Aug 02, 2019 09:55 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 2 Agustus 2019

Hari ini, Jumat 2 Agustus 2019 bertepatan dengan 30 Zulkaidah 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 11 Mordad 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

 

Imam Jawad  as Gugur Syahid

1220 tahun yang lalu, di hari terakhir bulan Dzulqadah tahun 220 Hijriah, Muhamad Taqi bin Ali al-Jawad, imam kesembilan para pengikut Ahlul Bait, gugur sebagai syahid di tangan musuh-musuh Islam.

Imam Jawad adalah generasi kedelapan keturunan Rasulullah Saw. Beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 195 Hijriah.

Setelah ayahandanya Imam Ali Ridha as gugur di tangan Khalifah Makmun, Imam Jawad as menerima tampuk imamah atau kepemimpinan atas umat Islam. Pada masa imamah Imam Jawad, ilmu-ilmu keislaman tengah berkembang pesat dan faham-faham baru dari dunia luar seperti berbagai aliran filsafat Yunani mulai masuk kepada masyarakat Islam. Sebagai orang yang dikenal memiliki ilmu sangat tinggi, Imam Jawad menjadi pusat kunjungan para ulama dan cendekiawan muslim yang ingin mempelajari ilmu-ilmu keislaman.

Imam juga aktif mengadakan berbagai pengajian dan majelis-majelis diskusi dengan para ilmuwan zaman itu. Dalam berbagai kesempatan, Imam juga secara konsisten menunjukkan berbagai kebobrokan pemerintahan represif Bani Abbasiah saat itu. Tindakan-tindakan politik Imam Jawad inilah yang membuat gerah kalangan istana yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Mu'tasim.

Akhirnya, Mu'tasim mengambil langkah pintas namun keji untuk membungkam gerakan Imam Jawad as dengan cara membunuhnya. Imam Jawad gugur sebagai syahid menyusul jejak langkah ayahanda dan para pendahulunya pada usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun. Berikut ini salah satu hadis yang diriwayatkan dari beliau, "Siapapun yang beramal tanpa pengetahuan, ia pasti tidak akan mampu melakukan perbaikan. Alih-alih melakukan perbaikan, ia malah akan melakukan kerusakan".

 

Imam Khomeini

Imam Khomeini Menjalani Tahanan Rumah Davoodieh

56 tahun yang lalu, tanggal 11 Mordad 1342 HS, Imam Khomeini ra menjalani tahanan rumah di daerah Davoodieh, Tehran

Penahanan Imam Khomeini ra dan penumpasan Kebangkitan 15 Khordad 1342 HS, Imam pada awal ditahan di Bashgah Afsaran, namun beberapa jam kemudian beliau dipindah ke Garnisun Qasr. Pada 4 Tir 1342 HS, kembali beliau dipindahkan ke pangkalan militer Eshrat Abad. Setelah berlalu beberapa waktu dan kondisi sudah lebih membaik, rezim Shah Pahlevi berusaha mencari jalan agar dapat meredam demonstrasi rakyat yang menuntut pembebasan Imam, tapi pada saat yang sama Imam tidak diperkenankan hadir di tengah-tengah rakyat. Untuk itu mereka memindahkan beliau dari penjara Eshrat Abad dan menahan beliau di sebuah daerah di bawah pengawasan SAVAK

Sesuai dengan keputusan ini, SAVAK kemudian mendatangi Imam Khomeini dan menyatakan pembebasannya dan meminta beliau untuk tidak ikut campur urusan politik. Tapi Imam menjawab dengan singkat permintaan itu. Beliau berkata, "Kami sejak awal tidak pernah ikut campur dengan politik yang kalian artikan sebagai kelicikan dan kebohongan." Akhirnya pada 11 Mordad 1342, setelah dipenjara selama 57 hari, Imam Khomeini ra dipindahkan di sebuah rumah di kawasan Davoodieh, Tehran.

Sekalipun pada awalnya maksud rezim Pahlevi dari langkah pemindahan ini untuk mengontrol lebih ketat Imam Khomeini di luar penjara, tapi setelah rakyat mengetahui hal ini tanpa takut mendatangi rumah tempat baru Imam yang dipersiapkan SAVAK. Sehari setelah pemindahan Imam ke Davoodieh, surat-surat kabar Iran oleh SAVAK diperintahkan untuk menyebutkan bahwa pemindahan Imam ini berkat kesepakatan antara beliau dan para pejabat keamanan. Tapi konspirasi ini dengan cepat terbongkar dengan pengumuman dan pernyataan yang dikeluarkan oleh para marji dan ulama.

Imam Khomeini ra berada rumah itu hingga bulan Farvardin tahun depannya dan itu berarti beliau menjadi tahanan rumah selama 8 bulan. Beliau akhirnya dibebaskan pada 18 Farvardin 1343 HS.

 

Irak Dipastikan Gunakan Senjata Kimia Terhadap Iran

31 tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus 1988, komisi penelitian PBB yang dikirim ke Iran dan Irak, dengan mengeluarkan dua laporannya, menyatakan bahwa Irak selama peperangan melawan Iran telah berkali-kali menggunakan senjata kimia.

Ini adalah pengakuan terang-terangan pertama dari PBB mngenai penggunaan senjata kimia tentara Irak terhadap Iran. Namun, Dewan Keamanan PBB sama sekali tidak mengeluarkan resolusi apapun dalam menanggapi penggunaan senjata kimia ini.

Senjata kimia yang digunakan secara luas dan menyerang tidak saja tentara Iran, melainkan juga rakyat sipil Iran, sama sekali tidak ditanggapi oleh PBB. Alasannya adalah demi melindungi kepentingan Barat yang bekerja sama dengan Irak dalam memproduksi senjata kimia tersebut.

Oleh karena itulah, beberapa jam setelah laporan tersebut disiarkan, kota Ashnawieh di bagian barat Iran dibombardir dengan bom kimia dan melukai 2400 penduduk kota itu. Komisi penelitian PBB juga mengakui adanya penyerangan bom kimia di Ashnawieh yang dilakukan setelah diadakannya perjanjian gencatan senjata antara Irak dan Iran ini.