitas Khartoum, Sudan mengumpulkan 480 keping serpihan meteorit dengan berat 4 kilogram.

Menurut para ilmuwan, analisa mikroskopis yang dilakukan terhadap berlian yang ditemukan pada meteorit tersebut menunjukkan bahwa berlian tersebut mengandung senyawa hasil tekanan kuat dan terbentuk jauh di bawah permukaan planet yang dinyatakan hilang tersebut.  

Salah satu peneliti Institut Teknologi Federal di Lausanne, Swiss, Farhang Nabiei mengatakan, simulasi menunjukkan bahwa tata surya awal memiliki puluhan planet embrionik yang saling bertabrakan untuk membentuk planet terestrial, tetapi memiliki bukti dari salah satunya ?, saya tidak berharap akan itu sebelumnya.

Penelitian ini membuktikan bahwa berlian tersebut terbentuk dari hasil tekanan di atas 20 gigapascal (GPa) atau 197.385 kali lebih besar dari tekanan atmosfer bumi di permukaan laut.

Para peneliti Universitas Pennsylvania dan Ludwig Cancer Research, Swiss berhasil menciptakan vaksin yang dipersonalisasi untuk menyembuhkan kanker.

Vaksin ini diambil dari sel-sel sistem kekebalan tubuh pasien dan di labaratorium, sel-sel itu dikombinasikan dengan konten sel-sel tumor pasien kemudian disuntikkan ke tubuhnya sehingga muncul reaksi yang lebih luas dalam sistem kekebalan tubuh orang tersebut.  

Uji coba ini dilakukan dengan maksud mengkaji kekebalan dan kemampuan penyembuhan pada para penderita kanker ovarium tingkat lanjut dan menunjukkan tanda-tanda nyata dari efektivitas vaksin ini.

Pada sekitar setengah pasien yang menerima vaksin ini, tanda-tanda reaksi anti-tumor T-cell, Sel T atau limfosit T, tampak jelas. Orang-orang yang memiliki reaksi semacam ini, dalam waktu yang lebih lama, hidup tanpa pertumbuhan tumor.

Seorang penderita tumor dua tahun pasca penyuntikkan vaksin, bahkan bisa bersih dari penyakitnya dan selama lima tahun tidak memerlukan pengobatan.

Penyembuhan para penderita kanker ovarium sangat sulit dan meliputi operasi bedah pasca kemoterapi.

Meski biasanya hasil pengobatan di awal tampak baik dengan metode penyembuhan ini, namun penyakit mereka akan kembali dan ia menunjukkan kekebalan terhadap pengobatan.[]