Aug 05, 2019 09:50 Asia/Jakarta
  • 5 Agustus 2019
    5 Agustus 2019

Hari ini, Senin 5 Agustus 2019 bertepatan dengan 3 Dzulhijjah 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 14 Mordad 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Nabi dan Sahabat Tiba di Mekah Guna Menunaikan Hajjatul Wada

1430 tahun yang lalu, tanggal 3 Dzulhijjah 10 HQ, Nabi Muhammad Saw dan para sahabat tiba di Mekah untuk menunaikan Hajjatul Wada.

Hajjatul Wada

Setelah menyiapkan segala kebutuhan selama perjalanan menunaikan Hajjatul Wada (Haji Perpisahan), Nabi Muhammad Saw bersama Sayidah Fathimah Zahra dan seluruh isterinya pada tanggal 26 Dzulqadah, sebagian menyebut 25 Dzulqadah, keluar dari kota Madinah.

Dalam perjalanan penuh spiritual ini, ada sekitar 104 ribu atau 124 ribu sahabat yang menyertai beliau. Sementara di Madinah, Rasulullah Saw menetapkan Abu Dujanah sebagai pengganti posisi beliau selama melakukan ibadah haji.

Rombongan Hajjatul Wada membawa lebih dari 60 hewan korban. Pertama mereka menuju daerah Dzul Hulaifah dan kemudian berihram di Masjid Syajarah. Setelah itu mereka berangkat menuju kota Mekah.

Imam Ali as bersama rombongannya juga berangkat dari Yaman ke Mekah. Beliau menetapkan seorang dari sahabatnya untuk menggantikan posisinya memimpin pasukan Islam di Yaman. Mereka dengan cepat bergerak menuju Mekah. Imam Ali as menemui Rasulullah dan rombongan di dekat kota Mekah.

Nabi begitu gembira melihat Ali bin Abi Thalib telah sampai dan bergabung dengan rombongan Madinah. Kemudian pada tanggal 3 Dzulhijjah 10 HQ, Nabi bersama rombongan memasuki kota Mekah. Ini adalah untuk terakhir kalinya Nabi Muhammad Saw menziarahi Mekah.

Mozaffaruddin Shah Mengeluarkan Perintah Konstitusi

113 tahun yang lalu, tanggal 14 Mordad 1285 HS, Mozaffaruddin Shah mengeluarkan perintah Konstitusi dan mendirikan Majelis Dewan Nasional.

Mozaffaruddin Shah

Ketika Mozaffaruddin Shah naik tahta, kerajaan begitu korup, kemiskinan dan ketidakadilan terlihat di mana-mana. Pada awalnya, kunci gerakan Revolusi Konsitusi bermula dari penghinaan terhadap ulama. Di sisi lain, penghinaan yang dilakukan oleh pegawai Bank Rusia terhadap kuburan umum dan jasad orang-orang yang sudah meninggal, sehingga rakyat menyerang bangunan Bank Rusia yang tengah dibangun dan merusaknya. Sementara perang antara Rusia dan Jepang menyebabkan harga gula batu membumbung tinggi. Dengan alasan ini, pemerintah menghukum mati dua orang pedagang penting di pasar Tehran. Akhirnya pasar diliburkan, rakyat dan ulama berkumpul. Masjid menjadi markas penting terbentuknya Revolusi Konstitusi.

Setelah terjadi pelbagai peristiwa, dimulailah gerakan rakyat yang mendapat petunjuk dari para ulama. Rakyat tetap melanjutkan upayanya. Salah satu tuntutan rakyat waktu itu adalah dibentuknya lembaga peradilan. Aksi mogok rakyat dan ulama di komplek makam suci Hazrat Abdul Azhim di kota Rey dan hijrahnya ulama ke Qom membuat rezim Shah perlahan-lahan mundur dari sikapnya sebelumnya.

Kebangkitan rakyat juga meluas hingga di Shiraz, Tabriz dan Isfahan. Hal ini membuat Mozaffaruddin Shah menjadi ketakutan. Akhirnya pada 14 Mordad 1285 HS (14 Jumadil Akhir 1324 HQ) ia mengeluarkan perintah Konstitusi dan mendirikan Majelis Dewan Nasional yang terdiri dari tokoh-tokoh nasional. Pemberian syarat kepada ulama, yang telah meninggalkan Iran berakhir dengan sambutan luas rakyat.

Sekalipun demikian, sejumlah orang, yang baik sadar maupun tidak, berlindung ke Kedutaan Besar Inggris meminta berlanjutnya imperialisme Barat di Iran. Mereka menuntut agar sistem Konstitusi yang akan dijalankan di Iran harus memakai undang-undang dan nilai-nilai Barat. Mereka tidak bersedia menjadikan Revolusi Konstitusi memakai tolok ukur hukum Islam dan ajaran Rasulullah Saw.

Bagaimanapun perjuangan rakyat Iran dan ulama di periode selanjutnya berhasil menciptakan sistem Konstitusi dan pendirian Majelis Dewan Nasional. Perjuangan ini berakhir mengakhiri monarki absolut dan kekuasaan despotik. Majelis pertama dibuka pada 18 Syaban 1324 HQ di istana Golestan yang turut dihadiri oleh Shah dan di akhir hayat Mozaffaruddin Shah, tepatnya 14 Dzulqadah 1324 HQ, UUD Iran dengan 51 pasal ditandatangani oleh Shah.

Allamah Sayid Arif Husain Husaini Gugur Syahid

31 tahun yang lalu, tanggal 5 Agustus 1988, Allamah Sayid Arif Husain Husaini, salah seorang ulama terkemuka dan pejuang Pakistan, gugur syahid akibat serangan teroris.

Allamah Sayid Arif Husain Husaini

Arif Husaini dilahirkan dalam sebuah keluarga yang relijius dan beliau kemudian menuntut ilmu ke Irak. Di Irak, Arif Husaini sempat bertemu dengan Imam Khomeini yang tengah menjalani masa pengasingan dan ia banyak mengenal pemikiran-pemikiran revolusi Imam Khomeini.

Ketika Revolusi Islam di Iran mencapai puncaknya, Arif Husaini juga hadir di Iran dan bergabung bersama rakyat Iran untuk berjuang menggulingkan rezim Syah Pahlevi yang despotik. Akibatnya, Rezim Syah mengusir Arif Husaini kembali ke Pakistan. Di tanah airnya, Arif Husaini aktif dalam penyebaran ajaran Islam, teruatama dalam upaya menciptakan persatuan di antara berbagai mazhab di Pakistan. Namun, perjuangannya terhenti karena dibunuh oleh teroris yang menginginkan terjadinya perselisihan terus-menerus di tengah kaum Muslimin Pakistan.