Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (76)
-
perkembangan iptek di Iran
Seorang peneliti keturunan Iran di Universitas Toronto, Kanada, Navid Hakimi bersama tim peneliti sekolah tersebut berhasil menciptakan sebuah "printer kulit" tiga dimensi, 3D portabel (genggam) yang mampu mencetak kulit secara langsung di atas luka yang dalam (in situ).
Printer ini bisa menyatukan jaringan kulit, menutupi dan menyembuhkan luka yang dalam.
Mesin ini seukuran sebuah kotak sepatu dan mirip dengan sebuah mesin pembuat lem putih, namun tidak menghasilkan lem tapi sebuah jaringan dari jenis Alginat (sejenis alga coklat).
Di bawah setiap lembaran hasil cetakan, terdapat barisan substansi alami yang mengandung senyawa biologis seperti sel-sel kulit dan kolagen.
Senyawa ini bersama fibrin (protein yang penting untuk menyembuhkan luka) termasuk unsur yang paling banyak ditemukan di kulit. Berat protein tersebut di bawah satu kilogram dan penggunaannya sangat mudah.
Dengan menggunakan mesin buatan peneliti Universitas Toronto ini, tahap pencucian dan inkubasi (yang biasa dilalui dalam printer biasa) dihapus, dan luka dalam waktu satu atau dua menit sembuh. Metode ini sampai sekarang sudah diuji coba terhadap tikus dan babi.
Menurut keterangan Navid Hakimi, protein kulit ini mampu menciptakan jaringan khusus dan sesuai dengan karakteristik kulit yang luka.
Para peneliti di unit rekayasa biomedis, Universitas Tarbiat Modares, Tehran menciptakan metode komprehensif untuk memprediksi serangan epilepsi lewat sinyal-sinyal otak permukaan.
Menurut para peneliti, lebih dari 65 juta orang di dunia ini terserang penyakit epilepsi. Oleh karena itu keberadaan algoritme yang dapat memprediksi kemungkinan, sebagai peringatan sebelum terjadinya serangan epilepsi dan untuk mencegah terjadinya serangan atau mengurangi dampaknya, menjadi hal yang sangat urgen.
Menurut para peneliti, Elektroensefalografi (EEG) termasuk sinyal vital yang sangat berguna untuk memprediksi serangan epilepsi.
Metode-metode yang diajukan dalam penelitian sebelumnya, karena terdapat perbedaan dalam jenis serangan dan pendeknya waktu pencatatan serta tidak adanya evaluasi hasil, tidak bisa dipercaya.
Untuk menyelesaikan masalah ini, pada penelitian yang dilakukan di Universitas Tarbiat Modares tersebut, disampaikan metode komprehensif yang bersandar pada ekstraksi karakteristik baru dari kondisi pra-epilepsi dan non-epilepsi sinyal-sinyal Elektroensefalografi permukaan dan pemilihan karakteristik yang memiliki kemampuan pemisahan maksimum di antara data-data non-epilepsi dan pra-epilepsi.
Fuzzy entropy measures digunakan untuk mengukur tingkat ketidakteraturan sinyal. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, karakteristik ini dipakai untuk menganalisa berbagai sinyal vital semacam EMG dan ECG. Begitu juga bisa digunakan untuk memperjelas serangan epilepsi.
Dalam penelitian kali ini, entropi fuzzy (kabur) digunakan untuk memprediksi serangan epilepsi dengan cara dari penderita ke penderita.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode usulan ini jika dibandingkan dengan penelitian terbaru, menggunakan data-data epilepsi terdahulu yang lebih sedikit untuk pendidikan dan mencapai hasil yang mirip.
Para dokter di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat melakukan operasi bedah pertama tulang belakang dengan bantuan robot.
Robot-robot bedah mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh dokter paling ahli.
Dalam operasi bedah ini, Sistem Pembedahan da Vinci (Da Vinci Surgical System) digunakan untuk menghancurkan sebuah tumor langka yang muncul di lokasi bersambungnya tulang belakang ke tengkorak. Operasi bedah ini memakan waktu dua hari dan dilakukan pada Agustus 2017.
Dalam operasi bedah ini, pertama dengan bantuan pemotong ultrasonik, para dokter menyiapkan tulang belakang.
Setelah itu dengan bantuan robot, mereka menyiapkan jalur untuk membunuh tumor lewat mulut pasien.
Pada tahap berikutnya para dokter bedah dengan bantuan beberapa bagian tulang pasien memulihkan bagian tulang belakang yang terpotong.
Peran robot sangat penting dalam operasi bedah ini, karena jika para dokter tidak cukup berhati-hati, mungkin saja pasien akan mengalami kelumpuhan.
Di sisi lain mereka harus yakin seluruh tumor berhasil diangkat, pasalnya jika tidak tumor dapat tumbuh kembali. Akan tetapi dalam operasi bedah ini peran dokter masih cukup besar.
Untuk pertama kalinya di dunia, dengan ditemukannya sebuah uji coba darah oleh sebuah kelompok peneliti Australia, sakit kronis dapat didiagnosa. Uji coba ini dapat mendeteksi perubahan warna sel imun karena sakit kronis.
Dengan demkian, para dokter menemukan metode baru untuk mendeteksi tingkat parahnya sakit pada pasien yang tidak bisa mereka jelaskan.
Menurut pemimpin penelitian ini, metode tersebut telah membuka jendela baru bagi sakit kronis. Alat baru ini bukan hanya bisa melakukan diagnosa lebih baik, bahkan membantu dalam menentukan dosis obat.
Para peneliti dalam penelitiannya menyadari, ketika seseorang mengalami sakit kronis, terjadi perubahan molekuler yang dapat dideteksi pada sel-sel imunnya.
Dengan menggunakan metode analisa Pencitraan hiperspektral (hyperspectral imaging analysis) para dokter mendiagnosa penanda-penanda sakit setiap saat.
Dengan kata lain, para dokter berhasil membaca tingkat fluktuasi atau sensitivitas sakiat pasien dan segera menentukan dosis obat Analgesik yang sesuai.
Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa sel-sel imun memainkan peran penting dalam sakit kronis.
Artinya para peneliti tidak hanya memusatkan perhatian pada penyediaan obat-obat analgesik yang menyasar sistem saraf, tapi mereka juga bisa berkonsentrasi untuk mematikan reaksi sakit dalam sel-sel tersebut.[]