Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (75)
-
perkembangan teknologi Iran
Para peneliti di Universitas Yazd, Universitas Tehran dan Universitas Tarbiat Modares Iran berhasil menciptakan nanobiosensor yang dapat mendiagnosa penyakit Alzheimer dengan akurasi dan kecepatan tinggi, biaya rendah dan tidak memerlukan alat canggih.
Alzheimer merupakan jenis gangguan kognitif yang paling banyak menyerang manusia. Memburuknya penyakit itu pada seseorang ditandai dengan sejumlah tanda seperti gangguan ingatan dan gangguan dalam pekerjaan rutin sehingga menimbulkan masalah kepribadian.
Tingkat penyebaran penyakit ini di seluruh penjuru dunia terus mengalami peningkatan dan terdapat berbagai metode diagnosa dan pengobatan efektif namun terbatas.
Masalah ini menyebabkan sebagian besar upaya dipusatkan pada langkah pencegahan agar penyakit ini tidak menyebarluas.
Menurut para peneliti, diagnosa tepat waktu Alzheimer membantu mencegah penyebarluasan penyakit ini dan mencegah dampak serta meluasnya tanda-tanda penyakit tersebut.
Masalah ini menunjukkan semakin pentingnya diagnosa tepat waktu penyakit Alzheimer. Salah satu metode deteksi tepat waktu penyakit Alzheimer adalah penggunaan nanobiosensor elektrokimia.
Oleh karena itu para peneliti bermaksud menciptakan nanobiosensor untuk mendeteksi Alzheimer dengan akurasi dan tingkat kebenaran yang tinggi serta biaya murah, dan mereka berhasil menciptakannya.
Menurut salah seorang staf pengajar Universitas Yazd, poin positif dalam penelitian ini adalah penggunaan RNA-Mikro sampel darah penderita penyakit ini sebagai biomarker (penanda biologis).
Molekul RNA-Mikro-137 sebagai penanda biologis spesialis penyakit Alzheimer, jumlahnya bertambah saat penyakit ini muncul pada orang sehat di fase-fase awal dan hal ini dapat menjadi tanda mulai menyebarnya penyakit ini.
Menurut para peneliti, biaya akhir penggunaan metode-metode elektrokimia termasuk rendah.
Oleh karena itu jenis metode ini dapat digunakan pada seluruh orang paruh baya untuk tes skrining dan diagnosa tepat waktu penyakit Alzheimer sebelum ia semakin menyebarluas dan gejala-gejala klinis muncul, sehingga menjadi langkah pencegahan dan penghindaran dari bahaya yang lebih besar. Oleh karena itu kajian untuk pemasaran dan pengukurannya sedang dilakukan.
Hasil penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal ilmiah RSC Advances pada tahun 2017.
Para peneliti di Universitas Alzahra, Tehran dengan kerja sama Universitas Hakim Sabzevari dan Universitas Teknologi Texas, Amerika Serikat berhasil mendesain nano photo-electro catalyst yang memiliki efisiensi tinggi sehingga mampu berpartisipasi dalam proses terciptanya hidrogen dari air saat terkena sinar matahari.
Saat ini lebih dari 85 persen produksi dan konsumsi energi di dunia bersandar pada energi-energi tak terbarukan seperti bahan bakar fosil.
Karena keterbatasan sumber bahan bakar ini dan dampat negatif yang disebabkan penggunaan bahan bakar tersebut, perhatian kepada energi terbarukan dan tak ada habisnya seperti energi matahari, semakin penting.
Menurut keterangan salah satu staf pengajar Universitas Alzahra, hidrogen adalah salah satu senyawa yang mengandung energi bersih dan dapat menjadi alternatif pengganti bahan bakar fosil.
Bahan bakar bersih ini selain dapat digunakan sebagai bahan bakar, juga dipakai pada kendaraan-kendaraan bertenaga hidrogen dan kendaraan listrik yang bertumpu pada sel-sel bahan bakar dan pada industri lain seperti industri listrik.
Poin terpenting dalam produksi hidrogen adalah penggunaan metode yang sepenuhnya ramah lingkungan sehingga hidrogen bisa digunakan sebagai bahan bakar bersih.
Salah satu metode yang baru-baru ini mendapat perhatian para peneliti adalah metode Photoelectrochemistry.
Menurut para peneliti, salah satu keterbatasan penting hidrogen sebagai senyawa yang mengandung energi bersih adalah penyimpanan.
Maka dari itu, pemasaran produk hidrogen untuk digunakan sebagai bahan bakar, mungkin dilakukan jika keterbatasan-keterbatasan itu bisa diatasi.
Sejumlah banyak tim peneliti di beberapa negara seperti Jerman saat ini sedang menjalankan proyek besar di bidang ini.
Nano photo-electro catalyst yang dibuat dari bahan berbiaya murah, Hematit punya ketahanan yang tinggi dan memiliki kemampuan produksi hidrogen tanpa terjadi perubahan signifikan dalam efisiensi.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Applied Catalysis B: Environmental pada tahun 2018.
Para peneliti menemukan Dead Zone (zona mati) terbesar di dunia, di Laut Oman yang luasnya lebih besar dari negara Skotlandia dan tidak ada satu ikan, tumbuhan ataupun akuatik yang hidup di dalamnya.
Di zona mati tersebut tingkat oksigen sangat rendah, karena perubahan cuaca dan limbah melahap oksigen air. Wilayah yang belum terlalu banyak diteliti itu sangat luas dan besar.
Orang-orang yang menggantungkan sumber makanannya dari laut, terancam bahaya jika zona mati ini terus bertambah luas. Zona mati ini ditemukan oleh robot bawah laut yang melakukan penelitian di kedalaman setengah mil Laut Oman.
Panas bumi dan sampah terbukti menurunkan tingkat oksigen di zona mati ini hingga ke level yang sangat tinggi.
Akan tetapi para peneliti belum sampai pada tingkat yakin tentang batas akurat zona ini, namun penelitian-penelitian baru menunjukkan zona mati sedang mengalami perluasan.
Menurut para peneliti, zona-zona mati juga dikenal dengan wilayah minim oksigen dan biasanya berada 200-800 meter di bawah kedalaman air.[]