Feb 18, 2019 15:59 Asia/Jakarta
  • apotik di Iran
    apotik di Iran

Para peneliti Universitas Tarbiat Modarres, Iran dengan menggunakan sejenis nano adsorben, merancang sebuah metode untuk mengukur kadar obat dalam jumlah yang sangat rendah dari sampel biologis dengan tingkat kebenaran dan akurasi tinggi.

Metode Solid-phase extraction (SPE) merupakan salah satu metode yang paling banyak kegunanaannya dalam hal ini jika dibandingkan dengan metode-metode tradisional, metode ini juga terjangkau dan beroperasi lebih cepat.

Oleh karena itu, dalam penelitian ini dengan memanfaatkan fungsi sejenis nano adsorben, dikembangkan sebuah metode dengan tingkat kebenaran dan akurasi tinggi serta bersandar pada SPE untuk mengukur dan menentukan kadar obat ionik yang sangat rendah.

Menurut salah satu staf pengajar Universitas Tarbiat Modarres, selama penelitian dilakukan, metode SPE digunakan di dalam sebuah tabung yang dipenuhi nano adsorben disertai pemberian tegangan listrik untuk menganalisa acidic drugs dalam sampel-sampel biologis seperti sampel urin dan plasma.

Setelah tahap-tahap perancangan metode dan optimalisasi selesai dilakukan, dikaji efektivitasnya untuk mengukur obat-obatan Mefenamic acid dan Diclofenac acid pada sampel-sampel plasma hakiki dan urin.

Hasil yang diperoleh menunjukkan, metode yang diusulkan dapat mengukur dengan akurat dan benar obat-obatan ionik pada sampel-sampel biologis.

Menurut para peneliti, inovasi proyek penelitian ini adalah penggunaan sebuah tabung yang penuh dengan nano adsorben, selain memberikan tegangan listrik. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah internasional Talanta tahun 2018.

Sejumlah peneliti Iran dikabarkan sedang memproduksi ragi yogurt dan keju yang dapat mengurangi alergi.

Menurut keterangan Badan Kesehatan Dunia, WHO munculnya alergi karena memakan beberapa jenis makanan, merupakan masalah keenam yang mengancam kesehatan manusia.

Alergi terhadap susu sapi merupakan alergi makanan yang paling banyak dialami manusia.

Masalah ini banyak ditemukan pada anak-anak, karena saluran pencernaan dan sistem kekebalan tubuh mereka belum sempurna.

Alergi terhadap susu sapi dialami oleh sekitar lima persen populasi anak-anak, dan jumlah ini termasuk tinggi.

Susu, karena merupakan makanan yang sempurna dan mengandung nutrisi tinggi dan dibutuhkan tubuh, sangat perlu untuk dikonsumsi setiap hari guna memenuhi asupan tubuh.

produk susu

Protein seperti Beta-lactoglobulin, alpha-lactoglobulin dan kasein terkandung dalam susu sapi, di disi lain dapat menimbulkan alergi terhadap makanan yang mengandung nutrisi tinggi ini.  

Para peneliti Iran untuk mengatasi masalah ini memisahkan bakteri asam laktat dari produk susu asli Iran dan memilih yang terbaik dari sudut pandang Proteolisis.

Bakteri-bakteri asam laktat dari produk susu tradisional dapat membunuh protein-protein penyebab alergi susu karena karakteristik proteolisis yang dimilikinya.

Tujuan akhir dari penelitian ini adalah mengenalkan bakteri-bakteri yang selain dalam negeri juga memiliki karakteristik proteolisis tinggi sehingga dapat digunakan untuk memproduksi ragi yogurt dan keju bagi produk-produk susu yang bisa menurunkan alergi.

Para peneliti di Institut Francis Crick, Inggris semakin dekat ke pengenalan gen penyebab serangan dini penyakit Alzheimer terhadap para pengidap Sindrom Down.

Para peneliti mengatakan, dari setiap 800 orang, satu orang terlahir dengan penyakit Sindrom Down, orang-orang ini memiliki kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21.

Sekitar dua pertiga dari mereka, saat menginjak usia 60 tahun akan terserang penyakit Alzheimer secara dini.

Menurut laporan-laporan resmi, tingginya angka penderita Alzheimer pada para penderita Sindrom Down disebabkan oleh sebuah protein bernama Amyloid precursor protein (APP) pada kromosom 21.

Kromosom 21 mengandung 231 gen. Akan tetapi gen APP sedikit berbeda karena berperan memproduksi protein-protein prekursor amiloid di otak para penderita Alzheimer.

Pada penelitian ini, para ilmuwan saat melakukan uji coba terhadap seekor tikus yang terkena Sindrom Down memahami bahwa kelainan genetik pada kromosom 21 yang lain, juga menyebabkan peningkatan kerusakan otak penderita Alzheimer dan gangguan kognitif pada tikus.

Menurut kepala tim penelitian ini, untuk pertama kalinya kami berhasil membuktikan bahwa seluruh gen kecuali gen APP berperan dalam munculnya Alzheimer dini pada para penderita Sindrom Down.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan membandingkan tikus-tikus yang memproduksi protein APP dengan atau tanpa kromosom 21 manusia, sehingga peran APP dan gen-gen lain penyebab penyakit Alzheimer dapat diidentifikasi secara terpisah.

Para peneliti memahami tikus-tikus yang memiliki salinan dari seluruh gen yang ada di kromosom 21, dilengkapi dengan Amiloid Beta dalam level yang tinggi dan trombosit protein yang lebih banyak di dalam salah satu bagian otak yang meningkatkan amiloid beta dan trombosit dalam otak tikus tersebut.

Mereka juga memahami bahwa tikus-tikus ini memproduksi satu jenis protein amiloid khusus yang lebih rentan.

Penemuan para peneliti ini di masa depan dapat membuka akses ke obat-obatan pencegah penyakit Alzheimer pada para penderita Sindrom Down, dan membuka visi baru terkait mekanisme penyebab demensia atau kemunduran fungsi intelektual manusia.[]